Showing posts with label cinta. Show all posts
Showing posts with label cinta. Show all posts

Saturday, August 01, 2015

cinta ada apanya?

menyukai saja memang lebih mudah, tapi merawat benih suka itu menjadi cinta bisa lebih rumit dari matematika. ada yang kurang (dari pasangan) tapi sukar diterima. adapula yang lebih, tapi ternyata itu saja belum cukup. ada yang cinta buta, menolak bicara logika karena kalah telak oleh rasa .

lupakan sejenak romansa saat cinta hadir berkesan lewat mata saat saling tatap, debar hati ketika wajahnya selibas nampak meski dari kejauhan, atau sehangat genggaman tangan dan pelukan hangatnya saat hujan menderas di depan teras rumahnya, semasa pacaran dulu.

cinta bukan pula patung abadi yang sesekali kamu tengok, hanya untuk sekadar dikenang. dia selayaknya manusia, tumbuh subur, tapi bisa juga kering lalu mati.

sadarilah, hidup tak selalu semulus paha ayam, situasi yang tidak diharapkan muncul pastilah melahirkan tuntutan. inilah saatnya kadang cinta juga butuh diuji, seberapa kuat ia berada dalam situasi apapun.

tak pelak, ketika akhirnya muncul tuntutan di sana dan di sini, cinta pasti akan kembali dipertanyakan, 'kamu cinta aku apa adanya atau ada apanya, sih?" yang begini ini yang berpotensi munculnya penyakit gamang dan komplikasi galau tingkat akut.

tapi faktanya, sebagian dari mereka di luar sana mengharap lebih dari pasangan tapi malas mengoreksi kekurangannya sendiri. enggan mengakui kelemahannya, dan lebih suka sibuk mencari kesalahan pasangan. "sebentar, bukankah cinta itu tentang kita, terus kalau aku yang berjuang sendiri, itu namanya apa?"

oke, cinta saja memang tidak cukup. itulah kenapa ungkapan 'jangan sampai dibutakan cinta', terdengar benar. perlu hati yang besar untuk menampung kenyataan perasaan yang ternyata tak seperti yang dimaui. ada yang pilih mundur teratur, tapi masih banyak yang mau dan sungguh-sungguh berjuang sama-sama untuk saling memperbaiki diri.

ada baiknya jangan 'membaca' tuntutan semata sebagai keterpaksaan,  siksaan dan derita. masih banyak yang pada akhirnya hidup lebih baik dengan masa depan yang cemerlang karena 'membaca' tuntutan pasangan dari sisi yang berbeda. jelas itu bukan sulap, bukan pula sihir. semata-mata karena cinta yang mendewasakan.

berarti benar dong apa kata teman saya, "selama tuntutan apapun dari pasangan masih bernada wajar dan itu baik, kenapa tidak?"

* untuk soal di atas saya setuju dengan Tulus


Friday, October 19, 2012

hadiah termanis

"yuk...", sebuah pesan singkat 3 huruf tertera di layar ponsel mini. simpel. hal yang disukai mini dari leo. dan 3 huruf itu mampu membuat mini diserang penasaran berkelanjutan, "apa sih maunya?".

ya, ya, leo selalu tahu cuaca langit mini. tapi mini selalu berkelit. baginya, laporan prakiraan cuaca, cuma sekedar ramalan, soal benar atau tidak, lebih baik tanya pada langit dan awan bersangkutan.

"aku cerah, sama sekali tidak berawan. kamu?" sering batin mini meringis karena berbohong. sementara jawaban leo selalu sama, "bersih dan tenang,". mini dan leo pilih kompak menampilkan cerah yang tak sejati. karena langit mendung tak pantas jadi pajangan.

mini bertanya kemana, dan leo tak mempersiapkan apapun untuk pertemuan sembunyi-sembunyi mereka kali ini. leo tak suka terlalu banyak pertanyaan datang dari lingkungan sosialnya tentang, "kenapa harus mini, sih?" sikap dan pembawaan leo disetel sewajar mungkin, "ini kisahku, bukan santapan publik. soal sakit dan senangnya, biar aku yang tanggung."

kemana leo membawanya pergi. mini hanya diam. "jika penculikan ini adalah tiketku untuk lepas bebas menuju duniamu, aku bersedia masuk."

mini dan leo bukan teman yang saling akrab dan dekat. tapi ada sesuatu yang memampukan mereka untuk saling mendengar apa yang tak terbaca telinga, dan mengandalkan mata hati untuk membaca yang tak terbaca di permukaan. segala perasaan yang disembunyikan di sudut labirin hati.

perjalanan itu lalu terhenti di sebuah kedai. leo paham, dunia mini terlalu sederhana, bahkan untuk dimengerti.

mini dan sepi. bukan kafe, dan hingar bingar music bar. "sudah cukup membawamu ke duniaku, dan sekarang biarkan aku melihat duniamu," batin leo.

leo hanya ingin mini tahu, ia tak pernah sekerdil yang dibayangkan mini. tentang label, harga dan kelas sosial yang dipilihnya. "jangan pernah melihatku dari apa yang aku pakai, mini. aku hanya berlaku sepantasnya. pikiranku pun sesederhana kamu. kesenjangan itu memuakkan."

"semua yang melekat akan pergi, jika dimaui, tapi tidak jiwa dan hati." leo menatap mata mini, lekat. berharap mini sadar. ada yang salah terbaca mini tentangnya selama ini.

kini, mini mengerti...

dan, entah harus mulai dari mana leo menjelaskan maksud dari penculikan ini. ada sebuah bingkisan tersembunyi di balik kotak warna hijau pupus yang sudah dibawanya sedari tadi. "ini...hadiah untuk kamu," leo berupaya tetap sadar, agar masih bisa dirasakan kakinya menjejak tanah. memasuki dunia mini.

mini terkejut melihat kotak di depan wajahnya. "kamu sedang melakukan upaya perdamaian, leo?" mini sekenanya menebak-nebak maksud leo.

"aku tak pernah merasa ini akan jadi spesial, dan berharap sesuatu ini akan mencairkan kita, mini," leo tak suka niat baiknya disalahartikan mini sebagai permintaan maaf. tak ada yang perlu dimaafkan. dulu ataupun sekarang. tak mengubah apapun. hatinya tetap memilih mini.

"maaf, leo..." sesal merutuki hati mini. leo terlihat seperti kucing yang minta dipeluk dan dibelai sayang, karena ekornya terinjak kaki mini. 

"leo, aku tahu kamu punya banyak pilihan, tapi, kenapa kotak musik dan earphone?" pertanyaan mini sekali lagi selalu sanggup membuat tenggorokannya tercekat. lidahnya kelu, seperti mati kaku. tak ada jawaban yang dipersiapkan. harapan leo, mini senang, tanpa banyak bertanya kenapa. sekilas diliriknya mini tengah tersenyum menunggu jawaban leo. senyum yang menghantarkan percik-percik listrik di jaringan otak. senyum yang menyakinkan leo, bahwa dunia ini cukup indah tanpa perlu lagi ada surga.

"aku tahu, buku dan musik adalah teman sepimu, selain menulis. semoga kamu suka," sederhana sekali. leo tahu apa yang terbaik untuk mini.

dalam batinnya, leo bicara, "aku mungkin bukan pendengar yang baik untuk segala penat yang menghimpit ruang kepalamu, hingga kamu perlu menulisnya berlembar-lembar di tempat lain, hanya untuk mengatakan kamu tidak setuju dengan pendapatku. kotak musik dan earphone ini mungkin bisa menjadi teman menulismu. mewakili hadirku. meski kita berseberangan, " ditatapnya wajah itu, mencari-cari arti dari senyum yang sekali lagi dipertunjukkan mini. senyuman yang membuat leo berkecukupan.

...

"dan, sudahkan kamu berhenti menemukan yang kamu cari, leo? de ja vu. pertanyaan mini bernada sama milik dara. pertanyaan yang tak pernah menemukan jawabnya. dara yang setia menunggu leo akhirnya memilih pergi membawa lebam memar di hatinya.

leo diam. membekap badai yang memporakporandakan ruang hatinya. nama itu melebur bersama waktu, namun tidak sosok itu. dara bagai hantu. datang dari masa lalu.

hingga akhirnya hanya "hai?". satu kata saja yang memampukan leo untuk bicara. jeda tahunan lebur sudah. dara kembali datang bersama waktu, meminta leo menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang belum sempat dijawab.

lalu, dimanakah hati mini akan tinggal, jika dara datang bertamu ke bilik hati leo?

...

Wednesday, October 17, 2012

rahasia sebuah dunia

mini kembali sendiri, mencari sepi miliknya. kalau kehilangan mini, cari saja dia di kamarnya. ia sedang santai menikmati tenggelam ke dalam buku pemberian mario. buku ber-cover hijau lumut dengan judul "Wayan si Pemahat" karya Riitta Thezar.

cukup dengan kaos longgar dan celana pendek, mini santai berkelung di atas kasur empuknya, dan larut hanyut sampai dini hari.

"ini buku favoritku, mini... tak perlu dikembalikan, ini milikmu," mulut mini terbuka, surprise. terbata mini bertanya, "kenapa harus aku yang kini jadi pemiliknya?," mata mini memancar tanya yang kentara. di bawah remang cahaya lampu yang temaram, wajah mini yang penasaran makin nyata terbaca.

"buku ini salah satu yang menginspirasiku. aku sudah terlalu panjang lebar membuatmu mau mendengar cerita-ceritaku, dan ini adalah perwakilan maaf itu" mario tersenyum. tulus.

"aku senang jadi pendengar. radiomu juga ngga rusak, masih jernih untuk didengar telingaku," mini coba mencairkan suasana kaku itu.

"sebenarnya alasan apa yang membuatmu ingin jadi pemahat?" tanya mini suatu waktu. kericuhan bunyi dentuman house music di sudut ruang kafe itu tak mendistorsi fokus mereka untuk saling mengenal.

jika pria lemah ingin merubah dirinya menjadi kuat, jadilah pemahat. seperti sebuah lelucon, tapi suatu saat itu adalah sebuah kebenaran. "menempa kayu dan batu terus menerus membuat lemahku terusik," mario membuka cerita.

bertahun-tahun mario dicibir, karena dianggap remeh, minor. dan setelah perjalanan panjang melelahkan itu, ia menemukan takdirnya. sebagai pemahat. memampukannya menjadi makhluk yang lebih kuat dari batu, lebih kuat dari hatinya yang lemah lembut sekalipun.

tak ada yang bisa menghalangi hati mini untuk bersuara. serupa kagum.

mario hanya akan sebentar saja di Jakarta, karena beberapa urusan yang mengharuskannya kembali ke galerinya di Bali. "jaga leo untukku," pesan yang membuat mini tercekat. seperti dihimpit di antara dua sisi. mario dan leo.

mini tersenyum. "aku baru mengenal leo sebentar, mario. ada ia dan dunia yang pasti bisa menjaga dirinya dengan baik." mini lalu mendekat ke telinga mario setengah berbisik. "ssst, lagipula kami beda kasta. kita bukan teman yang saling akur."  tawa mereka lantas meledak, ditingkahi ketidakyakinan mini atas perasaannya pada leo yang absurd.

"aku yakin kalian partner sejati. di segala hal" bukan tanpa alasan mario mengatakan itu. ada sebuah rahasia yang dijaganya begitu rapi. agar mini tak mengetahui dan siap mencari takdirnya sendiri.

...

"sejak kapan kamu suka menelusup jadi silent reader, leo?" tergeragap leo, tak disadarinya ada mario di balik punggung ikut-ikutan menatap layar monitor.

ada dunia kecil milik mini di sana yang bisa sepuasnya dibaca. leo perlu berterimakasih pada blog, karena ia tak perlu mengendap-ngendap demi mencuri buku harian mini. puas leo menelanjangi mini lewat tulisan-tulisan di "rumah pribadinya".

