Showing posts with label affair. Show all posts
Showing posts with label affair. Show all posts

Saturday, December 10, 2011

Menjadi "Wanita Lain"


Sebuah repost

"MENCINTAI tak harus memiliki", sebuah pepatah lama menyebutkan. Bahwa cinta itu ternyata hadir dan abadi bukan pada pasangan jiwa (baca: pasangan resmi). Meski tak bisa memiliki, kekaguman, keterpesonaan serta cinta yang terkemas itu nyata-nyata ada dan telah hadir untuk dia yang lain.

Sah-sah saja jika cinta yang salah, pada tempat dan waktu yang salah itu kemudian dipersembahkan untuk sahabat, kawan kerja atau pada tetangga sebelah rumah yang (mungkin saja) memang tampan luar biasa. Ya, tepat lalu bunyi pepatah "rumput tetangga memang selalu lebih hijau daripada rumput di depan pekarangan sendiri"

Bukan tanpa dasar, para peneliti di Oklahoma State University sempat mengungkap akar dari perselingkuhan indah ini. Dari sebagian wanita sebagai objek penelitian, sebanyak 90 persennya terbukti sangat bersemangat berkencan dengan pria beristri.

Alasan itu mengemuka karena perihal insting dasar wanita yang secara otomatis menyukai persaingan terbuka, dan parahnya salah satunya adalah dengan menggoda pria yang tidak lagi berstatus single.

Hal ini diungkap Helen Fisher, PhD, seorang ahli biologi-antropolog yang juga penulis buku Why We Love, "Saat melihat seorang pria berhasil menjalin hubungan yang membahagiakan, insting wanita yang terdalam akan berpikir jahat, bahwa ia pasti bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan pria tersebut". Wow!

Menjadi wanita lain, perempuan yang entah keberapa bersedia dilakoni, juga cap yang melekat di dada sebagai 'perebut, perusak atau pengganggu' dan segala atribut buruk lainnya pun seperti hukuman masyarakat (sanksi sosial) yang wajib diterima. Inilah konsekuensi atas cinta yang salah namun terasa indah, bahwa cinta itu terasa nikmat meski membawa sesat.

Namun bisakah cinta yang salah ini bertahan di tengah deraan guncingan orang, perasaan menyesal dan bersalah karena mengambil yang bukan menjadi miliknya, atau yang lebih besar adalah pengkhianatan pada pasangan yang dicintai, anak yang dikasihi dan keluarga yang disayangi?

Semuanya kembali pada yang menjalani. Seberapa yakin Anda siap untuk menanggung dan membawa ke arah mana cinta yang (mungkin) salah ini akan dituju. Ingat, seringkali orang terpesona dengan 'oase' yang terlihat indah dari kejauhan, namun ternyata hanya sekedar tipuan semata. Begitu juga menyoal cinta terlarang.

Sebuah lagu lama jika iming-iming menjadikan Anda sebagai pasangan resminya itu lalu mengemuka, atau Anda justru tergiur menjadi sekedar 'investasi syahwat' baginya, yang bisa memuaskan inginnya, kapanpun, dimanapun, asal tidak ketahuan. Oh tidak, pertimbangkan masak-masak untuk memutuskan menjalani ini semua lebih dalam.

Betul kiranya sebuah penggalan lirik lagu "unintended" yang dilantunkan grup band asal Inggris, Muse. You could be my unintended, Choice to live my life extended, You should be the one I'll always love. I'll be there as soon as I can. But I'm busy mending broken pieces of the life I had before.

Anda bisa saja menjadi yang "tidak sengaja" hadir dan melingkupi hidupnya. Ia janjikan cinta itu untuk Anda, seorang. Bahkan baginya, Anda adalah 'perekat' hidupnya yang sudah hampir hancur berkeping-keping bagai puzzle. Namun lihat dan rasakanlah, saat Anda membutuhkannya, ia malah terlihat asik merekatkan kembali pecahan-pecahan hidupnya yang dulu.

Ia lebih memilih sibuk menata hati dan perasaannya, saat yang dikasihi dan dicintainya dulu memintanya kembali. See, tak ada lagi cinta yang tersisa untuk Anda yang pernah merasa percaya diri (hanya) menjadi yang kedua.


Salam

Friday, July 16, 2010

Harap dan Cinta untuk Tari

Sebuah repost

SAYA, kamu, dia, pun Cut Tari adalah pribadi dalam dua sisi, hitam dan putih. Kami pernah berbuat baik [meski mungkin jarang sekali diingat], dan lebih sering menjadi tempat alpa, khilaf dan salah.

Itu karena kami berjalan di atas jalan kehidupan yang tak selalu mulus. Adakalanya kami tersandung batu atau tertusuk duri hingga kaki ini terluka. Kami lantas menangis, dan menyesali memilih rute yang salah. Dalam kelukaan, kami mengadu pada Tuhan, sang navigator kehidupan. Dan Dia hanya tersenyum, "dari jalan yang salah ini, sesungguhnya aku sedang 'memperkaya' dirimu"

Ya, ini memang seperti refleksi dari kisah Tari. Bahwa luka, tangis dan sesalnya bisa menjadi cermin bagi kita. Bahwa kita mungkin pernah menjadi Tari, yang khilaf dan lalu menyesal. Bahwa sebuah kesalahan sanggup mengubah total keseluruhan diri, menjadi pribadi yang baru.

