Monday, July 26, 2010

Upin & Ipin : Perangkul Kawan dan Lawan

Beberapa tahun mendatang, Upin dan Ipin mungkin akan melegenda selayaknya Unyil. Ya, Unyil, anak laki-laki berpeci dan bersarung dari desa "Sukamaju", sang drummer cilik dari band "Dekil", yang rajin tampil di minggu pagi, di tahun 80an silam itu. Saya pernah mengidolakannya.

Kini, Upin dan Ipin, duo kembar dari tanah Melayu itu mencoba menggeser posisi Unyil. Teriakan Unyil "ayo kita kemon!" makin tak terdengar gaungnya, dikalahkan suara nyaring "betul, betul, betul", khas upin dan ipin. Dengarlah, jargon upin ipin itu hampir dikenal di setiap percakapan santai, di rumah, di kantor, pun di Facebook.

Jika saya boleh mengidolakan Unyil yang penuh suri tauladan, jagoan cilik saya, Faiz, pasti pun tak mau kalah. Ia memilih mengidolakan ipin-ipin [begitu kiranya Faiz menyebut tokoh "upin dan ipin"]. Dan sepuluh hingga dua puluh tahun dari sekarang, saya yakin Faiz masih akan menyisakan kenangan upin & ipin dalam ruang memorinya.

Lebih-lebih di weekend lalu, Faiz berkesempatan menghadiri Meet and Greet bersama dubber Upin & Ipin dan Kak Ros di Ciputra Mall. Senang bukan kepalang dia ketika ada kesempatan berfoto dan bersalaman dengan idolanya. Untung, kak Ros tak galak pada Faiz. Diangsurkan tangannya, dan menyapa Faiz ramah, "Hai..". Batinnya mungkin, "aiiih, comelnya" :))

Ya, yang nampak di panggung siang itu hanyalah sosok bersahaja milik Ida Shaheera dan Aysila Putri. Judesnya kak Ros hanya boleh nyata terbaca di belakang layar. Di luarnya, seorang Ida tetaplah kakak, yang barangkali saja memang tidak galak atau judes. Pun Aysila, dia tetaplah gadis cilik umur 10 tahun. Meski di belakang layar, Aysila yang polos itu tetap membawa kepolosan dan keriangannya sebagai pribadi kembar, upin & ipin.

Dalam kisahnya, Upin & Ipin adalah pemersatu, perangkul semua kawan. Tak peduli Jarjit yang suka berpantun itu dari India, Ihsan itu kaya dan sedikit sombong, Fizi - sepupu Ihzan itu senang kebersihan, Mail suka uang, atau Mei mei itu pintar, dan Susanti si gadis cilik itu anak baru pindahan dari Jakarta. Semua kawan. Dan Upin & Ipin dengan segala kepolosannya, tak pernah mengganggap mereka sebagai lawan.

Seperti Upin & Ipin, bocah-bocah yang hadir di siang itupun polos memesona. Dalam syairnya bertajuk Gitanyali, Tagore menangkap makna,
"saat bocah-bocah itu berkumpul, mereka sebenarnya tengah bermain dan sebenarnya mencipta".
Ya, mencipta sebuah perdamaian, tepatnya. Tak peduli perbedaan yang melekat dalam diri, mereka hanya ingin bebas. Bebas dari segala label agama, ras, ataupun suku dan bersatu untuk sebuah kata damai.


Betul, betul, betul, Upin & Ipin dan kumpul bocah di siang itu sanggup melenyapkan segala perbedaan, pun melenyapkan sejenak panasnya perseteruan Indonesia dan Malaysia. Sekedar menengok ke belakang - kepulauan Sipadan-Ligitan, lagu Rasa Sayange, Reog Ponorogo hingga Batik pernah diakui sebagai milik mereka. Benci dan gemas lantas meradang di hati. Namun saat Upin & Ipin muncul, mendadak amnesia menyerang. Entah lupa sejenak atau pura-pura lupa, kita sulit ingat betapa panasnya konflik dengan tetangga sebelah pulau saat itu.

Ya, dan betul, betul, betul, Upin & Ipin telah menghembuskan angin segar yang menyejukkan. Pernyataan wakil Menteri Perdagangan Antarbangsa dan Industri, Dato Mukhriz Mahathir kepada sejumlah media, menyambut gembira apresiasi masyarakat dan sambutannya yang luar biasa terhadap serial Upin dan Ipin di Indonesia.

Hmm..Kebencian itu reda seketika. Bahwa Upin & Ipin yang kanak-kanak itu datang dengan segala kebaikannya, menjembatani perdamaian bagi dua negara tetangga yang pernah berseteru. Saya, dan para orang tua kanak-kanak itu lantas lega, menikmati damainya siang itu dalam kumpul bocah bersama Upin & Ipin.

Kita memang tak bisa ingkar, mereka datang dari negara yang dulu pernah menjadi musuh atau lawan, dan kita [saya saja, kali!] hanya bisa berandai-andai. Andai Upin & Ipin milik kita, dan andai kita bisa melakukan yang lebih baik, tentu saja karya anak bangsa semacam Petualangan Kabayan pun bisa membanggakan negeri, bukan? Tak hanya menjadi milik kita, pun menjadi milik dunia selayaknya Upin & Ipin.

Namun barangkali kita memang perlu bercermin dan bertanya pada diri sendiri, mengapa yang kita miliki bisa begitu mudah terlepas dan diakui orang lain sebagai milik mereka? Mungkin benar kiranya bahwa ego dan kesombongan telah begitu kuat mengakar hingga kebanggaan dan kecintaan pada negeri ini tak lagi ada. Kita lebih memilih hanyut dalam buaian sajian budaya hedonisme yang memabukkan, hingga kita lupa menjaga, merawat dan mengembangkan aset yang kita miliki.

Ya, ya, ya, agaknya nasionalisme dan kesetiaan terhadap negeri ini memang patut dipertanyakan.