"apa pula ini, kupikir dia membicarakan laki-laki simpanan yang suka jadi pendengarnya. eh, coba lihat ternyata ujung-ujungnya dia bicara earphone," leo geleng-geleng. ia baru saja menemukan dunia absurd milik mini. saking absurdnya jadi terlihat sederhana untuk dipahami.

"kenapa pula kamu harus beradu debat dengannya, jika sebenarnya kalian tahu bisa saling mengisi?," ucapan mario seperti sebuah sindiran. tapi ini terasa manis. pengingatan pada diri. "sejauh apapun aku ingin berlari dari mini. sosok itu selalu sanggup mencuri hati. argggh!" leo merutuk.

"hahaha, aku senang membuatnya terengah-engah, karena kehilangan kata-kata, mario," leo berkelit. namun, satu hal yang selalu diinginkan leo setelah debat itu adalah memeluknya. "it's ok, mini. segilanya aku, sekerasnya aku, dan seanehnya kamu, kita akan baik-baik saja." dan leo pintar meredam suara hatinya agar siapapun tak mendengarnya.

"jangan terlalu sering bermain dengan ranjau yang kamu ciptakan sendiri, leo. dia bisa mewujud cintamu yang terpendam, kekasih yang tak bisa kamu miliki, musuh yang tak pernah bisa diampuni," santo mario berpetuah.

dan sebelum akhirnya berlalu, mario kembali menyindir leo dengan sangat manisnya, sekali lagi. "membaca dunianya pun adalah rasa haus yang tak pernah usai buatmu," mario tersenyum. meninggalkan leo yang terpaku. "ya, aku rela terhisap ke dunia mini. oase yang membuat hausku tak pernah usai"

Monday, October 15, 2012

memburu cemburu

tak sulit bagi mini yang aneh, dan tak populer menjadi pusat bagi dunia yang mengitari leo. mini bisa begitu mudah disukai, diminati dan dibicarakan diam-diam oleh mereka yang menyebut dirinya "pujaan".

ajak mini bicara seni, sculpture dan filsafat modern yang sanggup membuatnya tersadar sampai pagi, dan pulang kenyang. entah belajar dari mana, mini tahu bagaimana mengemas sebuah tamparan dan sindiran halus, terlihat begitu manis meski sadis, sarkastis

"tertundanya skripsimu salah satunya juga menyelamatkan bumi dari pemanasan global, roy. tolok ukurnya jelas bukan niat yang selalu tertunda, tapi berapa banyak kertas dari bahan kayu yang terbuang percuma karena setelah tanda titik kamu lupa mau mengetik apa lagi," roy yang disindir malah terkekeh.

"aku rela jadi kacung intelektualmu, selama debat kita soal global warming itu berakhir di ranjangku," meledaklah mini dalam tawa yang berderai-derai. dan roy takjub sendiri dengan pemandangan tawa yang terlepas itu.

seperti ada dua jiwa yang terjebak dalam raganya. kalem berpadu liar. dan tinggal menekan tombol "option", mini mampu menjangkau dunia siapapun. 

mini terlalu asik bertemu banyak rupa, menjajal kemampuan mereka yang hanya sanggup bertahan dengan daya pejal, memampukan sebisa mungkin berkhayal tentang mini. dan mini memilih jadi abdi, melayani mereka dengan senang hati.

dan ibarat segelas susu, empat sehat jadi sempurna, adalah sebuah alasan jelas kenapa selera makan mini semakin menggila akhir-akhir ini. segelas susu itulah mewujud serupa mario. pemahat. kawan akrab leo. pria bali berdarah itali.

inilah kenapa mini menyukai geometri. memandang mario seperti melihat susunan wajah dengan tata letak geometrik yang apik. wajah kotak ditopang rahang  tegas. mata menyalak tajam, dinaungi alis mata hitam legam melengkung. bibirnya penuh. minta dilumat.

leo sudah tahu ini akan terjadi. sejak perkenalan mereka beberapa minggu lalu, keduanya mulai intens saling mencuri perhatian.

"kamu tahu, mario bukan orang yang suka bicara tentang hidupnya, tapi dia mau membagi borok dan kurap hidupnya ke kamu. itu aneh," leo coba mengoreksi sikap mini, tanpa ingin terlihat bahwa sebenarnya ia tengah diserang cemburu.

mini menutup buku, mencodongkan tubuhnya mendekat ke wajah leo. tersenyum. "hm, manis," leo menelan ludah. leo mengingatkan mini pada sosok Neferiti. mata berwarna abu-abu kecoklatan. leher jenjang. sementara gerai rambut coklat itu jatuh sedikit menutup wajah manisnya.

mini menyibak rambutnya. yang terlihat hanya putih dan bersih. tulang pipi mini tergolong bagus untuk tipikal wajah perempuan asia. matanya mengerjap-ngerjap, bersemangat.

jika digambarkan dalam adegan slow motion, leo bakal minta adegan itu diputar ulang.

"aku menyukai belajar pada siapapun, leo. tak terkecuali pada mario, " itulah kenapa mini tak pernah merasa dirinya miskin, dikucilkan. mini siap melebarkan cuping telinganya, melebarkan matanya, membuka pikirannya. agar ia bisa menyerap semuanya dengan baik. "seharusnya kamu tahu, aku suka menyenangkan mereka."

ditatapnya wajah leo, tatapan mini seperti menyapu lembut pipi leo. lalu menyuarakan bisikan mantranya yang samar terbaca telinga, menelusup tanpa permisi ke bilik hati, "teruslah hidup dengan cemburu itu, agar aku tahu kamu menginginkanku, meski itu siksa bagimu, leo."

Saturday, October 13, 2012

cinta leo

jika hening adalah kesempatan kita untuk bercermin, suka atau tidak pada hasilnya, barangkali hal itupula yang sudah dilakukan leo. sejak ia menyadari dirinya dipuja.

leo mencintai dirinya, menjilati kulitnya sendiri bila mau, mengutuki dirinya yang sempurna. dia selalu punya energi untuk mencintai apapun yang berada dekat dengannya. "seberapa banyak kamu memiliki energi untuk memberi cinta pada mereka?," kesempatan mini bertanya adalah tiket masuk kamar leo dan menelanjanginya.

"aku suka membuat mereka senang, sudah seharusnya kan?," enteng leo menjawab, semudah dia mencari dan lalu melepaskan diri dari pengikutnya. cinta sebagai ajang latihan menyelami hati dan proses mengalami, justru tak pernah ada di kamus leo.

leo si pengikut dewa Hermes. sang pengelana. cinta baginya adalah memberi, tanpa berharap menerima. laksana hujan, ikhlas melepas tetesnya ke bumi. dan membiarkan cintanya terserap habis ke dalam tanah. menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun yang pernah mengenal seorang leo.

lebah-lebah betina dalam wujud tubuh langsing, dan kaki jenjang yang dielu-elukan sebagai ratu pun tunduk pada pesona leo. mereka mengitari leo, berharap dihisap habis mata tajam leo, sementara leo hanya berdiri santai, seakan tak peduli. mereka lalu boleh menggerutu, mendendam atau lega dan ikhlas melepas kepergian leo kembali mencari mangsa. setidaknya dia sudah menjalankan tugasnya. memberi tempat bersenang-senang.

sebenarnya leo hanya mencoba untuk tetap terlihat tenang, meski jauh di ruang hatinya ada suara yang merutuki, "kamu memang pandai menutupi diri, leo. berbuat seolah semuanya baik-baik saja," kata hati itu kuat menggedor ruang hatinya, minta dilepaskan. pertanyaan mini seperti sebuah prolog, akan ada pertanyaan yang lebih dahsyat, yang efeknya bakal bikin leo pusing.

"only love" milik Kula Shaker, mengalun lembut, mengisi kekosongan udara di kamar mini. kamar yang serupa dirinya, mini, namun menyejukkan. "apa yang sedang dicarinya, jika ia sudah merasa puas memberi cinta?" mini menatap langit-langit kamarnya, mencari bayangan leo di situ.

"arrrgh, kenapa jadi aku yang repot, sih?" mini menutup wajah dengan bantal.

dan pertanyaan itu rupanya tertinggal di kepala hingga mini tertidur. masuk tanpa permisi ke dalam mimpinya. dan kini yang terlihat samar di mimpi nirwananya, leo tengah telanjang. berdiri menghampirinya dan melesakkan ciuman ke bibirnya. kenyal, basah dan terasa manis.

mini sudah lebih dulu ditelanjangi, dalam mimpinya. sementara, dalam tidur leo di ujung sana, ia tersenyum menang.

Monday, September 17, 2012

life for rent

udara yang aku hirup setiap saat, semesta yang menaungiku adalah hidup gratis yang sesungguhnya. air tumpah melimpah, tumbuhan tumbuh bebas meliar, merimbun. aku seperti dibawa masuk ke supermarket segala ada, segalanya tak perlu beli. aku boleh mengambilnya sesuka hati apa yang ada. Tuhan, si penjaga pun tak berniat menjual apa yang Ia suguhkan. seperti juga pertunjukan pagi yang rela digusur siang dan siang rela digeser malam bukanlah tiket sekali beli, kamu tiap hari menikmatinya, berulang, selama denyut jantung masih setia berdetak.

namun, kata Dido dalam lagunya, hidup itu untuk disewakan (Life For Rent). lalu, apa yang bisa disewakan?, jika itu raga yang dikemas dalam balutan busana, perjanjian sewa menyewa itu mungkin saja hanya menyoal long time atau short time, dan berapa nominal yang bisa diberi untuk raga yang rela disewa. tapi maaf, jiwa dan pemikiranku tak masuk dalam daftar sewa, karena keduanya begitu bebas, tak bisa disentuh, disewa apalagi dibeli. jika pun dikungkung, yang terbayang dunia tak lagi berwarna.
menyewa pemikiranmu sama saja matinya kreativitasku. aku akan sangat egois, karena tidak memberi ruang untuk berkembang, mendengarkan suara dan menemukan pendapat sendiri.
aku juga tak mau terjebak dalam kepalsuan hidup, karena harus hidup pura-pura dalam bayanganmu. dipaksa setuju dengan pemikiranmu, padahal aku tak merasa sejalan dengan pemikiranmu saat itu. bukankah indah jika kita bisa saling mengisi, tanpa harus teriak dalam hati, basi?...percayalah, semesta yang kita jejaki memberi kita ruang untuk saling berbagi dan mengisi.

jika diperbolehkan, aku ingin mengawinkan pemikiran kita tentang banyak hal. tapi tolong, jangan sangkal aku, jangan lemahkan dan tepiskan apa yang sedang ingin aku bagi bersamamu. aku merasa seperti tidak berguna. jiwaku diperbolehkan bebas berkelana, sementara pemikiranku diberangus selamanya di dalam kandang otak. "jangan pernah coba berdebat panjang kalau itu tidak sepaham denganku," katamu suatu waktu.

mungkin benar, seperti kata Dido, hidup cukup untuk disewakan, namun rasakan betapa hidupmu lambat laun hanya serupa imitasi, tak pernah benar-benar asli. R.E.M pun sudah menyadari itu sejak dia menciptakan lagu Imittation of Life. tak peduli kw 1, kw 2, kw 3, super kw, aku hanya mau hidupku orisinil, dan tak sembarangan disewa.