Kasus video intim itu adalah aibnya, dosa dari masa lalu Tari. Jika saja bisa, jika saja mampu, inginnya menutupi borok itu. Namun Tari sadar, ia milik publik, dan pada publiklah Tari diminta bertanggung jawab, dan meminta maaf.

Ya, Tari yang dulu kenes, manja dan sensual itu memang sudah menghilang. Yang terlihat sekarang, hanyalah Tari yang malu, bingung dan cemas.

Tari bagai dipaksa meloncat ke lorong waktu, kembali ke masa itu, saat desah manjanya pada Ariel terekam jelas di ingatannya, pun belaian lembut tangan kekar Ariel yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya itu masih terasa menyentuh kulit raganya. Raga yang seharusnya hanya milik Jusuf Subrata.

Dan kini di hadapan puluhan kilatan
blitz kamera yang 'menelanjanginya', Tari terbata-bata memohon maaf, pada petinggi negeri, pada masyarakat, pada suami yang mematung tegang di sampingnya. Ya, sekuatnya Tari mencoba tegar meski maaf itu mungkin saja belum cukup. Bahwa setelah permintaan maaf ini, Tari masih tak tahu bagaimana kehidupannya kelak di masa depan. Bagaimana dengan Jusuf Subrata - suaminya, Sydney - gadis kecilnya, ibu, dan keluarga besarnya.

Ia bahkan belum tahu jawaban apa yang harus diberikan pada Sydney saat dia bertanya, "kenapa mama menangis?, kenapa orang-orang itu membenci mama?" Ah ya, langkah Tari tertatih bagai dibebani berton-ton rasa bersalah yang memberat dipundaknya, dan dosa itu dirasa tak akan tertebus di sisa umurnya.

Jerat pasal pornografi pun siap mengantar Tari menghabiskan harinya di hotel prodeo, dan hukuman masyarakat bagai cambuk, sudah terlebih dulu menghantam keras punggungnya hingga berdarah-darah.

Namun, Tari sejatinya masih lebih beruntung. Pengakuannya, kata maafnya bagi seorang Jusuf, sudahlah lebih dari cukup. Bahwa keberadaannya disamping Tari adalah bukti, cintanya masih belum habis untuk Tari. Dan bolehlah kita semua berharap, tak terkecuali Tari dan Jusuf, bahwa harapan seiring waktu, cinta itu pasti akan bertambah dan semakin menguat.

Kejujuran [yang meski menyakitkan] itulah kelegaan Jusuf, pun kebanggaannya. Bukan menyoal bagaimana kasus ini sudah merebak menjadi isu nasional yang menyebar ke seantero negeri, bukan juga kebanggaan Jusuf, tubuh istrinya dinikmati beribu-ribu pengunggah dan pengunduh video intimnya. Adalah kelegaan dan kebanggaan Jusuf, istrinya yang dulu khilaf telah berani berbesar hati untuk mengakui dan meminta maaf, pun bertanggung jawab atas benih yang ia tuai.

Saya tak mau berprasangka buruk, bahwa Tari hanya sedang mencari simpati atau tengah berakting, seperti juga kita tahu, dia adalah pelakon dalam frame layar kaca. Lukanya, dukanya, tangisnya, sanggahnya bukan kamuflase, karena dia, Tari memang tengah melakoni skenario Tuhan. Menjadi yang dulu dipuja dan kini dihina.

Betul kiranya sebuah ungkapan lama, yesteday is history, tomorrow is future (maybe it will never come) and today is present. Kasus yang menimpa Tari saat ini adalah sejarah yang tak akan pernah dilupakannya. Meski menyakitkan, namun sanggup menamparnya keras, membuatnya tersadar dan belajar, bahwa Tuhan sedang membantunya berproses, "memperkaya" dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.

Ya benar, bahwa kisah masa lalu memang sanggup "memperkaya" kita di masa depan..dan ibarat buku, masa lalu adalah referensi terbaik, karena disanalah segala pengalaman ditemukan.

Dari buku klasik nan jadul dan usang itulah kita sebenarnya diharapkan belajar. Bahwa sebuah kesalahan dimasa lalu cukup menjadi catatan saja disana, bukan menjadi beban. Dan lepaskan beban itu dan tinggalkan saja di masa lalu, karena setiap hari akan selalu ada pintu yang terbuka untuk kita, karena selalu ada orang lain yang bersedia membuka pintu itu. Pintu maaf dan pintu pengharapan bagi saya, kamu, dia, pun Cut Tari.

Dan Jusuf adalah harapan Tari, bahwa pintu Jusuf masih terbuka untuknya, dan cinta itu memang belum habis untuk Tari.

Salam!