Dan biar saja Faiz mengagumi idolanya dari seberang pulau itu. Toh saya yakin, nasionalisme Faiz tak seketika luntur. Upin dan Ipin telah mengajarnya kebaikan. Dan kelak akan saya kisahkan juga padanya tentang Unyil, Bolang dan Kabayan yang mengajarkan hal yang sama. Tentang indahnya perbedaaan, hangatnya perdamaian, dan lebih seronok [baca:asyik] mencari kawan bukannya mencipta lawan. Dan sebobrok dan seburuk apapun negeri ini, Faiz akan tetap mencintai Indonesia. Karena Faiz anak negeri, yang cinta damai dan sayang semua kawannya. Tak peduli Eki yang ambon, Bagas yang jawa atau Nisya yang sunda.


Betul, betul, betul?

di publish juga disini

Salam!


Friday, July 23, 2010

Kepada Faiz yang Meminta Adik..

Sebuah repost
Tagore berkata, "setiap anak tiba dengan pesan, bahwa Tuhan belum jera dengan manusia". Ia hembuskan nyawa-nyawa suci itu ke dunia, meski dunia makin penuh sesak.
Bahkan seorang anak yang lahir dari sebuah perzinahan pun tetaplah bayi suci. Ia tak tahu menahu, atas dosa yang dibuat kedua orangtuanya. Dan hingga kelak besar nanti, dia tahu mengapa ia dipanggil "si anak haram".

Ya, entah berapa jumlah anak manusia di negeri tirai bambu atau di tanah kita, Indonesia. Populasi yang makin bertambah, menambah pula deret masalah baru. Krisis ekonomi berkepanjangan justru makin melebar masalah ke segala sisi kehidupan. Pendidikan mahal, apalagi kesehatan, harga susu naik dan tak juga mau turun.


Adik bayiku disusui air tajin dicampur gula karena air susu ibu kering kerontang. Kau tahu, itu karena ibuku jarang makan, jatahnya ikhlas diberikan untuk kami, lima anaknya. Bukan pula keterpaksaan, karena aku bersedia hidup terlunta-lunta di jalanan demi tetap bertahan hidup, menggendong adikku yang belum genap setahun dan mengemis. Iriku mungkin juga sudah habis untuk mereka, kawanku yang menyandang tas ke sekolah dan belajar berhitung sampai bosan. Dan tidak sakit adalah berkah luar biasa, meski kami kurang gizi, dan sering kedinginan karena tidur di emperan toko, hanya beralas dan berselimut koran.

Lalu, masihkah ibu ingin menghadirkan satu lagi adik kecil untukku?..Ibu seperti tak jera, bapak apalagi.

Ya, sebuah persoalan hidup teramat pelik tergambar jelas dari dulu, dan hingga kini masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Ya, pekerjaan negara untuk mengurus anak-anak terlantar yang tak pernah selesai dituntaskan. Produsen anak pun diminta membatasi produksinya, anak cukup dua saja. Atau Cina yang lebih keras dengan "kebijakan satu anak" nya, alias ketahuan punya anak lebih dari satu, berarti wajib bayar denda kepada pemerintah.


Anak adalah anugerah, dan setiap anak miliki rejekinya masing-masing. Sesederhana itu memang jika mau diterapkan, bahwa Tuhan sudah menyediakan porsi rejeki itu untuk masing-masing anak yang terlahir. Namun saat dipraktekkan, memang bisa begitu rumit, sulit, dan njelimet. Hingga suatu hari saya pernah bosan ditanya, "kapan Faiz punya adik lagi?"

Karena aku tahu praktek tak pernah semudah teorinya. Karena saat memandangnya yang tengah terpejam, terlelap dalam tidur dan mimpi indahnya, sesungguhnya ada kecemasan yang berkecamuk di dalam benak. "Apa yang direncanakan Tuhan untukmu, sayang?" Telah Ia titipkan sang jagoan, Faiz, padaku. Ada kebahagian yang menyentak dan membuncah di dada, bahkan sang ayah terlalu bahagia, hingga ia jadi cemas sendiri. Ada takut saat menggendongmu, katanya. Tangan besarnya akan meremukkan tubuh rapuhmu.

Dan aku tahu, kau begitu kesepian, Faiz. Kau ingin adik, kan? Begitulah saat kau mengelus perut mama dan berucap, "adikk..". Ahh, aku memang ingin memberimu seorang adik, satu lagi. Perempuan atau laki-laki tak masalah, yang penting dia terlahir sehat dan sempurna.

Tapi saat melihat pengamen wanita bernyanyi lagu sendu sambil menggendong anak laki-lakinya yang tertidur, aku dilanda cemas. Bagaimana ia begitu kuat menantang teriknya mentari, bersedia melawan egonya, karena jika mau saja ia bisa kabur bersama pria lain. Ya, karena memang tak ada pilihan bagus untuknya, kecuali ia harus kuat, demi sang anak yang telah dititipkan Ia padanya.

Mama tak ingin merusak ingin dan mimpimu untuk punya adik, sayang. Mama hanya cemas, karena dunia semakin penuh sesak, penuh orang lapar. Mereka yang kenyang semakin bertambah, tapi tak mengurangi mereka yang lapar. Ada banyak kesempatan bagi yang beruntung menjadi kaya, tetapi semakin sempit kesempatan bagi yang menderita.

Ya, mungkin masih beruntung seorang Faiz dibanding anak laki-laki dalam gendongan ibunya yang pengamen. Faiz menyusu hampir tiap hari, tiap saat. Tidur lelap di kasur empuk nan hangat. Belajar berhitung bersama mama, bukan pada kenek bis yang menghitung receh. Bernyanyi lagu anak [yang sudah dihapalnya di luar kepala], sedang si anak bermain nada dengan 'rebana tutup botol' milik ibunya, dan bernyanyi lagu dewasa, yang ia sendiri tak pernah tahu maknanya.