Saturday, July 14, 2012

kinara (jawaban kepada Faiz yang meminta adik)

bukan Kirana. karena nama itu sudah terlalu biasa. ia terlahir dari benih kasih yang bertumbuh dengan leluasa memenuhi rongga rahimku. kesediaanku, oh, maaf bukan hanya aku saja, tapi keinginan kami berdua, aku dan suami untuk memberikan seorang adik untuk Faiz, jagoan cilik kami.

aku ingat, betapa malasnya ditanya banyak orang, "kapan, Faiz punya adik?" dan jawabannya cukup dengan sunggingan senyum, "nanti ya, kalau sudah pas waktunya..." lalu, kapan lagi, besok, dua tahun lagi, tiga tahun lagi?

hm, karena semuanya memang harus diawali dengan niat baik, untuk sebuah keinginan tulus. sementara, aku masih terlalu takut, dibayangi banyak hal, tak bisa membahagiakan anak-anakku kelak. karena bukan lagi sekedar pemandangan semu, realita nyata itu kentara di depan mata. dunia semakin kejam. akankah ada tempat untuk anak-anakku tumbuh menjadi pribadi yang baik, jiwa dan raga?

sementara ketakutan lain masih bercokol menggerogoti jiwa. bisa tidak kami memberikan penghidupan yang layak, masa depan yang terjamin untuk mereka, anak-anak kami? ah, ketakutan dan keraguan memang selalu tak pernah bisa membawa kita kemana-mana, ya?

hingga kami tersadar tidak bisa seegois itu dengan keputusan kami sendiri. bagaimana dengan Faiz kelak, sementara kami - orangtuanya mungkin akan lebih dulu meninggalkan dia. pada siapa ia bisa berkeluh kesah, pada siapa ia bisa mencari dukungan dan penguat?, pada siapa ia bisa memumbuhkan jiwa berkompetisi. jiwa yang dibutuhkan untuk membangun sikap mau maju, dan berusaha. setidaknya agar Faiz bisa bilang, "aku harus bisa menjadi contoh dan teladan yang baik untuk adikku..."

and here we are, dengan segala bekal dan kemampuan dibarengi niat kami, juga keikhlasan atas apapun kondisi yang kami hadapi - kami akhirnya memutuskan, "yak, inilah saatnya..kami akan memberi Faiz seorang adik."

"adik" yang lalu dipanggil dengan lembutnya, saat kami menyodorkan pipi bayi mungil itu untuk dicium penuh kasih oleh Faiz. panggil "dek Kinar ya, mas..." dan Faiz pun mengangguk senang. adik yang lalu mencuri sedikit perhatian kami yang dulu tercurah penuh padanya, dan kini Faiz seperti merasa bagai pluto di tengah galaksi maha luas. kecil, dan merasa diabaikan.

hmm, sebuah kecemburuan yang wajar, bukan? bahkan manusia dewasa sepetiku juga punya rasa yang sama. sebagai orangtua, inilah pembelajaran atas keputusan dan tanggungjawab yang telah kami pilih. bahwa tidak ada yang akan merasa paling unggul diantara keduanya. kami harus menjadi orangtua yang adil dan bijaksana. prinsip yang tidak boleh kalah oleh masa dan keadaan apapun itu.

dan voila...aku menamainya kinara. perempuan mungil pemilik mata bening dengan sunggingan senyumnya bagai obat mujarab bagi jiwa dan raga yang pernah melemah. Kinar yang penyabar. dia akan menungguku selesai dengan semua tugas, dan akan meminta haknya, cukup dengan rengekan kecil.

"Kinar pengen mimik?..." dan ia yang dahaga, lalu begitu senang mencari aroma puting, menyesapnya begitu kuat dan nikmat. selesai sesi 'intim' denganku pun ia masih menyunggingkan seulas senyum, mungkin ingin bilang, "terima kasih mama, susunya seger banget..."

Kinar bagai pengelana. dengan kaki dan tangan kuatnya, ia merangkak cepat menjelajahi kamar lalu ke dapur. menandai area penjelajahannya dengan jejak pipis dimana-mana. ia yang sangat tekun dan teliti memandang apapun yang asing dengannya. ia yang selalu rela dan "nrima" kakaknya mengusilinya dengan cara apapun. pikir Faiz, "kapan lagi aku punya boneka selucu dek Kinar?" bisa dipeluk, asal ga sampai remuk.

"mana cicaknya?" dan sontak matanya menatap langit-langit rumah, mencari bayang cicak yang usil mengajaknya main petak umpet. tangannya diulurkan ke atas seakan ingin mengambil cicak itu untukku.

apalagi yang belum kuceritakan tentang putri kecilku itu? oh iya, Kinar akan bertepuk tangan dengan senangnya, jika diminta. meski saat itu ia masih sibuk membongkar mainan kakaknya. Kinar yang dengan semangat melambaikan tangan dan memberi kecupan kiss bye, saat aku dan suami beranjak pergi, meninggalkan ia dan kakaknya, demi mengais rejeki.

dan, tak ada yang seindah rasa ketika kami pulang dan menemukan mereka menyambut kami di depan gerbang rumah. tak ada yang seindah ini, memiliki dua jiwa dalam satu hati. lalu, saat orang-orang berucap, "wah, enak ya sudah sepasang.." aku melega, dua sudah cukup. keduanya kini bisa saling melengkapi. tugasku dan suami, sekarang adalah berusaha dan bekerja lebih keras dan cerdas untuk memberi mereka masa depan yang lebih baik. pun, "nggulowentah" agar mereka tak hanya tumbuh sebagai pribadi yang cukup materi, tapi juga berlimpah kasih sayang.

Friday, July 06, 2012

surat

kapan terakhir kamu berkirim surat? saya sendiri hampir lupa. tapi, memori segera melesat ke tahun 90-an, manakala ingat pernah begitu senangnya menerima sepucuk surat cinta, bertuliskan besar di bagian pembuka amplopnya : Ti Bandung Euy! (dari Bandung Euy). siapa lagi kalau bukan dikirim seseorang yang lebih tepat sekarang disebut mantan. pacar LDR yang manisnya se-kecamatan. hahaha.
memandang amplopnya saja sudah berdebar jantung ini sukar diredam, apalagi saat membuka sampul amplopnya dengan penuh hati-hati. seperti takut merobek isi di dalamnya. ibarat takut melukai isi hati si pengirimnya. membuka lipatan suratnya, pun makin tak keruan saja hati ini.
ehem!, diawali sapaan manis, "dear", hati langsung loncat-loncat gila. mata lalu tekun membaca runut pesan yang terangkai. "tulisannya hm," saya tersenyum dikulum. "berapa kali ya dia harus bolak-balik nulis surat ini, tulisannya rapi jali, tanpa cacat."

bayangkan, untuk menyampaikan rindu, dia perlu mempersiapkan semuanya dengan baik. pasti dia melarang si bad mood mengacaukan acaranya berkirim kabar via surat. dia perlu tinta warna hitam, bukan biru apalagi merah. karena hati yang cerah tak selamanya diwakili warna merah, bukan? dan pasti dia akan sangat dendam jika pak pos gagal menyampaikan suratnya kepada saya. "lha pakai sepeda, kapan nyampainya?"

rindunya tercetak rapi dalam baris per baris kalimat menjuntai bernada rayuan pulau kelapa. pantaslah, remaja belasan umur kala itu membuat cinta saya masih belum rasional ke dia. dikirimi surat saja berasa sudah jadi pasangan paling bahagia sedunia. padahal, setelahnya, bingung, kacau banget tanpa dia. hollow.
akhirnya, membaca surat cinta itu berkali-kali bagai mengisi udara buat hati yang sesak karena rindu. suratnya yang terus didekap erat, manakala rindu itu susah sekali dilawan. namun, surat-surat cinta itu harus berakhir dalam kotak berlapis yang kuncinya lalu entah nyelip kemana. melebur bersama berakhirnya hubungan kami selama 4 tahun.
pun, saya pernah merasai sensasi itu. membaca, menulis dan lalu mengirim surat kemudian harap-harap cemas apakah surat saya tiba di alamat yang benar, bagaimana perasaannya membaca surat saya? seperti itu juga mungkin perasaan seorang public figure (baca: artis) yang tenar di era 90-an. jaman dimana berkirim surat masih begitu asiknya.

bayangkan, ia membalas ribuan surat yang dikirim oleh penggemar-penggemarnya di seluruh penjuru negeri. tak ada yang lebih hebat dari sebuah cara klasik berkirim surat, saat itu. saya sendiri tak bisa membayangkan seandainya itu saya, tak akan sanggup. tangan saya hanya dua, dan terlalu sedikit waktu yang bisa saya curahkan untuk membalas pesan mereka satu-satu.

kapan terakhir kamu berkirim surat? pertanyaan itu nampaknya sudah tidak lagi relevan jika ditanyakan pada masa sekarang. bis surat dan pak pos seakan menjadi saksi bisu dari kejamnya perkembangan teknologi informasi. meski bis surat berwarna oranye itu masih gagah berdiri di perempatan jalan, atau pak pos tak lagi "ngonthel jengki", mereka semua mendadak ciut di hadapan si hebat teknologi.
di jaman yang semua serba mudah, kini cukup sekali sentuh tombol "SEND", sebait pesan singkat sukses terkirim. tak perlu effort tinggi, karena memang begitulah kejamnya teknologi.tak lagi ada perasaan harap-harap cemas menunggu di depan kotak surat, hanya untuk sekedar melongok, "sudahkah suratnya datang?"

perasaan saling memiliki pun semakin terkikis, seiring budaya malas tumbuh subur sebagai akibat peran teknologi yang mendominasi jaman. bayangkan, menulis surat butuh waktu dan pemikiran yang melibatkan perasaan saat menuangkan tulisan itu ke dalam selembar kertas. sementara, perasaan yang disampaikan lewat sebait pesan yang terbaca di layar ponsel atau monitor bisa begitu saja menguap, semudah menekan tombol "DELETE".
tak ada yang lebih indah, ketika tumbuh perasaan sabar menjalani sebuah proses kehidupan. seperti ketika mengirim surat. ada sebuah kerelaan mengikatkan diri ke dalam sebuah keintiman. menuliskannya, dan berharap dia membaca tak hanya dengan mata, tapi juga dengan mata hatinya. larut ke dalam perasaan haru biru si pengirim pesan.

lalu, saat menunggu surat itu tiba pada yang dituju, cukup pasrah dan ikhlaskan pada titah pak pos sebagai penyampai pesan. soal apakah akan tiba pada alamat yang dituju, dan bagaimana reaksi si penerima surat, ikhlaskan saja. toh, telah ada usaha untuk sampai pada titik itu.
seperti juga menjalani hidup, yang dibutuhkan hanya usaha dan doa. lalu bonus atas perasaan sabar menunggu adalah menerima berkah yang luar biasa. seluar biasa menerima surat cinta darimu, dear...

Friday, June 22, 2012

ada apa dengan chemistry?

chemistry itu ibarat tali penghubung...aku pegang ujungnya, kamu pegang pangkalnya...coba saling menarik, jika terasa getarnya, berarti aku dan kamu merespon satu sama lain. ini berlaku juga buat hati. jika hanya aku atau kamu saja yang merasakan getarnya, itu seperti merasai cinta yang bertepuk dengan udara, kosong.

acap kita mendengar cerita sepasang kekasih yang gagal mempertahankan hubungan ke arah yang lebih serius karena merasa tak lagi menemukan kecocokan. hal yang sama terjadi pula pada sepasang suami istri yang menjalani kehidupan pernikahan belasan bahkan puluhan tahun lamanya, lantas bercerai dengan alasan yang sama. tidak cocok.
dear, kekasih atau pasangan itu tak seperti sepatu yang bisa diganti mengikuti suasana dan cuaca. jika tak suka, tak cocok, lemparkan ke sudut ruangan, ganti dengan yang lebih cocok pun nyaman di kaki. lalu, "kalau nggak cocok, kenapa dulu nikah?". tanyamu suatu hari, yang lalu menimbulkan jawaban yang selama ini kita cari yaitu chemistry.
kata ini tidak berkaitan dengan ilmu kimia, meski dianalogikan sebagai reaksi antara dua unsur kimia yang berbeda. dalam bahasa awam, yang aku pahami, chemistry adalah kecocokan. seorang SBY sekalipun membutuhkan chemistry itu sebagai salah satu persyaratan yang diajukan dalam menentukan calon wapres, pendampingnya.

sebuah ketidakccocokan adalah hal yang wajar. ibarat air dan minyak yang memang tidak akan pernah bersatu. karena memang tak pernah ada yang ideal nan sempurna di dunia ini. namun, chemistry ternyata tak selamanya bisa diandalkan mengikat aku dan kamu. kecocokan itu pun bisa menjadi tak abadi.

menerawang gelagat beberapa pasangan suami istri yang nampak serasi, tapi sebenarnya mereka tengah menyimpan "terasi" dalam pernikahannya. tinggal menunggu waktu aroma yang keras menusuk itu tercium keluar. mungkin, karena saat saling mengenal dulu, mereka sedang memakai topeng kepalsuan di wajah mereka. sayang, chemistry terburu terpercik, dan tak bisa dibendung, mengalir kuat menuju hati.

hm, bicara chemistry memang terasa sangat complicated, ya. dulu pernah ada dan lalu menguap cepat menjadi tiada. entah kemana. semoga tak terjadi pada kita
mari cari penyebab si chemistry itu datang dan mengobrak-abrik bilik hati kita. gegara jatuh cinta, dear. dua kata mujarab itu konon merupakan salah satu perilaku atau keadaan otak yang paling tidak rasional, yang dialami aku dan kamu yang mencinta. otakku mendadak bekerja tidak logis, karena dibekap rasa asmara. sehingga mata hati pun ikut buta akan segala kekuranganmu. ini keadaan diluar kesadaran. tak bisa mengelak, apalagi abai. jelekmupun aku terima.
perasaan cinta tersebut muncul setelah mata menerjemahkan ketertarikan pada fisik, lalu dari mata, tumbuh perasaan nyaman yang muncul di dalam hati dan memercikkan getar asmara yang lalu ditengarai sebagai lecutan chemistry. tapi apa alasan, kenapa chemistry bisa tiba-tiba hilang?

penyebabnya, karena tali hati yang saling mengikat itu mengendur, perlahan. getar-getar cinta yang dulu dirasa, tergerus bersama waktu, dan melemah, lalu hilang bersama cinta yang menguap bersama udara.
sementara, kata tante Joyce Catlett, ahli kesehatan mental dan pengarang buku Sex and Love in Intimate Relationships, yang aku pun belum pernah bertemu apalagi bercakap dengannya -- daya tarik seksual tidak berhubungan dengan waktu, dear. chemistry yang tak lagi dirasakan tersebut lebih disebabkan oleh rutinitas yang dijalani bersama pasangan dalam waktu lama, yang terasa semakin membosankan. hm, soal itu aku sepaham dengan tante Joyce. ru-ti-ni-tas itu seperti berputar pada sumbu, tapi hanya melihat ke depan. bosan.
daya tarik seksual itu dipengaruhi oleh munculnya hormon feromon, yang merupakan sinyal bawah sadar yang diproduksi oleh tubuh untuk menarik lawan jenis. sinyal yang tercium melalui aroma tubuh yang tak berbau tersebut, dipercaya dapat memengaruhi tingkah laku dan emosi seseorang terhadap lawan jenisnya.

ingatkah, bahwa aku dan kamu adalah dua pribadi yang berbeda namun saling melengkapi? cobalah kita kembali mengingat hal tersebut untuk membantu menjaga chemistry itu tetap ada di dalam hati. karena tak berarti aku dan kamu telah menjadi pasangan sehati, lalu saling 'memaksa' untuk selalu satu suara, bukan?
aku mungkin bisa setuju dengan kamu dalam beberapa hal, tapi boleh kan, dear kalau aku menyampaikan gagasan dan pemikiranku sendiri. percayalah, cara kita bertukar pikiran dan debat sehat di atas ranjang kita adalah salah satu cara menjaga hubungan yang terjalin ini tetap mesra.
aku menyetujui caramu yang sesekali membuatku penasaran dengan sikap misteriusmu, menantang dan sulit ditebak. tapi, bukan berarti aku sedang menghalalkan kamu boleh berbohong lho, dear. satu lagi, tentang rasa nyaman. aku menyukai saat kita punya banyak waktu untuk melakukan apapun bersama dan membuat itu sebagai hal baru yang menyenangkan. konon, itu juga merupakan poin penting menjaga getar cinta antara aku dan kamu tetap terasa

dan kamu, bagaimana rasanya saat chemistry itu memercik di dalam hatimu? next time, saat lega waktu kisahkan itu padaku, ya...



Saturday, June 09, 2012

hei, Juno

pagi ini sibuk mendera luar biasa, ada janji yang harus ditepati, ada agenda yang harus dikerjakan. napas Juni memburu. coba ada yang menenangkan Juni dengan salam hangat, setidaknya mewakili hadir di setiap helaan napasnya. feedback dari sinyal ponsel Juni tiba-tiba terdengar, menelusup ke gendang telinga. meski pakai headset, suaranya tak sopan, mengganggu. "ngiiiiinnggg..."

Juni sudah mirip peramal, tahu betul feedback itu selalu datang bersamaan dengan bunyi dering ponselnya. entah sms, entah panggilan. dilirik ponsel itu segera. hm, layar ponsel jadul itu tak memunculkan nama. Juni coba menerka, "apa itu kamu yang barusan ingin menelponku? kamu kangen ya?" Juni lagi-lagi sangat percaya diri, dia yang ditemuinya semalam sedang ingin mengusilinya.

siang menjelang..

kaki Juni diseret, dengan langkah gontai, diantara terik siang yang menyengat tubuh. matanya memincing, karena pendar cahaya matahari di atas kepala menghalangi pandangan. tangan Juni reflek memayungi mata, membentuk wajah yang panas kepayahan. ia geli melihat Juni. disejajarinya langkah Juni, kanan, kiri, kanan, kiri. bayang tubuh tingginya membantu menutupi tubuh Juni yang terpapar sinar matahari. "hei, untung ada kamu, pria setinggi tiang listrik," juni terkikik, dia meringis. "semalam pulang jam berapa, obrolan kita tertunda, padahal aku ingin ngobrol sampai pagi lo.." Juni tak juga berhenti berkicau, nyerocos, lalu tersenyum, dan ia membalasnya dengan tatapan penuh arti.

Juni memasuki bus yang menantinya di shelter. membawanya pulang merambati jalanan menuju senja. tak ada alasan Juni untuk bertanya ini itu padanya. melihat ia berdiri mematung, diantara puluhan orang yang berjejal di dalam bis yang membawa Juni pulang, sudahlah membuat Juni senang. sekilas dari ujung mata, Juni bisa menangkap bayangannya tengah memperhatikan gerak gerik Juni dengan seksama. Juni mengarahkan pandangannya, dan lagi-lagi ia tersenyum. kulitnya pucat, wajahnya kaku, namun seulas senyum itu begitu hangatnya. Juni membalas senyum itu. dan orang-orang di dalam bis malah menganggapnya sedang gila cinta. "kayak lagi digoda setan, tuh..senyum-senyum sendiri.." bisik-bisik mulut busuk terdengar memenuhi telinga Juni.

malam merambati hari..

Juni terpekur di sudut ruangan, terbaring di atas kursi malas favoritnya. sendiri seperti ini begitu menyiksa Juni. apalagi cuaca dingin di rumahnya yang terletak di perbukitan di malam hari seperti ini sangat menusuk kulit. kalau sudah begitu, mau tak mau angannya kembali dipaksa masuk ke pusaran masa lalu. kembali ke masa setahun lampau.

...Juni belum lama mengenalnya, namun ia telah merasa, pria yang memenuhinya dengan banyak inspirasi itu adalah belahan jiwanya. sebagai penulis, pemikiran-pemikiran pria yang dipanggilnya tiang listrik itu memang selalu sanggup memukau Juni. dalam rentang dua tahun perkenalan mereka, belum pernah keduanya saling bertemu. bahkan membaca wajah dan suaranya sekalipun. selama itu, Juni hanya mengenalnya di ruang simulakrum.

aneh. ya aneh, tapi mereka menikmati hubungan itu. hingga di suatu hari, dalam percakapan di ruang simulakrum, Juni mendesaknya dengan banyak tanya. "hei, tiang listrik, maaf, bukannya riwil, kalau boleh tahu, siapa sih namamu?, masa setiap kita bincang aku harus memanggilmu tiang listrik. Oke..oke, kamu hitam, tinggi. tapi apalagi yang bisa aku bayangkan dari makhluk sepertimu. apa wajahmu tampan, setampan pemikiranmu?.."

ia disana terkekeh, dan lalu mengetik sebuah pesan.."aku kalah tampan dengan pemikiranku, kecil." kecil adalah sebutannya untuk Juni. baginya, apalah arti sebuah nama, "toh, aku lebih suka memanggilmu kecil, meski kamu punya nama yang cantik".

"hei, kecil, apa kamu penasaran denganku?" Juni yang disuguhi pertanyaan macam begitu malah makin tertantang untuk bertemu.

"tentu saja, tiang listrik..aku hanya perlu memastikan tinggimu dan seberapa hitamnya dirimu.." Juni mulai usil, dan ia suka melakukan itu pada si tiang listrik.

"baiklah, aku yakin saat pertemuan kita nanti, bukan hanya tampan yang akan kamu lihat, tapi banyak hal dari aku yang bisa kamu serap." Juni semakin penasaran.

"jadi, kapan kita bertemu?..."

senja itu, tepat di pertengahan Juni, Juni menunggu hadirnya pria yang membuat hatinya kerap tak menentu. membuatnya makan susah, tidur payah, mandi ogah. seperti dijanjikan tiang listrik padanya, ia akan menyebutkan namanya saat pertemuan mereka nanti.

waktu terus merambat, hampir meninggalkan senja. yang ditunggu tak kunjung datang. Juni semakin gelisah. "kamu bohong, tiang listrik" kaki Juni dihentak-hentakkannya ke lantai, bingung. ponselnya tiba-tiba berdering, "Junii..papa lagi ada masalah, menabrak orang, sekarang papa lagi di rumah sakit..." suara papanya diujung sana makin samar terdengar. hiruk pikuk suara menelusup ke telinganya. gaduh.

Juni tiba-tiba merasa pusing.

...
...

"hei, Juni..." pria setinggi tiang listrik itu tiba-tiba telah hadir di hadapannya. menyadarkan Juni yang tersadar segera dari lamunannya.

"hei.." Juni membalas senyumnya. diantara senang yang hadir, Juni lalu kembali tersadar, "eh, tunggu dulu, bagaimana bisa kamu tahu namaku. maaf, kita sudah sering bercakap, tapi belum sekalipun aku menyebutkan namaku.." Juni tiba-tiba merasa asing.

"ceritanya panjang, Juni..aku datang padamu setelah sekian lama kita memendam rasa. janji pertemuan itulah awal sekaligus akhir dari kisah kita. akulah pria yang beberapa tahun lalu membuatmu terusik. yang kamu cari dan ingin sekali kamu mengenalnya.."

"waktu rupanya tak pernah berpihak pada kita. saat perjalanan menuju kafe tempat kita akan bertemu, sebuah mobil melaju kencang dan menghempaskan tubuhku ke atas trotoar yang dingin. aku terbang, Juni..dan disinilah sekarang aku berada, bersama dengan jiwa yang akan selalu mengingatmu.."

Juni tercekat. tenggorokannya kering seketika. ini seperti puzzle utuh yang akhirnya menemukan kepingan terakhirnya. jawaban atas pertanyaan yang bercokol di kepalanya setahun yang lalu adalah tentang ini. kematian pria yang dicintai yang belum sempat ditemuinya.

"kenalkan..aku Juno.." tangan kekar dinginnya menyambut tangan Juni yang menghangat.

Juni seperti menemukan sebuah oase..begitu indah nama itu terdengar menelusup masuk ke telinganya.

"hei, Juno.." ..

"iya, ya, kamu memang setinggi tiang listrik, dan lihat aku si kecil yang kamu rindukan.." lalu keduanya tergelak sama-sama.

dan selalu ada perbincangan di tengah malam, diantara sunyi yang mencekam, dua makhluk hadir menyatukan rasa. Juno dan Juni. sejoli yang ditakdirkan bersama. di alam yang berbeda.