Ah, ini hanya kecemasan mama, nak, yang mencoba berempati pada hidup orang lain. Dan mungkin cemas ini tak beralasan, karena sejatinya mama tak pernah tahu apa yang direncanakan Tuhan untukmu, untuk anak laki-laki itu, dan anak-anak lain di luar sana..

Salam!


Tuesday, July 20, 2010

Identitas Itu..

Sebuah repost

Gambar diri terpajang di sudut kiri setiap halaman Facebook yang dipunyai hampir sebagian besar penghuni bumi atau kartu nama, lengkap dengan nama, gelar, jabatan dan kedudukan, begitu mewakili identitas seseorang. Si A berpose dengan latar belakang bangunan asing di negeri orang, bagai sebuah penunjukan terang-terangan, bahwa identitasnya [dulu atau sekarang] adalah seorang perantau. Ya, dua alat ini memang layaknya media terbaik yang sanggup menunjukkan siapa "aku, kamu atau kita"

Lalu, benarkah pada dua media ini, jati diri sejatinya telah terungkap? Hmm, mungkin benar apa kata guru saya, Gunawan Muhammad. Dalam catatan pinggirnya, beliau mengatakan,
"orang sebenarnya tak tahu bahwa "diri" yang (se)-jati mustahil didapat". Karena jati diri memang tak kasat mata.
Bocah polos yang menginjak usia akhil baligh malah lebih memilih bertanya pada cermin. Bertanya dia, siapa aku?. Ia dapatkan jawabannya di depan cermin, puas dan kumat narsisnya, kala menemukan bayangan dirinya utuh dan stabil di sana.

Ya, si bocah ternyata tak menyadari ada yang tak menggenapi ke-aku-annya. Ia, sebuah unsur yang tak kasat mata, dan berada begitu dalam di balik jiwa. Dialah mimpi, nafsu dan [mungkin juga] trauma. Hadirnya hanya bisa dirasakan begitu kuat membelenggu hati, menyeruak ke dalam otak. Bayang raga di balik cermin tak akan sanggup menghadirkannya, karena cermin telah mengeliminasi unsur-unsur tak kasat mata.

Ya, cermin mungkin telah bohong. Tak ia katakan yang sesungguhnya. Seperti kisah penyihir buruk rupa yang jatuh hati pada pangeran tampan dari negeri antah berantah. Bertanya penyihir buruk rupa pada cermin, "Wahai cermin di dinding, siapakah yang paling cantik?", Cermin seakan takut menunjukkan kenyataannya, ia lantas berbohong, "tentu saja kamu, wahai putri cantik jelita". Krisis identitas telah menyerang penyihir buruk rupa, hingga ia bertanya pada cermin.

Dalam buku Amin Maalouf,
In The Name of Identitiy, identitas justru dimaknai dengan parameter yang lebih luas, meliputi inklusifitas dan eksklusifitas. Saya ambil contoh sederhana, seorang pelajar yang masuk kalangan minoritas karena dianggap lebih bodoh dari sekian banyak kawan di kelasnya. Ia justru termasuk pelajar yang ternyata paling kritis karena selalu banyak bertanya, hingga dia dianggap bodoh [nanya mulu, soalnya].

Dan dari berbagai mata lewat sudut manapun, bisa terlihat, bagaimana aku, kamu, kita memandang kedudukan masing-masing orang. Pelajar kritis tadi justru merasa dirinya yang terunik, karena tidak ada yang bisa sekritis dia bertanya. Dan si pintar tetap saja menganggap dirinya paling bisa, paling kritis.

Namun saat ditelisik lebih dalam, ke-aku-an ternyata juga memiliki unsur eksklusif, terlepas dari dia bodoh atau pintar. Sederhana saja, pelajar bodoh tadi ternyata memiliki kesamaan dengan pelajar yang pintar. Mereka sama-sama makan nasi, penggemar sepak bola dan suka menulis [mungkin]. See, meski beda, nyata-nyata ada kesamaan yang tak bisa dipungkiri melekat dalam diri, dan tak bisa terlepas. Ya, sekuat apapun kamu bilang kita berbeda, tapi kita sama, kawan.

Perumpamaan di atas secara gamblang menunjukkan fleksibelnya sebuah identitas itu. Dalam skala luas, adanya kita mau tidak mau bersentuhan dengan begitu banyak manusia dari latar yang berbeda-beda dan tidak terbatas oleh demarkasi lokasi ataupun bangsa. Ironisnya, secara individu kita terkadang menolak dikelompokkan dalam satu kelompok karena merasa berbeda dari yang lain.

Ya, identitas memang tak pernah datang sendiri, ia membawa serta pembanding-pembandingnya. Ke-aku-an atas nama suku, ras, dan agama, inilah yang lalu menjadi sekat dan tembok yang memang sengaja dibangun tegak berdiri dalam masyarakat. Akibat peng-kotak-an, maka identitas pun lalu jadi semakin nyata berbeda satu dengan yang lain. Ya, dan perbandingan memang selamanya akan menjadi mata rantai yang tak pernah bisa diputus.

Bicara identitas, mengingatkan lalu pada sebuah pertanyaan yang pernah mampir pada saya, dulu. "kamu Jawa ya?..". Heran saja saya dengan pertanyaan seorang kawan. Kalau wajah saya sedikit oriental, mata sedikit sipit, kulit sedikit pucat dan gaya bicara mirip pedagang di pasar Gang Baru? Sebuah kesalahan ya jika saya bilang bukan dari etnis itu tapi dari etnis ini?

Ya, benar memang kata James Baldwin, pengarang dari New York, yang hitam, yang gay, dan yang melarat, yang memilih meninggalkan Amerika dan hidup selama 10 tahun di Eropa.
"Identitas ditanya hanya ketika ia terancam, atau ketika si orang asing datang memasuki gerbang." ;)
-260610-

Salam!

Friday, July 16, 2010

Harap dan Cinta untuk Tari

Sebuah repost

SAYA, kamu, dia, pun Cut Tari adalah pribadi dalam dua sisi, hitam dan putih. Kami pernah berbuat baik [meski mungkin jarang sekali diingat], dan lebih sering menjadi tempat alpa, khilaf dan salah.