*just my imaji

*inspired by song with title "Story Of Peter" - Sarasvati Band


Friday, June 08, 2012

semoga, kekasih..

mendekapmu terlalu erat, berharap tak ada perpisahan, rasanya terlalu egois jika aku melakukan itu semua. sedang jauh disana, seseorang tengah menantimu, meski dia pernah menyakiti perasaanmu.

"aku terluka saat itu," Adit nanar menatap laut, lukisan semesta yang kerap ia kunjungi bersama Gita, sekedar menikmati magic hour, sebuah keindahan senja di tengah samudra.

"dan kamu mengganggapku bisa menyembuhkan lukamu?" Gita bukan sedang tengah membangun rasa percaya dirinya, ada ragu menyelip, mengusik kenangannya dulu bersama Aditya Wiguna, kawan karibnya, saat berada dalam satu tim project kantor.

keakraban antara ia dan Adit semakin membuka jalan keduanya saling menangkap sinyal dan getar debar yang semakin kuat mereka rasakan. namun, waktu memang tak pernah bisa dibeli apalagi dimengerti. hari ini indah, tapi belum tentu esok. ada perih, pedih yang juga dikecapnya. luka itu selalu kembali menganga, manakala membaca takdir, dan nyata-nyata keduanya tak bisa melawan takdir itu.

"entahlah, aku bahagia bersamamu, itu saja," Gita tak menyukai jawaban Adit. bahagia yang seperti apa jika sadarnya adalah menyakiti hati dua perempuan sekaligus. ia dan Dara, istri Adit.

"sepertinya kamu hanya akan menambah luka baru, Dit," sayu mata Gita, memancar lelah yang mendera. seonggok duri di tengah perjalanan, kerap mereka temui. "aku menyukai ketabahanmu dulu yang bersedia menunggu" Adit menyentuh rambut Gita yang menutupi wajah ayunya. "oh, seandainya saja..waktuku saat itu lebih cepat untuk menemukanmu lebih dulu.." Adit menghela napas, ruang dadanya terasa begitu sesak.

apa lagi yang bisa mereka berikan satu sama lain selain penghiburan. cinta mereka begitu sederhana, meski bisa jadi begitu rumit. tak hanya butuh emosi yang stabil, Gita dan Adit juga tak bisa abai begitu saja pada logika. meski rasa itu begitu kuat membelenggu jiwa, kenyataanlah yang tak bisa membawa mereka kemana-mana. sadar mereka, kisah yang terjalin ini bisa saja berakhir menyedihkan. atau bisakah berakhir membahagiakan? entahlah!

hingga tiba di satu titik terendah, seperti menaiki rollercoaster dan tiba pada turunan. Gita mulai merasa nyalinya menciut.

"aku lelah, Dit," saat ini kebahagiaan itu terasa tak lagi penting bagi Gita. ia merasa hanya berputar-putar, timpang, bimbang dan merasa pusing saat kakinya menjejak di semesta milik Adit.

apa perlu umbar kata cinta, kecuali kenyaatan pahit yang begitu manis itu ingin mereka perlihatkan pada dunia. dan akhirnya menjadi mafia adalah jalan yang mereka pilih. menyembunyikan cinta mereka di ranah bawah tanah, dan entah kapan punya masa untuk merambati permukaan yang cukup terjal. butuh usaha berpeluh keluh mencapai puncaknya.

pertemuan keduanya pun harus tersusun begitu rapi. "maklumi aku ya. ada dia yang ingin kuabaikan tapi aku tak bisa, sayang." atas nama tanggungjawab menjaga tautan pernikahannya, Gita rela melihat Adit dan istrinya bahagia. ya, mengalah, meski ia tahu tak akan pernah menang.

"aku kan hanya tukang antar jemput paket, Git," status yang lebih hebat untuk seorang Adit, daripada seorang suami yang punya harga diri, namun sama sekali tak pernah dianggap oleh wanita yang ia pilih menjadi istri itu.

cukup saling bertukar sinyal, begitulah dua makhluk yang saling mencinta itu mulai mirip alien. punya tentakel diatas kepala yang akan menyala terang jika keduanya akan bertemu. selintas lalu Gita mengingat pesan Adit yang membuatnya tiba-tiba getir.

"simpan semuanya dengan rapi, atau cinta ini akan terkikis habis seiring dunia tahu dan mengecam kita, sayang,"

hingga suatu kali Gita harus menerima keluhan, saat sinyal Adit salah ditangkap dengan baik. "bagaimana bisa aku bahagia, Dit, kalau dengusanmu itu semakin banyak padaku. kamu seperti meminta yang tak bisa aku berikan. maaf, aku memang bukan pembaca pesan yang baik, jadi tolonglah harap mengerti" Gita ingat betul, saat itu ia harus mengikuti skenario Adit, mengajak bertemu untuk sekedar merapat bersama.

istilah merapat yang lalu menjadi kode mereka akan beruang bersama, sekedar mengais waktu yang tersisa untuk mereka nikmati sama-sama. membagi kangen, membagi mimpi, cerita bahkan pemikiran mereka tentang banyak hal. brainstorming di tengah siang, sembari memadu cinta, mengentaskan gairah.

Gita tak bisa membaca rencana Adit, ia terus bertanya. Adit merasa Gita pura-pura tidak tahu tapi mencecarnya dengan banyak pertanyaan. "berhentilah bertanya, sayang. duduk dan nikmati saja skenario kita keluar dari sarang persembunyian ini."

pemikiran-pemikiran Gita yang dulu membuat Adit terpukau menguap entah kemana. kini ia tak lebih seperti kerbau bodoh yang harus menuruti perintah tuannya. "inikah yang kamu inginkan, memenjaraku dengan ego dan membungkam cinta yang ingin aku teriakkan lantang ke udara bahwa aku mencintaimu, Dit" Gita diam, terpekur membeku. "..dan semakin lama, aku tak lagi merasakan bahagia itu. cintamu tak lagi sederhana, kau tahu?" suara Gita terdengar lirih, hampir tak terdengar.

pengakuan Gita serasa bagai bom waktu yang telah disimpan lama, dan kini pemicunya telah ditarik dengan sempurna. meledak tepat mengenai hati Adit, menghamburkan berjuta partikel yang siap merajam, membekap jantungnya hingga terasa napasnya tersengal, berat. dan wanita di hadapannya itu kini memilih menghindar dari tatapan sedih Adit.

"maafkan aku, sayang, aku telah kasar dan melukai perasaanmu" Adit tak kuasa melawan takdirnya. sadar ia dan Gita terikat erat dengan norma, status dan lingkungan sosial yang memagari keduanya, hingga tak bisa leluasa saling menyentuh. cinta yang mereka redam semakin lama merajam hati, dan kini melukai Gita  dengan sempurna.

Gita tak pernah tahu, atau mungkin Gita tak pernah peka pada perasaan Adit. sejujurnya, Adit merasakan yang sama. ada cemburu yang membelenggu, namun Adit rela disiksa rasa itu. "kabar baik tentang dia yang masih begitu perhatian padamu adalah obat. meski begitu pahit aku menelannya. tapi senyatanya aku perlu turut bahagia untukmu, sayang," Adit tetap mencari sepasang mata itu yang terus menghindar dari tatapannya.

"aku mungkin tak akan pernah bisa memilikimu, Gita. namun jika kau tanyakan sebesar apakah hatiku padamu, maka jawabnya adalah sebesar cinta itu sendiri. ialah yang mampu menampung segala rasa yang aku miliki padamu," Gita seperti tengah mendengar suara hati kekasihnya, begitu nyata terbaca telinga. wajahnya mendongak, menatap dalam mata hitam Adit, dan menemukan ketulusan itu disana.

"aku tahu kamu telah lelah dengan semua ini, maafkan aku.." Adit membelai rambut coklat Gita, menyunggingkan seulas senyum.

"lalu, apa yang bisa membuat kita bisa bertahan dengan semua ini, Dit?"

"bebaskan cinta kita, sebebas-bebasnya..pada saatnya nanti ia akan kembali memenuhi jiwa kita dengan semangat dan asa yang dibawanya serta. tahan kangen itu, dan suatu saat biarkan kangen itu menguasai hati kita. believe me, dear, kangen yang kutahan padamu inilah yang selalu sanggup membuatku terikat, tertaut hati padamu."

"ya, padamu Gita Karisma, istriku..semoga, suatu saat nanti, sayang..." kini Adit mendengar sendiri suara hatinya berkata.

Gita masih menatap Adit yang memandangnya penuh arti, mencari kekuatan pada sepasang mata itu "entah kapan cinta ini akan berlabuh pada dermaga yang kita tuju, sayang..semoga ketabahan ini tetap kita miliki hingga saatnya kita menciptakan takdir kita sendiri..semoga.." begitu lirih suara hatinya, namun menyelipkan jutaan asa



kilau langit senja di tengah gelombang samudra ditingkahi suara camar melintasi lautan, jadi saksi pertautan cinta mereka. entah sampai kapan.

*just my imagination


Wednesday, June 06, 2012

Apakabar?

apakabar hari ini, sehatkah, sudah makan belum? *kalau belum makan, beli sendiri, jangan suka ngrepoti minta traktiran*
tanya kabar acap terlontar manakala bersua setelah lama tak jumpa. sekedar kalimat sederhana, namun mengandung umpan mujarab. yang ditanya jadi merasa diperhatikan, dipedulikan. yang bertanya pun serasa mendapat jawaban melegakan. "syukurlah, Alhamdulillah, kamu baik-baik saja". inlah cara menumbuhkan sikap empati dan peduli pada sesama saudara, pun pada yang terkasih, entah kekasih atau pasangan jiwa.


begitulah adanya, bertanya kabar, sebagai ajang menautkan tali silaturahmi yang *mungkin* sempat terputus. apalagi kalau bukan karena jarak, bahkan perbedaan sikap, cara pandang juga pemikiran, dua anak manusia yang saling memanjakan ego memilih tak pernah lagi bertukar kabar. bertemu lawan kok kayak ketemu setan. takut, menghindar, melengos, lalu mlipir pergi sambil ngedumel "asem ik, ketemu meneh karo cah kuwi" (asem ya, ketemu lagi sama anak itu, red).

saran saja nih, sebelum pikiran negatif menari-nari di atas kepala, mending aktifkan sinyal positive thinking di dalam benak. daripada datang ngajakin debat kusir, atau parahnya menghindar bertemu, mending tanya saja kabarnya. dijamin si lawan bingung, masang muka bego. "hah, kok dia jadi baik gini ya, tanya kabar pulak". karena sebelum hatinya mengering akibat kebencian yang terus menumpuk, sirami jiwanya dengan sikap pedulimu. tak salah lebih dulu bertanya kabar. pahala surga toh sudah menambah padamu.

mama saya pernah berkisah, tentang Alm eyang yang pernah berujar begini,
"kalau tidak ada kabar dari anak-anak, itu berarti mereka baik-baik saja" 
hm, bisa jadi benar, tak perlu mengabarkan kabar buruk, dan cerita sedih, karena hanya akan membuat orang-orang yang terkasih merasa dibebani banyak pikiran dan pertanyaan. entah, pada akhirnya, kabar baik yang seharusnya dibagi pun lantas pelit juga dikabarkan.

duh, saya malah punya kawan yang malas ditanya kabar. karena merasa tidak bisa memberikan banyak waktu untuk kekasihnya, dia meminta sang kekasih untuk tak usah repot-repot bertanya standar, "sudah makan belum?, jangan lupa makan ya?" baginya, pertanyaan-pertanyaan itu serasa menyudutkannya. begini kira-kira kawan saya itu curhat bebas ke saya,
"pertanyaan itu malah seperti alarm dia buat ngingetin gue, nih liat kekasihmu yang jauh dari kamu sekarang pun juga butuh diperhatikan. sekedar kasih feedback kek, tanya balik, kamu juga sudah makan belum, sayang?..duh gue ga bisa deh begitu."
saya yang dicurhati malah makin miris dengernya. sementara kekasihnya yang juga kawan dekat saya justru tak pernah merasa terpaksa bertanya kabar. dia tulus dan merasa peduli pada kekasihnya yang terpisah jarak. bertanya kabar, itu sudah cukup baginya. "hanya agar dia tahu, aku peduli dengannya, meski kita jauh"

dan agar tidak tersesat pada cinta yang lain, saya infokan ya, bertukar kabar itu merupakan bagian dari ritual menjaga api cinta tetap menyala. "dulu saja pas pacaran, dia suka riwil tanya kabar tiap setengah jam sekali, deuh sampai pusing jawabnya." tapi kini, setelah akhirnya memutuskan hidup bersama dalam satu atap rumah tangga, ritual itu entah terselip dimana. lupa atau pura-pura lupa. hilang, seiring abai perhatian yang mengikis bersama waktu.
tanpa sadar, pasangan jiwa telah memutuskan menemukan cintanya yang lain. pergi menyatu pada jiwa yang lebih peduli.
saya ingat betul pesan dari mama saya, bukan tentang jumlah warisan yang diwariskan kepada tiga putrinya. sebuah pesan sederhana saja, "kalau mama sudah meninggal, tetaplah saling menjaga silaturahmi diantara kalian" begitulah jarak yang memisahkan, dengan menjalani kehidupan yang sudah kami pilih di masing-masing kita, bukan berarti harus memisahkan kedekatan emosional dan hati diantara kami, saudara satu darah.
"susah, sedih, suka dan senang bagilah sama-sama. dengan begitu kalian bisa saling menguatkan, saling mendukung, ketika ada satu yang rapuh dan terjatuh, maka yang lainnya akan menopang dengan semangat yang ditiupkan meski dari jauh"
ah, lalu kamu, sudahkah menanyakan kabar pada yang terkasih hari ini?


*nyampah juga disini

Saturday, June 02, 2012

Mimpi Coklat yang Tak Pernah Terbeli

coklat, saya menggilainya. sangat! warna, rasa, sensasinya saat lumer di mulut, hmm. susah diungkapkan dengan kata-kata. mengungkap kasih sayang lewat sebentuk coklat pun lazim terjadi pada setiap pasangan yang tengah kasmaran dan mencinta. dan jangan pula pernah menolak coklat dari pria yang punya perasaan dalam padamu. let him know, you're very special.
 
seorang anak tengah menguliti biji kakao

begitu tragis, miris, dibalik indah dan manisnya momen berbagi coklat, berbagi kasih sayang, saya terhenyak ketika membaca fakta. puluhan ribu anak-anak miskin di sepanjang Pantai Gading, Nikaragua dan Mali, Afrika Barat justru didera siksa karena dipaksa bekerja memetik biji kakao dengan upah seadanya.

pada jaman yang telah menghapus segala bentuk perbudakan, nyata-nyata hal tersebut masih terjadi. kemiskinan yang merajalela dan menjadi peer yang tak pernah tuntas di negeri kita, seakan menjadi pembenaran bagi orang-orang gila yang ingin mengeruk keuntungan untuk memperkerjakan anak-anak di bawah umur.

semua abai, semua menutup mata, dengan dalih kemiskinan, pelbagai pihak mulai dari petani, pedagang grosir, sampai eksportir, kompak menutupi fakta ini dengan segala cara, bahkan perantara yang mengirimkan anak-anak untuk diperbudak sampai biji-biji kakao itu berubah jadi coklat malah ditambah.

apa sih rasanya coklat?, bahkan mereka tidak tahu apa itu coklat. jemari, tangan hingga tubuh ringkih mereka masih harus terus bekerja, tak jarang kerap terluka. kepala mereka bahkan tak lagi dipenuhi angan dan ingin bermain ke pantai, berlarian mengejar layangan putus atau main gundu bersama teman-teman sebaya. kerja rodi telah menanti.
coklat itu bikin tenang, bikin senang, nak, tapi apa lacur, mengetahui kalian tak pernah senang apalagi tenang terus diawasi saat memilih biji-biji kakao itu. coklat telah merusak memori masa kecilmu, nak..memenuhinya dengan memori mengerikan.
ya, mengudap coklat itu terasa bagai memasuki surga dunia. ironis, suatu saat kalian punya kesempatan menikmati coklat, itulah neraka dunia yang pernah kalian kecap.

apa yang bisa saya perbuat untuk menghentikan mimpi burukmu, nak? berhenti makan coklat, mungkin. saya tak punya kuasa untuk menghentikan mereka yang telah memperlakukanmu dengan begitu buruk dan kejam, yang telah mencuri mimpi-mimpi dan inginmu, bahkan untuk bisa makan coklat sepuasnya.

dan meski kita berada di bawah naungan matahari dan bulan yang sama, sesungguhnya nasib dan takdir kita telah ditetapkan sang pemilik semesta. kenyataan di depan mata yang terjadi atas kalianlah yang menumbuhkan empati saya kali ini.
terimakasih telah menyadarkan diri untuk terus bersyukur, nak. ditengah hujan syukur masih bisa merasakan nikmatnya coklat, saya dikaruniai dua malaikat kecil yang tumbuh sehat, ditengah dunia yang kita semua tahu, terkadang kejam. dunia yang mungkin tidak adil bagimu.
malaikat kecil saya bukan penggemar coklat (permen coklat atau coklat batangan), meski dia bisa sesuka hati meminta dan saya meluluskan pintanya. si ganteng, sapaan akrabnya, tergolong anak yang picky eater (suka pilih-pilih makanan). mungkin dia tahu, terlalu banyak makan coklat bisa merusak giginya, seperti juga kalian, mengingat coklat, hanya akan merusak memori.

kelak saat ia beranjak dewasa, kisah kalian ini akan saya ceritakan padanya. dan semoga ia akan setuju, penolakannya terhadap coklat adalah bentuk kepeduliannya terhadap nasib kalian.

* sebuah repost

* video by Scorpion (Under The Same Sun) acoustic version. Scorpion adalah salah satu band yang kerap mengusung lagu-lagu balada bertema kemanusiaan dan peperangan. 'cause we all live under the same sun, we all walk under the same moon, then why, why can't we live as one


Friday, May 18, 2012

Across The Universe, Hanya Cinta yang Mampu Menyembuhkan

Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah. Across The Universe hadir di tengah ruang keluarga, tak hanya sekedar menyuguhkan drama musikal dibalut roman percintaan, bergenre remaja yang tengah mencinta. Namun, terlihat klasik manakala disandingkan dengan sejumlah lagu-lagu The Beatles yang menguatkan jalan ceritanya.

Film ini seperti sebuah ajang reuni para Beatles Lovers dengan lagu-lagu The Beatles. Setidaknya 30-an lagu The Beatles berputar dari awal hingga pungkasan film. Lalu, apakah hanya sebuah kebetulan, seting film dibuat sekitar tahun 1960-an? kala itu perang Vietnam memang tengah berkecamuk. Tepat, saat itulah grup musik The Beatles terlahir, lalu tumbuh, besar, dan melegenda hingga sekarang.

Jude diperani Jim Sturgess, di awal film berputar, diceritakan tengah mencari ayahnya yang dianggap tak bertanggungjawab, meninggalkan ia dan ibunya yang papa, di pinggiran kota Liverpool. Jude lantas nekat meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Amerika, menjadi imigran gelap. Demi satu kata, meminta pengakuan ayahnya. Di Amerika, Jude berkenalan dengan Max (Joe Anderson). Pengisap ganja, penyuka kebebasan, yang merasa hidupnya tak berguna sementara ia tak pernah ditanya tentang perasaannya, karena ayahnya lebih suka menuntut.

Bertahan hidup di Amerika yang bebas, Jude dan Max pun berbagi apartemen dengan Sadie (Dana Fuchs), seorang hippies dan kekasihnya Jo-Jo (Martin Luther) yang memiliki grup band. Selain itu, disana tinggal pula Prudence yang melarikan diri dari rumahnya dan berkelana karena merasa kesepian, tak berguna dan jomblo.

Sementara, Jude yang semakin dekat dengan Max, semakin menaruh hati pada Lucy (Evan Rachel Wood), yang tak lain adik Max. Sampai disini, kisah cinta yang disuguhkan masih terasa biasa. Gadis muda, ceria, kaya, tertambat pada cinta seorang seniman yang tampan menawan. Namun, tak sekedar bicara cinta, mereka juga dihadapkan pada pencarian makna dan tujuan hidup mereka, menjadikan kisah cinta yang disuguhkan dalam film ini terasa lebih kuat. Bahwa, kita bisa memaknai, apapun gesekan yang memperparah sebuah hubungan hanya bisa disembuhkan oleh kehadiran cinta. Ya, All you need is love, seperti kata Beatles.

Bolehlah saya menjura untuk sang penulis skenario, Julie Taymor, Dick Clement dan Ian La Frenais yang "menggodok" skenario dengan sangat baik. Menghadirkan nama tokoh Jude, Lucy dan juga figuran Prudence yang memiliki kesesuaian dengan judul lagu-lagu The Beatles. Sebuah kesengajaan yang pintar, kalau saya bilang.

Scene by scene itu runut hadir di sepanjang film berputar, misalnya saat Max menyemangati kawan dekatnya dari jauh dan lalu menyanyikan "Hey Jude". Sementara, "Dear Prudence", melantun indah, saat Prudence dibujuk kawan-kawannya karena mengurung diri di kamar. Pun, saya menyukai adegan Jude menyanyikan "Something", saat ia tengah menikmati wajah kekasihnya, Lucy, yang tertidur dan melukisnya di selembar kanvas. Dan "Lucy In The Sky with Diamonds" akhirnya menjadi penutup yang menggemaskan.

Across The Universe yang dibesut di tahun 2007 tersebut dihadirkan dengan gambar-gambar yang disajikan sangat imajinatif, dan bagi kamu yang tidak menyukai dunia khayalan, hal ini mungkin membosankan. Simbol-simbol bertebaran sebagai perwakilan dari ide-ide yang ingin disampaikan sang sutradara, Julie Taymor. Visualisasi proses wajib militer yang keren sangat, misalnya.

Pun, Julie Taymor menggambarkan dengan begitu apik, situasi berdarah, dan karut marut di medan peperangan melalui sepotong strawberry merah, yang segar dan begitu menggoda. Semakin asik dinikmati lewat lantunan vokal Jude yang menyanyikan "Strawberry Fields Forever". Jim Sturgess dan Evan Rachel Wood pun boleh pede bernyanyi berkat tangan dingin Elliot Goldenthal, yang mengaransemen ulang lagu-lagu The Beatles sehingga semakin enak dinikmati. Sementara, tak kalah juga penampilan dari Joe Anderson, Martin Luther dan TV Carpio yang mengesankan.

Hmm, sejatinya memang inilah film yang didekasikan bagi para The Beatles Lover di sepanjang alam semesta (Across The Universe)


Friday, April 27, 2012

Semenjana

"Aku hanya punya sederhana yang bisa kubagi denganmu, Dra. Maaf, karena kamu pemilik sempurna, sepertinya bukan aku yang sedang kamu cari.." Nja berlalu. Ada sesak mendera dada, Dra membekap erat, sakit, namun ketabahannya mengalahkan sakit itu.

"Dan aku menyukai situasi sederhana, Nja. Sederhana yang penuh cinta. Di kenyataan aku tidak setiap saat menerimanya, membaginya. Hanya hati yang bisa menyimpan semua yang tidak bisa muncul ke permukaan. Hatiku nyatanya memang memujamu, dan tidak bisa menahan untuk juga memujimu, Nja, apalagi dengan penerimaanmu atas aku, pemikiranku, hatiku. Terima Kasih, Nja." Dra membatin, meyakinkan diri, ia memang tak pernah salah membiarkan hatinya menuju pada Nja yang sederhana.