Itu karena kami berjalan di atas jalan kehidupan yang tak selalu mulus. Adakalanya kami tersandung batu atau tertusuk duri hingga kaki ini terluka. Kami lantas menangis, dan menyesali memilih rute yang salah. Dalam kelukaan, kami mengadu pada Tuhan, sang navigator kehidupan. Dan Dia hanya tersenyum, "dari jalan yang salah ini, sesungguhnya aku sedang 'memperkaya' dirimu"

Ya, ini memang seperti refleksi dari kisah Tari. Bahwa luka, tangis dan sesalnya bisa menjadi cermin bagi kita. Bahwa kita mungkin pernah menjadi Tari, yang khilaf dan lalu menyesal. Bahwa sebuah kesalahan sanggup mengubah total keseluruhan diri, menjadi pribadi yang baru.

Kasus video intim itu adalah aibnya, dosa dari masa lalu Tari. Jika saja bisa, jika saja mampu, inginnya menutupi borok itu. Namun Tari sadar, ia milik publik, dan pada publiklah Tari diminta bertanggung jawab, dan meminta maaf.

Ya, Tari yang dulu kenes, manja dan sensual itu memang sudah menghilang. Yang terlihat sekarang, hanyalah Tari yang malu, bingung dan cemas.

Tari bagai dipaksa meloncat ke lorong waktu, kembali ke masa itu, saat desah manjanya pada Ariel terekam jelas di ingatannya, pun belaian lembut tangan kekar Ariel yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya itu masih terasa menyentuh kulit raganya. Raga yang seharusnya hanya milik Jusuf Subrata.

Dan kini di hadapan puluhan kilatan
blitz kamera yang 'menelanjanginya', Tari terbata-bata memohon maaf, pada petinggi negeri, pada masyarakat, pada suami yang mematung tegang di sampingnya. Ya, sekuatnya Tari mencoba tegar meski maaf itu mungkin saja belum cukup. Bahwa setelah permintaan maaf ini, Tari masih tak tahu bagaimana kehidupannya kelak di masa depan. Bagaimana dengan Jusuf Subrata - suaminya, Sydney - gadis kecilnya, ibu, dan keluarga besarnya.

Ia bahkan belum tahu jawaban apa yang harus diberikan pada Sydney saat dia bertanya, "kenapa mama menangis?, kenapa orang-orang itu membenci mama?" Ah ya, langkah Tari tertatih bagai dibebani berton-ton rasa bersalah yang memberat dipundaknya, dan dosa itu dirasa tak akan tertebus di sisa umurnya.

Jerat pasal pornografi pun siap mengantar Tari menghabiskan harinya di hotel prodeo, dan hukuman masyarakat bagai cambuk, sudah terlebih dulu menghantam keras punggungnya hingga berdarah-darah.

Namun, Tari sejatinya masih lebih beruntung. Pengakuannya, kata maafnya bagi seorang Jusuf, sudahlah lebih dari cukup. Bahwa keberadaannya disamping Tari adalah bukti, cintanya masih belum habis untuk Tari. Dan bolehlah kita semua berharap, tak terkecuali Tari dan Jusuf, bahwa harapan seiring waktu, cinta itu pasti akan bertambah dan semakin menguat.

Kejujuran [yang meski menyakitkan] itulah kelegaan Jusuf, pun kebanggaannya. Bukan menyoal bagaimana kasus ini sudah merebak menjadi isu nasional yang menyebar ke seantero negeri, bukan juga kebanggaan Jusuf, tubuh istrinya dinikmati beribu-ribu pengunggah dan pengunduh video intimnya. Adalah kelegaan dan kebanggaan Jusuf, istrinya yang dulu khilaf telah berani berbesar hati untuk mengakui dan meminta maaf, pun bertanggung jawab atas benih yang ia tuai.

Saya tak mau berprasangka buruk, bahwa Tari hanya sedang mencari simpati atau tengah berakting, seperti juga kita tahu, dia adalah pelakon dalam frame layar kaca. Lukanya, dukanya, tangisnya, sanggahnya bukan kamuflase, karena dia, Tari memang tengah melakoni skenario Tuhan. Menjadi yang dulu dipuja dan kini dihina.

Betul kiranya sebuah ungkapan lama, yesteday is history, tomorrow is future (maybe it will never come) and today is present. Kasus yang menimpa Tari saat ini adalah sejarah yang tak akan pernah dilupakannya. Meski menyakitkan, namun sanggup menamparnya keras, membuatnya tersadar dan belajar, bahwa Tuhan sedang membantunya berproses, "memperkaya" dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.

Ya benar, bahwa kisah masa lalu memang sanggup "memperkaya" kita di masa depan..dan ibarat buku, masa lalu adalah referensi terbaik, karena disanalah segala pengalaman ditemukan.

Dari buku klasik nan jadul dan usang itulah kita sebenarnya diharapkan belajar. Bahwa sebuah kesalahan dimasa lalu cukup menjadi catatan saja disana, bukan menjadi beban. Dan lepaskan beban itu dan tinggalkan saja di masa lalu, karena setiap hari akan selalu ada pintu yang terbuka untuk kita, karena selalu ada orang lain yang bersedia membuka pintu itu. Pintu maaf dan pintu pengharapan bagi saya, kamu, dia, pun Cut Tari.

Dan Jusuf adalah harapan Tari, bahwa pintu Jusuf masih terbuka untuknya, dan cinta itu memang belum habis untuk Tari.

Salam!


Thursday, July 15, 2010

Pagi, Pemanis Hidup

Sebuah repost

Pagi, ibarat gula - pemanis hidup. Karena hidup kadang pahit, kejam terasa bagai kopi hitam tanpa gula.

Suasana pagi mengingatkan pada gambar masa kanak-kanak, lukisan pagi. Semburat cahaya emas matahari yang muncul dari timur, ayam jantan menyeru, celoteh burung pipit mencicit. Pohon basah seperti habis keramas, dibasahi embun dari pucuk daun menjalar ke seluruh dahan rantingnya.

Rumah yang terlihat tenang di luar, sudah terlihat sibuk di dalam. Para penghuni bumi seperti reflek, tergerak bak mesin otomatis, menjalani aktivitas seragam. Dari kasur beralih ke dapur lalu ke sumur.

Ya, pagi selalu punya makna yang bagus. Ialah pembawa semangat, penguat bagi yang kehilangan asa. Karena bertemu pagi, adalah kesempatan bertemu dengan esok, esok yang seharusnya lebih baik dari kemarin, bukan?

Pagi selalu sanggup menampilkan aura positif, ia membuang jauh segala yang kejam tentang semalam. Manusia terlihat jernih, bersih, meski masih kopetan. Bahkan wanita yang selepas bangun pagi, mendadak terlihat sangat natural, begitu cantik. Bibirnya dihiasi garis lengkung, menyapa dia manis, "morning, dear?"
Anak-anak berangkat sekolah pun tampil riang. Kesegaran mereka seakan tak pernah bohong, meski semalam, mungkin mereka baru saja dihajar, dirajam habis-habisan, belajar hingga larut. Sayang, ada juga anak-anak yang tak kebagian keriangan itu.

Semangat, keriangan dan senyum itu pun lantas bagai virus, menular, menjalar jauh. Lihat perempuan malam selesai bertugas semalam. Pulang, menenteng tas, menjinjing sepatu hak tinggi, berjalan sempoyongan, dengan bekas gincu yang menempel kacau di sekitar bibirnya. "Semalam, pasti habis dilumat", pikir segerombolan laki-laki di pangkalan ojek.

Perempuan malam hanya tersenyum.."aku memang lelah, tapi sebuah senyum untuk kalian adalah pahala kan?" dan setidaknya aku bukan pendosa berat yang tak punya amal apapun di dunia ini.

Ya, kita tak bisa memang selalu pahit bagai kopi hitam tanpa gula. Dan pagi setidaknya memberikan pengharapan itu, semangat itu.

180610

Salam!


Wednesday, July 14, 2010

Hudson

Sebuah repost

Hudson. Lengkapnya Hudson Prananjaya. Bukan, dia bukan anak almarhum Prananjaya, pemilik sekolah musik terkenal 'Bina Vokalia' itu. Begitulah dia pernah ditanya Astri, salah seorang juri 'Indonesia Mencari Bakat' pada saat itu, tentang hubungannya dengan Prananjaya. Dengan suara baritonnya, Hudson menjawab, "Prananjaya adalah nama pemberian orang tua saya". "Harapan mereka, saya bisa seterkenal Prananjaya".

Harapan itu rupanya sudah akan menjadi terkabul, karena mata Indonesia memang sedang tertuju pada Hudson saat ini. Dialah sekian dari banyak kontestan yang tengah bertarung menjadi yang terbaik di ajang kontes 'Indonesia Mencari Bakat'. Bolehlah dibilang sebagai penampil bakat, Hudson memiliki keunikan yang saya bilang luar biasa.


Penampilan pertamanya mampu memukau saya. Dialah yang sanggup membuat mulut saya terngaga membulat tak sadar, dan mengucap lirih 'wow'. Ia sanggup menyihir Tantowi Yahya, Sarah Sechan bahkan Titi Syuman yang hadir kala itu sebagai juri di Indonesia Mencari Bakat. Mereka yang mungkin sebagian tak paham lirik dan makna lagu jawa, seakan tak peduli dengan lagu 'Gethuk' yang dinyanyikan Hudson. Yang penting penjuri terhibur, pun penonton.
Applause
mereka mengikuti irama musik khas Jawa itu bahkan menggema di seantero ruangan. Hudson telah sukses memberi penghiburan, dan kami ternikmati aksinya.
Hudson bukan pelaku transgender, itu pasti. Dia pria tulen dengan suara baritonnya yang yah bisalah saya nilai, seksi ;) Seperti manusia berkepribadian ganda, Hudson sanggup melakukan 'peralihan' nya. Dia mampu mewujud menjadi setengah lelaki dan setengah wanita. Sesaat tampil sebagai Hudson yang gagah berwibawa, bersuara bariton yang powerful, dan lantas membalik cepat menjadi Jessica, si wanita lembut, bersuara falseto (teknik bernyanyi untuk menjangkau oktaf tinggi) yang merdu bak penyanyi opera dan tampil dengan segala feminitasnya.

Saya mengamini guyon Helmy Yahya sesaat setelah Hudson tampil menyanyikan 'Love Story' milik Andi Williams. "Bersyukurlah wanita yang mendapatkan kamu sepaket.." Kelakar Helmy. Ya, Hudson barangkali memang tak perlu susah-susah mendapatkan cinta seorang hawa, karena keunikan dan bakat yang dimilikinya, saya yakin telah menyelipkan perasaan kagum pada diri sebagian kaum hawa, termasuk saya :))


Meskipun inginnya menjadi penyanyi berkonsep
two faces berbekal teknik vokal yang sudahlah mumpuni, Hudson sepertinya berbakat pula menjadi seorang aktor. Dia mengingatkan saya pada karakter 'Mrs. Doubtfire' yang diperani Robin Williams dan 'Tootsie' yang diperankan Dustin Hoffman. Bukan hal gampang kan?, menjadi dua pribadi dalam satu waktu. Setidaknya Hudson, Robin dan Dustin punya performa maksimal untuk melakoni dua peran yang berbeda.

Salam!





Seks, Video dan Publisitas

Sebuah repost

Masih menghangat video intim pasangan 'mirip artis' itu bertebaran di jagad maya. Gambar hidup yang selayaknya disimpan untuk konsumsi pribadi malah laris manis dinikmati publik bak kacang rebus. Diunduh dan lalu disebarkan, dan kini dikomersilkan. Berita 'panas'nya bahkan masih menjadi trending topics di situs micro blogging, semacam Twitter dan Facebook.