Mahal bagi Dra hanyalah sekedar label, "aku hanya berusaha menghargai lingkungan yang menerima kehadiranku, Nja. Tampil bersih, segar, meski dengan label "mahal" yang melekat, itu berarti aku telah bertanggung jawab atas raga yang menopang jiwaku. Lagipula, jangan pernah sandingkan label mahal itu dengan betapa senangnya aku mendapati pemikiran, rasa dan sikap sederhanamu, Nja.." Gusar Nja atas sikap Dra selama ini lantas memunculkan riwil lewat jawaban panjang lebar Dra.

Ada serupa bahagia mengaliri bilik hati Nja, begitu tiba-tiba dan Nja tak kuasa membendungnya. Jika ruang kubikal, di pojokan, tempat favorit Nja menulis itu gelap gulita, mungkin saat ini wajah Nja yang terang benderang, cerah, bagai mentari sudah cukup menerangi gelap ruang kubikalnya, "Bincang kita ini menyadarkan aku, selama ini aku telah salah menilaimu, Dra."

Dra tak pernah gentar, masih dengan tabahnya ingin menghabiskan waktu meski hanya sebentar untuk bertemu Nja. Ia mensejajari langkah kecil Nja yang setengah terburu segera menuju senja, tempatnya kembali pulang pada semesta dan takdirnya. "Aku antar pulang ya," Dra menggenggam tangan Nja erat menuju shelter di seberang jalan.

Sontak kaget Nja tak bisa ditutupi, langkahnya yang sempat memburu perlahan meringan. Ia merelakan diri, Dra membawanya pulang menuju senja. Ada hangat yang mengalir lembut, merasuk ke dalam jiwanya, serupa bahagia. "Kamu yakin mau ikut pulang bersamaku, Dra?", rupanya Nja masih perlu meyakinkan dirinya sekali lagi, ini bukan sekedar taktik Dra memanipulasi hatinya.

"Aku harus memastikan dirimu baik-baik saja, Nja." Bis yang mengantar Nja dan Dra perlahan merambati jalanan. "Sebelum jeda kembali bertemu pagi, bertemu kamu, inilah yang bisa kulakukan, Nja. Meminjam sedikit waktu dari yang aku punya, menatapmu meski sebentar, sebelum kelam malam menjemputmu pulang menuju takdirmu," Dra memandang lekat mata coklat Nja. Tak lagi ia hiraukan pandangan orang-orang di dalam bis itu yang seperti sedang menonton drama romantis.

Nja jengah, namun ia tak kuasa menolak tatapan itu. Sesekali Nja berusaha membuang pandangan keluar jendela, sambil bergumam, membaca baliho-baliho besar dan plang yang berjajar di sepanjang jalan. Memanjakan kebiasaan yang sudah dilakukannya sejak kecil. Lewat sudut matanya, Nja menangkap Dra tengah menikmatinya. Namun, magnet mata Dra seperti menariknya untuk kembali menatap mata coklat itu, mata yang sama seperti miliknya.

Hingga tetiba di shelter, saat tangan mereka saling berjabat dan janji yang terucap, "Esok kita bertemu lagi ya, selamat istirahat, Nja," Dra mengenggam tangan Nja, hangat. Pada perpisahan itu, Dra leluasa mengamati punggung Nja setelah mereka sama-sama menuruni tangga yang berlawanan di shleter terakhir itu.

"Inilah diam yang menyiksaku, memandangi punggungmu hingga tak lagi nampak di pelupuk mata, berjalan menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandanganku, Nja. Ya, shelter terakhir itulah saksi perpisahan kita." Batin Dra. Dan, Nja rupanya sadar dirinya diperhatikan dari jauh, "Aku tahu kamu tengah mengamatiku saat aku mulai perlahan menjauh pergi menuju senjaku. Punggungku punya mata, Dra."

Karena sederhana, Dra bertahan pada Nja. Menyimak kisah, semangat, pemikiran Nja tentang sekelilingnya. Dra merasa warna sederhana Nja akan semakin indah jika mereka bisa saling berbagi. "Dan jangan tanya soal kesabaran, aku memulainya tidak kemarin ini, aku sendiri tidak ingat kapan, Nja" Dra terpekur di sudut kursinya menunggu Nja membagi kembali kisah sederhana padanya.

"Apa pemikiran sederhana lainnya yang ingin kamu bagi bersamaku, Nja. Bagilah, aku ingin meresapinya sampai tuntas, tak berbekas." Dra girang, menemukan kembali Nja yang siap membagi telinga, lidah dan pemikiran, dan menceritakan hal-hal sederhana itu di kotak simulakrum.

Monday, March 12, 2012

Samudra, Pria Penunggu Senja

Dra, Pria yang datang dengan ketabahan hati..

"Aku merasa bisa jatuh hati pada siapa saja, wanita cerdas, mandiri, cuek, mengerti kodratnya." Dra tengah mengarahkan panah itu tepat ke hati Nja, wanita yang telah mencuri hatinya, mengalihkan dunianya.

Dra ingin bisa menyentuh keindahan Senja, tak apa pula jika Nja ternyata hanya mengijinkannya sekedar dekat dan mengenal dunianya. Dra lalu menemukan ruang nyaman ini, sebuah ruang penyatuan imaji dan fantasi, sebagaimana harapan Dra mengenal Senja, nyata.

"Apakah kamu masih mencari pinjaman crayon warna-warni untuk melukis langit, aku punya dan senang berbagi denganmu, Nja." Sapa pertama Dra di ruang hati Senja.

"Masih, aku masih sangat senang melukis langit, Dra, karena langit adalah duniaku. Akulah serupa semburat jingga keemasan terlukis di langit. Indah namun juga menyimpan berjuta misteri. Boleh aku pinjam crayonmu? aku ingin melukis senjaku dengan sebentuk pelangi."

Dra yang tabah menunggu saat Nja bersedia menyapanya, begitu girang mendapati salam hangat Nja "dan sekedar berteman, mendapati sapaan hangat darimu adalah indah, Nja"

"Kau tahu, Nja, mengingat dirimu diantara tumpukan kenangan masa-masa kuliah kita, aku yang kini merasa bodoh, bisa begitu abai pada hadirmu yang begitu indah."

"Karya-karyamu telah mencuri perhatianku," Tak surut gentar Dra mencari jejak-jejak Senja di banyak tempat, "membaca catatanmu, berkunjung ke rumah pelangimu seperti sebuah ekstase yang mendebarkan. Kamu seperti menggoda, mengajakku masuk ke dalam alam pikirmu, memanjakan imajiku dan aku yang lalu berharap ini tak sekedar fantasi." Inilah penghiburan bagi Dra, meski hanya bisa membaca karya-karya Senja. Perlahan, dan suara itu begitu jelas terdengar dari dalam bilik hatinya, mengusik, menggelitik hatinya untuk berkata..

"I Adore u, Nja." bisik Dra lirih.

menyanding hebatmu
dengan kebiasaanku, yang sangat biasa
menjadi temanmu
adalah istimewa

"Hebat, itu terlalu jauh dari kesan seorang Nja, Dra..dan menjadi yang istimewa di hatimu, pun sepertinya terlalu jauh aku percaya itu." Senja merasa tak perlu buru-buru percaya pada suara hati Dra, dan ia memilih menangkis pujian hebat itu.

langkahku adalah gelombang, deburnya meriak senang
tetes embun wujud wajahku, samudra kuasaku

Nja hanya mengenal Dra yang ceria, pria flamboyan, sang pemuja ulung, dan kini ia datang padanya, menyanjungnya sedemikian rupa. "Apakah aku tengah berada dalam jeratmu, wahai pemuja?" membuat Nja perlu menajamkan akal sehatnya dan mengabaikan sementara intuisinya. "Logikaku tak boleh mati hanya karena terkalahkan rasa hati yang belum sepenuhnya bisa kucerna. Maaf, Dra."

"Aku tidak bisa membaca hatiku, Nja, aku hanya bisa menyuarakannya. Aku cari buku manual untuk membaca hati, tetap tidak ada yang menjual. Maaf, apa kejujuran hatiku terasa berlebihan, Nja? Karena sosokmu dalam pemahamanku adalah seperti itu. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu."

Dra, pria yang tabah itu lalu kembali terpekur di sudut ruang gelap, dan tetap menunggu Nja kembali menyapanya..

"Dan saat semua tidak berpihak padaku, sangat besar inginku kembali kepada alam..dan menunggumu di senja, menatap indahmu dari samudraku yang luas, ditemani riak gelombangku yang begitu tenang adalah ikhlasku. Aku rela, Nja.."

Wednesday, December 14, 2011

Kim: Saya Menikah karena Cinta

Sebuah repost

PERNIKAHAN bak cerita dongeng, Kim Kardashian dan Kris Humpries kandas. Cukup butuh waktu 72 hari saja pasangan ini saling berkomitmen. Benarkah bukan karena Kris yang telah berselingkuh hingga Kim mengajukan perceraian, namun sebenarnya ada alasan lain dibalik perceraian mereka?

Sehari setelah menandatangani berkas perceraiannya, Kim melakukan klarifikasi perihal pemberitaan yang semakin memanas yang menyatakan pernikahannya dengan Kris semata-mata hanya menyoal uang.

Dalam akun twitternya, Kim secara jelas mengungkapkan, "Saya menikah karena cinta. Saya tak percaya harus mengatakan ini. Saya tak akan mengambil uang sepeser pun untuk cinta ini, atau apapun demi sebuah acara TV!" tegasnya.

Ya, kebanyakan perempuan akan lebih mementingkan cinta dan kebahagiaan ketimbang uang dalam pernikahan yang dijalani, kecuali pasangannya bekerja. "Ironis bahwa perempuan lebih berat pada cinta daripada uang, tapi tak mau menikah jika calon pasangan mereka, atau mereka sendiri, tak bekerja,” kata Meghan Casserly, seperti dilansir CyberNews dari Forbeswoman.

Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan oleh situs Forbeswoman diketahui, tiga dari empat perempuan mengatakan tak akan menikah dengan pria yang tak punya pekerjaan, sedangkan 65 persennya merasa tidak nyaman menjalani pernikahan jika mereka sendiri tidak bekerja, dan lebih dari 91 perempuan lajang lebih memilih menikah demi cinta ketimbang uang.

Sementara studi lain juga dilakukan situs diskon terkemuka di Inggris, MyVoucherCodes.co.uk. Penelitian terhadap 2.173 perempuan Inggris itu dalam upaya menemukan alasan mereka menikah, seiring pemberitaan pernikahan singkat Kim Kardashian dan Kris Humpries.

Mark Pearson, Ketua MyVoucherCodes.co.uk, mengatakan, "Setelah perceraian bintang realita show, Kim Kardashian dan pebasket Kris Humphries, kami pikir penelitian ini akan menarik untuk menemukan alasan dibalik keinginan perempuan ketika menikah."

Hasil penelitian tersebut sangat mengejutkan, lebih dari sepertiga responden, 34 persennya menjawab, mereka memilih menikah untuk uang. Sementara 41% menyatakan mereka menikah dengan alasan agar masa depan keluarga terjamin, sementara 19% menginginkan kehidupan mewah paska menikah.

Menikah demi cinta

Tanyakan pada semua pasangan menikah di dunia ini, perceraian adalah hal yang menyakitkan, yang tak ingin siapapun menginginkannya. Ketika badai datang mengguncang biduk rumah tangga, mulai dari perlakuan kasar hingga skandal, demi cinta, beberapa pasangan urung bercerai dengan alasan, "saya masih mencintainya."

Cinta memang sanggup menyingkirkan akal sehat kita. Atas nama cinta, Anda dan pasangan memasuki gerbang pernikahan. Namun, ditengah perjalanan pernikahan, cinta itu menyurut karena ternyata Anda berdua lalai menjaga volume cinta itu tetap utuh. Saat itulah Anda mulai diserang perasaan tidak yakin, "benarkah cinta itu masih ada dalam pernikahan kami?", "berapa banyak cinta yang saya perlukan untuk mempertahankan pernikahan ini?"

Alih-alih, mempertahankan pernikahan, Anda dan pasangan pun seperti dilanda gamang dan galau mengingat janji pernikahan yang dulu terucap, “dalam keadaan baik atau pun buruk, kaya atau pun miskin, sehat atau pun sakit, sampai maut memisahkan kita”. Demi anak-anak dan kebahagiaan mereka di masa depan, Anda dan pasangan pun memilih menyingkirkan ego.

Stephanie Coontz dalam bukunya, "Marriage, a History: From Obedience to Intimacy, or How Love Conquered Marriage", berujar, "Cinta adalah alasan murah untuk sebuah pernikahan" Ya, Stephanie dalam statemen-nya boleh jadi benar, karena sejatinya, kita dan siapapun didunia ini tidak benar-benar menikah demi cinta belaka.
Risty yang berusia 20-an memilih menikah muda karena ia siap menjadi seorang istri dan ibu. Malinda, janda berumur 40-an itu menikah lagi demi alasan ekonomi. Bambang, duda keren berumur 50-an tahun menikahi wanita lajang demi status sosial dan kenyamanan di masa senja. Sementara si wanita lajang bersedia dinikahi, mungkin saja demi alasan kemapanan hidup di masa depan.
Lantas, jika bukan demi alasan cinta, apakah pernikahan mereka bisa dianggap tidak valid?

Dan tak ada yang perlu ditutupi, ketika pasangan bertanya, "apa alasanmu mau menikah denganku?" Katakan sejujurnya, meski itu menyakitkan. Berkaca pada kisah Tori Spelling, salah satu pesohor Hollywood itu pernah terguncang hebat saat banyak media menuding Dean McDermott, sang suami, menikahinya hanya demi uang dan popularitas.

Namun, jika ternyata memang cinta adalah alasan terbesarnya untuk menikahi Anda, maka cukup katakan kepadanya bahwa cinta saja bukanlah alasan yang mencukupi.

Salam


Saturday, December 10, 2011

Menjadi "Wanita Lain"


Sebuah repost

"MENCINTAI tak harus memiliki", sebuah pepatah lama menyebutkan. Bahwa cinta itu ternyata hadir dan abadi bukan pada pasangan jiwa (baca: pasangan resmi). Meski tak bisa memiliki, kekaguman, keterpesonaan serta cinta yang terkemas itu nyata-nyata ada dan telah hadir untuk dia yang lain.

Sah-sah saja jika cinta yang salah, pada tempat dan waktu yang salah itu kemudian dipersembahkan untuk sahabat, kawan kerja atau pada tetangga sebelah rumah yang (mungkin saja) memang tampan luar biasa. Ya, tepat lalu bunyi pepatah "rumput tetangga memang selalu lebih hijau daripada rumput di depan pekarangan sendiri"

Bukan tanpa dasar, para peneliti di Oklahoma State University sempat mengungkap akar dari perselingkuhan indah ini. Dari sebagian wanita sebagai objek penelitian, sebanyak 90 persennya terbukti sangat bersemangat berkencan dengan pria beristri.

Alasan itu mengemuka karena perihal insting dasar wanita yang secara otomatis menyukai persaingan terbuka, dan parahnya salah satunya adalah dengan menggoda pria yang tidak lagi berstatus single.

Hal ini diungkap Helen Fisher, PhD, seorang ahli biologi-antropolog yang juga penulis buku Why We Love, "Saat melihat seorang pria berhasil menjalin hubungan yang membahagiakan, insting wanita yang terdalam akan berpikir jahat, bahwa ia pasti bisa merasakan kebahagiaan yang sama dengan pria tersebut". Wow!

Menjadi wanita lain, perempuan yang entah keberapa bersedia dilakoni, juga cap yang melekat di dada sebagai 'perebut, perusak atau pengganggu' dan segala atribut buruk lainnya pun seperti hukuman masyarakat (sanksi sosial) yang wajib diterima. Inilah konsekuensi atas cinta yang salah namun terasa indah, bahwa cinta itu terasa nikmat meski membawa sesat.

Namun bisakah cinta yang salah ini bertahan di tengah deraan guncingan orang, perasaan menyesal dan bersalah karena mengambil yang bukan menjadi miliknya, atau yang lebih besar adalah pengkhianatan pada pasangan yang dicintai, anak yang dikasihi dan keluarga yang disayangi?

Semuanya kembali pada yang menjalani. Seberapa yakin Anda siap untuk menanggung dan membawa ke arah mana cinta yang (mungkin) salah ini akan dituju. Ingat, seringkali orang terpesona dengan 'oase' yang terlihat indah dari kejauhan, namun ternyata hanya sekedar tipuan semata. Begitu juga menyoal cinta terlarang.

Sebuah lagu lama jika iming-iming menjadikan Anda sebagai pasangan resminya itu lalu mengemuka, atau Anda justru tergiur menjadi sekedar 'investasi syahwat' baginya, yang bisa memuaskan inginnya, kapanpun, dimanapun, asal tidak ketahuan. Oh tidak, pertimbangkan masak-masak untuk memutuskan menjalani ini semua lebih dalam.

Betul kiranya sebuah penggalan lirik lagu "unintended" yang dilantunkan grup band asal Inggris, Muse. You could be my unintended, Choice to live my life extended, You should be the one I'll always love. I'll be there as soon as I can. But I'm busy mending broken pieces of the life I had before.

Anda bisa saja menjadi yang "tidak sengaja" hadir dan melingkupi hidupnya. Ia janjikan cinta itu untuk Anda, seorang. Bahkan baginya, Anda adalah 'perekat' hidupnya yang sudah hampir hancur berkeping-keping bagai puzzle. Namun lihat dan rasakanlah, saat Anda membutuhkannya, ia malah terlihat asik merekatkan kembali pecahan-pecahan hidupnya yang dulu.

Ia lebih memilih sibuk menata hati dan perasaannya, saat yang dikasihi dan dicintainya dulu memintanya kembali. See, tak ada lagi cinta yang tersisa untuk Anda yang pernah merasa percaya diri (hanya) menjadi yang kedua.


Salam

Friday, July 16, 2010

Harap dan Cinta untuk Tari

Sebuah repost

SAYA, kamu, dia, pun Cut Tari adalah pribadi dalam dua sisi, hitam dan putih. Kami pernah berbuat baik [meski mungkin jarang sekali diingat], dan lebih sering menjadi tempat alpa, khilaf dan salah.

Itu karena kami berjalan di atas jalan kehidupan yang tak selalu mulus. Adakalanya kami tersandung batu atau tertusuk duri hingga kaki ini terluka. Kami lantas menangis, dan menyesali memilih rute yang salah. Dalam kelukaan, kami mengadu pada Tuhan, sang navigator kehidupan. Dan Dia hanya tersenyum, "dari jalan yang salah ini, sesungguhnya aku sedang 'memperkaya' dirimu"

Ya, ini memang seperti refleksi dari kisah Tari. Bahwa luka, tangis dan sesalnya bisa menjadi cermin bagi kita. Bahwa kita mungkin pernah menjadi Tari, yang khilaf dan lalu menyesal. Bahwa sebuah kesalahan sanggup mengubah total keseluruhan diri, menjadi pribadi yang baru.

Kasus video intim itu adalah aibnya, dosa dari masa lalu Tari. Jika saja bisa, jika saja mampu, inginnya menutupi borok itu. Namun Tari sadar, ia milik publik, dan pada publiklah Tari diminta bertanggung jawab, dan meminta maaf.

Ya, Tari yang dulu kenes, manja dan sensual itu memang sudah menghilang. Yang terlihat sekarang, hanyalah Tari yang malu, bingung dan cemas.

Tari bagai dipaksa meloncat ke lorong waktu, kembali ke masa itu, saat desah manjanya pada Ariel terekam jelas di ingatannya, pun belaian lembut tangan kekar Ariel yang menelusuri setiap lekuk tubuhnya itu masih terasa menyentuh kulit raganya. Raga yang seharusnya hanya milik Jusuf Subrata.

Dan kini di hadapan puluhan kilatan
blitz kamera yang 'menelanjanginya', Tari terbata-bata memohon maaf, pada petinggi negeri, pada masyarakat, pada suami yang mematung tegang di sampingnya. Ya, sekuatnya Tari mencoba tegar meski maaf itu mungkin saja belum cukup. Bahwa setelah permintaan maaf ini, Tari masih tak tahu bagaimana kehidupannya kelak di masa depan. Bagaimana dengan Jusuf Subrata - suaminya, Sydney - gadis kecilnya, ibu, dan keluarga besarnya.

Ia bahkan belum tahu jawaban apa yang harus diberikan pada Sydney saat dia bertanya, "kenapa mama menangis?, kenapa orang-orang itu membenci mama?" Ah ya, langkah Tari tertatih bagai dibebani berton-ton rasa bersalah yang memberat dipundaknya, dan dosa itu dirasa tak akan tertebus di sisa umurnya.

Jerat pasal pornografi pun siap mengantar Tari menghabiskan harinya di hotel prodeo, dan hukuman masyarakat bagai cambuk, sudah terlebih dulu menghantam keras punggungnya hingga berdarah-darah.

Namun, Tari sejatinya masih lebih beruntung. Pengakuannya, kata maafnya bagi seorang Jusuf, sudahlah lebih dari cukup. Bahwa keberadaannya disamping Tari adalah bukti, cintanya masih belum habis untuk Tari. Dan bolehlah kita semua berharap, tak terkecuali Tari dan Jusuf, bahwa harapan seiring waktu, cinta itu pasti akan bertambah dan semakin menguat.

Kejujuran [yang meski menyakitkan] itulah kelegaan Jusuf, pun kebanggaannya. Bukan menyoal bagaimana kasus ini sudah merebak menjadi isu nasional yang menyebar ke seantero negeri, bukan juga kebanggaan Jusuf, tubuh istrinya dinikmati beribu-ribu pengunggah dan pengunduh video intimnya. Adalah kelegaan dan kebanggaan Jusuf, istrinya yang dulu khilaf telah berani berbesar hati untuk mengakui dan meminta maaf, pun bertanggung jawab atas benih yang ia tuai.

Saya tak mau berprasangka buruk, bahwa Tari hanya sedang mencari simpati atau tengah berakting, seperti juga kita tahu, dia adalah pelakon dalam frame layar kaca. Lukanya, dukanya, tangisnya, sanggahnya bukan kamuflase, karena dia, Tari memang tengah melakoni skenario Tuhan. Menjadi yang dulu dipuja dan kini dihina.

Betul kiranya sebuah ungkapan lama, yesteday is history, tomorrow is future (maybe it will never come) and today is present. Kasus yang menimpa Tari saat ini adalah sejarah yang tak akan pernah dilupakannya. Meski menyakitkan, namun sanggup menamparnya keras, membuatnya tersadar dan belajar, bahwa Tuhan sedang membantunya berproses, "memperkaya" dirinya menjadi pribadi yang lebih baik.

Ya benar, bahwa kisah masa lalu memang sanggup "memperkaya" kita di masa depan..dan ibarat buku, masa lalu adalah referensi terbaik, karena disanalah segala pengalaman ditemukan.

Dari buku klasik nan jadul dan usang itulah kita sebenarnya diharapkan belajar. Bahwa sebuah kesalahan dimasa lalu cukup menjadi catatan saja disana, bukan menjadi beban. Dan lepaskan beban itu dan tinggalkan saja di masa lalu, karena setiap hari akan selalu ada pintu yang terbuka untuk kita, karena selalu ada orang lain yang bersedia membuka pintu itu. Pintu maaf dan pintu pengharapan bagi saya, kamu, dia, pun Cut Tari.

Dan Jusuf adalah harapan Tari, bahwa pintu Jusuf masih terbuka untuknya, dan cinta itu memang belum habis untuk Tari.

Salam!