Pelakon pria dan wanita utama di dalamnya ditengarai adalah pesohor negeri ini. Hebatnya, ditelisik lebih mendalam, sang pria dalam video intim itu dikabarkan memiliki lagi berpuluh video private-nya dengan sejumlah wanita, teman tidurnya. Lalu benarkah, si pria memiliki perilaku seks yang menyimpang?

Pakar seksologi, Dr. Boyke Dian Nugraha menilai orang yang membuat video porno diri sendiri termasuk dalam penyimpangan seksual, yaitu scopophilia. Scopophilia sendiri berasal dari bahasa Yunani, scopos, berarti melihat, dan philia yang bermakna kesenangan. "Jadi, mendapat kesenangan seksual dengan melihat objek erotis," jelas Boyke.

Penyimpangan seksual ini bisa dikaitkan dengan unsur narsisme, atau kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri. Dari kacamata psikologi, perilaku narsis pada seks ini terpengaruh karena dorongan / kecenderungan untuk memamerkan bagian tubuhnya, atau yang akrab disebut exhibitionism. Pamer tubuh inilah yang menjadi salah satu upaya pelaku untuk membirahikan diri.

Seperti yang diungkap pada buku klasik Dictionary of Psychology (ed, Howard C. Warren), dalam kesehariannya, pelaku ekshibisionisme justru terlihat kentara pada kaum hawa, meski kecenderungan seperti itu tidak mereka sadari muncul di alam bawah sadarnya dan bersifat kompulsif atau sukar dihindari/ditolak.

Lalu, jika banyak wanita senang tanpa sadar membiarkan tubuhnya dinikmati mata pria yang seakan 'menelanjangi', maka kebanyakan pria pun lantas merasa terbirahi dengan menikmati dan memandang kemolekan tubuh lawan jenisnya. Hal inilah yang lalu memunculkan fenomena lain, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu scopophilia.

Dengan memahami dua kata kunci di atas, ekshibisionisme dan scopophilia, maka proses take and give pun telah berjalan. Ada pihak yang senang pamer, dan ada pihak yang gemar menikmati. Ya, hubungan mutualisme dalam seks itu telah terwujud. Namun, adakah hubungan mutualisme jika menilik kasus video 'panas' yang santer beredar saat ini?

Ya, tentu saja ada. Keberuntungan sekaligus kepuasan itu ada pada perekam gambar. Sebagai pelakon sekaligus pelaku scopophilia, dirinya merasa puas, karena inilah sarana tepat untuk membangun perasaan hebat dan percaya diri. Kepuasan yang menjadi obat manjur atas penyakit rendah diri yang pernah hinggap dalam diri pelaku.

Lantas, bagaimana dengan para 'korbannya'? Kesediaan para wanita dikorbankan (baca:direkam) tak lepas dari peran mereka yang ikut pula menikmati keintiman itu. Mereka turn on dan tersebutlah mengalami sexual addict, sebentuk perasaan ternikmati, terpuaskan bahkan terangsang, hingga akhirnya mereka tak kuasa menolak untuk 'dikorbankan'.

Sayang, pengorbanan mereka akhirnya justru malah membuat mereka buntung. Momen intim yang unforgetable itupun harus jatuh ke tangan yang salah, 'ketelanjangan' mereka dinikmati gratisan, digandakan dan lantas diperjualbelikan dengan harga yang sangat-sangat miring. Seks adalah hal yang sangat intim dan pribadi, namun kenyatannnya narsisme berbuah publisitas menjadikan seks tak lagi privasi. Kecanggihan teknologi telah membuat sebagian orang menuntaskan kenarsisan itu dengan cara yang salah. Lalu haruskah video tape dan kamera kita musnahkan saja?

Ya, kasus video sex 'mirip artis' yang beredar saat ini telah mengingatkan saya pada judul sebuah film "Sex, Lies and Videotape" Bahwa seks dalam video tape itu bukanlah sebuah kebohongan kepada publik, toh, video itu nyata-nyata sudah beredar cepat ke seantero negeri.

Jadi sekali lagi, memang menjadi hak sepenuhnya bagi Anda dan setiap pasangan manapun untuk mengabadikan setiap momen intimnya. Namun bijak kiranya jika Anda bersedia menahan diri, apapun alasannya. Karena sebuah hasrat hendaknya jangan terlalu dipenuhi, karena bisa berdampak buruk, menyesatkan.

Salam!

Tua atau Muda, Itu Soal Pilihan

Sebuah repost

Pernah muda dan belum ingin menjadi tua..aiiih gegara mendengarkan desah suara manja BCL menyanyikan lagu 'Pernah Muda' saya pun terinspirasi menuliskan status itu di facebook, beberapa waktu lalu.

Siapapun yang tua memang pernah merasa muda, sedang yang muda tak akan berharap menjadi tua. Titik Puspa di usianya yang mendekati senja, meski rela dipanggil eyang tapi jiwanya tak pernah ingin menjadi tua. Dan tak usah jauh-jauh memandang yang lain, mama saya adalah contoh terdekat. Tahun ini usianya genap 58 tahun. Saya boleh bangga, mama saya masih terlihat cantik, meski kerut halus menghiasi sudut-sudut wajahnya, tapi itu tak menyinggirkan kecantikan mama yang terpancar, abadi.

Bertanya si anak bengal pada mama di suatu waktu, "apa sih rahasianya mama masih terlihat awet muda?". Saya tahu persis mama saya bukan tipe wanita yang rajin ke salon untuk sekedar facial atau merawat kuku, tangan dan kaki. Wanita paruh baya ini lalu berbagi rahasianya, "ikhlas dan merasa bahagia setiap saat, itu saja". Sesederhana itu kah? sedang bagi saya meraih ikhlas masih sangat sulit diaplikasikan dalam hidup.
"Urip kuwi ora usah ngoso, cah ayu". (red- hidup itu tak perlu ngoyo). Ini salah satu pesan penting mama pada saya. Jalani saja, nikmati dan lalu syukuri apa yang sudah di dapat. Toh, Tuhan sudah memberikan porsinya dengan adil. "Jika kamu sudah mengamalkan itu, bahagia dan ikhlas akan mudah kamu raih"
Ke-tua-an bagi mama bukan suatu kelemahan dan lantas membuatnya tak lagi aktif. Julukan si lincah mungkin tepat disandang mama. Beliau tak pernah bisa diam di tempat. Sepertinya otak, mata yang tajam, serta tangan dan kakinya yang kuat selalu dipaksa untuk aktif. Bahkan sakit apapun itu tak pernah membuatnya tertahan seperti dibelenggu rantai.

Cara bicaranya tegas, namun tetap mengesankan lembut. Beliau mendidik kami bertumbuh dan berkembang dengan cambukan disiplin ketat layaknya tentara. Dan meski beban memberat di pundaknya, tapi itu tak menyurutkan langkah beliau untuk maju melangkah melakoni hidup.

Menua tak berarti melemah. Acap kita dengar orang menggunakan ketuaannya sebagai alasan untuk tidak produktif, boleh alpha, bahkan khilaf. Justru 'ngunduri tuo', seharusnya bijak, makin memperbanyak amal demi menumpuk pundi-pundi pahala. Inilah bekal jawaban di akhirat kelak saat ditanya Tuhan tentang hidup dan kehidupannya di dunia.

Menilik kehebatan Hugh Hefner sang bos playboy memacari banyak gadis, atau Datuk Maringgih yang keukeuh menikahi Siti Nurbaya meski dia merenta dimakan jaman, membuat saya berpikir, pantaslah duo dynamic ini dilabeli si Tua-tua Keladi, makin tua justru makin menjadi. Ke-tua-an tak membuat mereka memudar, justru makin gahar. Bahwa mereka merasa masih pantas disebut hebat.

Ahh..dunia memang sudah makin menggila..

Hugh Hefner dan Datuk Maringgih boleh saja ingin dibilang hebat, namun menolak fisik menjadi tua, bagi mereka adalah mustahil. Kecuali jika mereka memiliki siklus hidup yang sama terbaliknya seperti tokoh fiktif Benyamin Button, lahir dalam ketuaan dan mati menjadi bayi. Namun, ingin tetap muda atau memilih menua saja adalah pilihan hidup masing-masing pribadi. Yang terpenting adalah tetap membangun jiwa yang sehat dan bermanfaat.

Seperti halnya Kolonel Sanders, sang pendiri waralaba ayam goreng terkenal, KFC. Rintisan bisnis ayam lezat ala Sanders, membuatnya justru dikenal sebagai pak tua yang sukses di usai senja. Kerentaan tak menghalangi jalan suksesnya meramu resep ayam goreng tepung yang so crunchy. Kini, wajah khas berkacamata dengan uban menutupi seluruh kepala dan seringai senyum terbaiknya, terpampang jelas di seluruh gerai makanan cepat saji, "Kentucky Fried Chicken" yang tersebar di seantero negeri. Sungguh, pak tua yang hebat dan bermanfaat.

Dan benar adanya, bahwa kehidupan bukanlah melulu menyoal usia. Toh, kita pasti akan menua dan mati. Sebelum dihinggapi kecewa karena terlalu sibuk mengejar harta hingga tak sempat menikmatinya, dan kematian abadi terlebih dulu datang menjemput, jadi lebih baik nikmati saja proses hidup yang berjalan".

Mendiang Bruce Lee, sang legenda martial arts, pun sangat menikmati hidupnya kini, disini. Bukan pada masa lalunya. Pesannya sebelum berpulang menuju kehidupan abadinya,
"Tak ada yang perlu dicemaskan dari masa depan, karena yang penting bukanlah seberapa panjang hidup Anda, tetapi bagaimana Anda hidup bermanfaat di dunia ini, itu yang lebih penting".
Ah, inilah sebuah pembenaran atas bunyi tag iklan, "Menjadi tua itu pasti. Tetapi, menjadi muda itu soal pilihan"

Salam!



*) Postingan pertama, setelah lama menjalani kontemplasi *dikeplak sandal..bohong ding, kontemplasi apaan, dikejar banyak deadline sih iya* :))

Kaum Terpinggirkan Mencari Cinta

Sebuah repost

Bertepatan hari ibu, setahun yang lalu, momen bahagia menghampiri seorang Doyo, begitulah ia biasa dipanggil saat masih terjebak di dunia laki-laki. Ia melonjak girang kala keputusannya untuk berganti kelamin dikabulkan Pengadilan Negeri Batang, Jawa Tengah.


Terlahir sebagai Agus Wardoyo, membuatnya merasa tak nyaman. Ada geliat penolakan dalam dirinya, terlebih feminitas mulai nampak jelas saat Doyo duduk di bangku SMP. Doyo berubah lembut, dan gemulai melenggang. Doyo mengucap syukur karena Bambang Sugianto dan Witem, orang tuanya, sangat begitu bijak. Atas restu mereka, jalan terbuka bagi Doyo demi menemukan jati diri yang sesungguhnya. Aktivis LSM Omah Perempuan itu menjalani operasi ganti kelamin di Rumah Sakit Dr Sutomo, Surabaya, pada tahun 2005. Itulah momentum penting, yang pastinya akan diingat Doyo hingga ia tiada. Doyo yang dulu telah berganti rupa menjadi pribadi yang baru, sebagai manusia baru, sebagai perempuan sejati. Sebagai Nadia Ilmira Arkadea.

Doyo yang dulu telah bertransformasi dengan sangat apik layaknya kepompong berubah wujud kupu-kupu cantik. Ia, kini, adalah Dea. Seorang Dea yang cantik, yang merasa lega sekaligus bangga, kelelahannya sebagai pribadi yang salah, telah berhasil ditepisnya. "aku lelah menjadi lelaki, dan kini aku bangga sebagai perempuan seutuhnya.." Inilah buah kejujuran terdalam seorang pelaku transgender yang telah dibayar mahal.

Tapi, begitu sajakah akhir penantian Dea, lega berubah wujud dan lalu semuanya selesai, tuntas? Dea kini harus bersiap menghadapi publik yang mencibir keputusan maha dahsyatnya. Namun Dorce, sang entertainer serba bisa itu berjalan di belakang, menemani langkahnya. Mendukung keputusan Dea, membela Dea meski dari jauh. Ya, sebelum Dea memutuskan, Dorce memang telah lebih dulu melakukannya.

Adalah siksaan saat itu, bagi Dorce, menjadi lelaki, dan kelegaan sekaligus kebanggaanlah bagi dirinya berubah wujud menjadi perempuan. Perempuan yang lalu sangat bangga dipanggil Bunda. Panggilan yang layaknya sebuah terapi, menyejukkan batinnya yang merindui sosok ibu yang hadir dalam hidupnya. Ahh..lalu salahkah dia rindu bunda, ingin menjadi perempuan, dan mendamba cinta?

Namun keberpihakan cinta ternyata bukan pada dirinya, meski Dorce pernah mengecap nikmatnya sebuah cinta dan pernikahan. Dorce dipaksa menerima buah atas keputusannya. "Maaf, cinta belum hadir saat ini untukmu." Ataukah, memang tak akan pernah ada cinta bagi kaum transgender?

Dorce lantas berlari, mengadu pada Tuhan. Harapnya mungkin, Tuhan bersedia memberi pengampunan bagi dirinya, yang telah memilih jalan ini. Dan hanya Tuhanlah jawaban atas keputusasaan Dorce, saat itu dan kini. Karena mencintai dan memiliki Tuhan tak akan pernah menyakitkan bagi jiwanya. CintaNya selalu abadi.

Tak apa. Begitu mungkin kata batin Dea dan Dorce, memutuskan berdamai dengan diri sendiri. Biarkan Tuhan bekerja dan memutuskan yang terbaik. Tuhan memang sudahlah adil kan?

Toh, jagad batin seorang transeksual seperti mereka memang tak bisa dengan mudah dipahami. Tak guna mulut berbuih-buih membela diri, pilihannya lebih baik menutup rapat saja masa lalu. Meski ini bukan dalam rangka mengingkari kenyataan yang sudah terjadi.

Memang terasa tak adil, saat kita memperjuangkan kebahagiaan, tapi nyata-nyata banyak hal dan banyak pihak tak mengingini itu teraih. Dea, atau Dorce mungkin masih bernasib baik, meski tekanan mental akibat penolakan orang-orang disekitarnya begitu kentara, tapi, setidaknya mereka bukan bagian dari obyek kekerasan fisik.

Brandon Teena, mungkin lebih parah dari sekian banyak kaum transgender. Kisah tragisnya diangkat ke layar lebar, perjalanan hidupnya begitu jelas tergambar lewat alur yang mengalir di 'Boys Don't Cry'. Tangisan Teena yang menolak menjadi perempuan pun lantas menuai empati dan simpati hingga sukses memenangi Academy Award di tahun 1999.

Tragis, ternyata hingga akhir hayatnya, Teena bahkan tetap saja tak diakui sebagai laki-laki. Batu nisannya yang tegak tertancap di Lincoln Memorial Cemetary adalah saksi atas keinginan Teena yang tertolak. Tertulis disana, "anak perempuan, saudara perempuan, dan teman".

Dunia transgender adalah dunia kaum terpinggirkan, dunia para jiwa yang terperangkap pada raga yang salah. Tak hanya menyoal penolakan cinta dan eksistensi mereka di ruang publik, jejaring birokrasi negara pun kadang sulit tertembus. Adalah Alterina Hofman, seorang perempuan yang mengubah wujudnya menjadi lelaki. Cintanya pada Jane Deviyanti Hadipoespito – putri salah satu pendiri Universitas Bina Nusantara, harus membuatnya terpenjara. Cintanya tertolak keluarga Jane. Pun, bagai jatuh tertimpa tangga, Alter harus pula menghadapi birokrasi negeri ini yang tegas mematikan.

Rahasia masa lalu yang ingin ditutup Alter rapat-rapat malah harus terbuka di muka publik. Lapas Cipinang nyata-nyata menolaknya. Derita yang terlengkapi, bahkan penjara yang dianggap tempat buangan pun tak mau 'menerima' seorang Alter.

Namun Alter barangkali lebih beruntung dari Dorce. Cinta Jane tak surut meski apapun keadaan Alter. Bagi Jane, hanya Alter yang mampu memahami dirinya yang tuna rungu, dan itu sudah lebih dari cukup. Terbaca oleh saya tangisan Jane di Kick Andy beberapa waktu lalu. Tangisannya tertahan, meski sulit baginya bicara, namun deras kalimat terucap juga dari bibirnya yang bergetar. Jane memohon restu itu.."tolong persatukan kami.."

Dea, Dorce, Alter dan siapapun mereka ingin terlahir sempurna. Memiliki dua kromosom seks, tidak berharap diberi lebih. Menjadi bukan sebagai setengah perempuan atau setengah lelaki. Namun, hanya Tuhan-lah sang kuasa yang sanggup menghadirkan umat-Nya begitu unik satu dengan lainnya. Lalu, ada apa di balik rencana Tuhan mencipta mereka, ingin membuat dunia penuh warna, begitu berbeda?

Kami pasti menemukan jalan, cinta, dan jati diri kami jika kalian bersedia membukakan pintu. Karena hanya dengan menerima kami di tengah-tengah kalian, kemesraaan hidup berdampingan bersama di bumi ini akan tercipta.

Dan biarkan kami unik dan istimewa dengan cara kami sendiri, namun jangan sesekali perlakukan kami beda yang 'keblabasan'.

Salam!