Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Saturday, August 01, 2015

cinta ada apanya?

menyukai saja memang lebih mudah, tapi merawat benih suka itu menjadi cinta bisa lebih rumit dari matematika. ada yang kurang (dari pasangan) tapi sukar diterima. adapula yang lebih, tapi ternyata itu saja belum cukup. ada yang cinta buta, menolak bicara logika karena kalah telak oleh rasa .

lupakan sejenak romansa saat cinta hadir berkesan lewat mata saat saling tatap, debar hati ketika wajahnya selibas nampak meski dari kejauhan, atau sehangat genggaman tangan dan pelukan hangatnya saat hujan menderas di depan teras rumahnya, semasa pacaran dulu.

cinta bukan pula patung abadi yang sesekali kamu tengok, hanya untuk sekadar dikenang. dia selayaknya manusia, tumbuh subur, tapi bisa juga kering lalu mati.

sadarilah, hidup tak selalu semulus paha ayam, situasi yang tidak diharapkan muncul pastilah melahirkan tuntutan. inilah saatnya kadang cinta juga butuh diuji, seberapa kuat ia berada dalam situasi apapun.

tak pelak, ketika akhirnya muncul tuntutan di sana dan di sini, cinta pasti akan kembali dipertanyakan, 'kamu cinta aku apa adanya atau ada apanya, sih?" yang begini ini yang berpotensi munculnya penyakit gamang dan komplikasi galau tingkat akut.

tapi faktanya, sebagian dari mereka di luar sana mengharap lebih dari pasangan tapi malas mengoreksi kekurangannya sendiri. enggan mengakui kelemahannya, dan lebih suka sibuk mencari kesalahan pasangan. "sebentar, bukankah cinta itu tentang kita, terus kalau aku yang berjuang sendiri, itu namanya apa?"

oke, cinta saja memang tidak cukup. itulah kenapa ungkapan 'jangan sampai dibutakan cinta', terdengar benar. perlu hati yang besar untuk menampung kenyataan perasaan yang ternyata tak seperti yang dimaui. ada yang pilih mundur teratur, tapi masih banyak yang mau dan sungguh-sungguh berjuang sama-sama untuk saling memperbaiki diri.

ada baiknya jangan 'membaca' tuntutan semata sebagai keterpaksaan,  siksaan dan derita. masih banyak yang pada akhirnya hidup lebih baik dengan masa depan yang cemerlang karena 'membaca' tuntutan pasangan dari sisi yang berbeda. jelas itu bukan sulap, bukan pula sihir. semata-mata karena cinta yang mendewasakan.

berarti benar dong apa kata teman saya, "selama tuntutan apapun dari pasangan masih bernada wajar dan itu baik, kenapa tidak?"

* untuk soal di atas saya setuju dengan Tulus


Wednesday, February 11, 2015

teras rumah

derik jangkrik, kodok mengorok memecah sunyi, sementara entah berapa kali hujan dan senja begitu teramat syahdu ketika dinikmati dari kursi teras rumah. ditemani sepiring rondo royal, dan teh hangat, pembicaraan mengalir, sambung menyambung. kalau tak ada suguhan pun tak apa. ada kamu, aku dan kita adalah indah.
sapa, salam dan senyum pada tetangga yang lewat di depan rumah pun adalah berkah. rasa nyaman bahwa kita masih bisa berbagi pahala meski itu hanya seulas senyum atau sapa hangat dengan tetangga. kalau berkenan, ajak juga tetangga menikmati buah lebat mangga meranum yang tumbuh di teras rumah. "nanti kalau sudah berbuah, saya bagi." ini janji. bukan basa-basi.
teras rumah inilah area penyambutan. bisa kulihat cemas, gemas, saat suami yang pamit pulang awal, ternyata hingga Maghrib tak juga pulang. "aku sudah menunggumu dari tadi. kamu tahu kan, aku sangat cemas," dan pada akhirnya cukup lega mendapatinya baik-baik saja. ya, teras rumah adalah saksi atas kecemasan. atas suka cita itu.

yang ditunggu pun akan merasa sangat bersalah dan berjanji, "maaf ya, bikin kamu cemas. aku pastikan tidak ada lain kali."
jika ruang keluarga tak lagi membawa kehangatan, jangan dulu saling menyalahkan antara suami dan istri, anak dengan ayah dan ibunya. barangkali perlu ditelisik, suguhan di layar kaca bisa jadi tak lagi menarik. sinetron kejar tayang sarat manipulasi, dan konspirasi. duh, gosip-gosip yang dibawakan pembawa acara bernada pedas itu pun lebih banyak mengadu domba dan hanya menelanjangi aib orang. belum lagi berita yang isinya bisa ditebak. kenaikan sembako, demo buruh, korupsi, apalagi? semuanya hanya berakhir pada kalimat menenangkan: pemerintah berjanji.
kenapa lantas mencari hangat dan nyaman di luar, jika teras rumah bisa memberikan semua itu?

ada banyak rumah bagus dibangun, tapi toh hanya jadi sekedar rumah, tanpa makna. semakin terlihat dingin, karena terasnya kosong. tak ada kursi, apalagi sekedar bangku. lampu teras selalu menyala meski itu siang hari. si empunya rumah sepertinya memang sangat sibuk. jarang pulang mungkin, atau tak pernah terima tamu.

dan aku masih selalu membayangkan di teras rumah itu anak-anak berlarian kecil di taman, ditemani ayah dan ibu duduk di kursi teras sembari ngobrol dan baca koran sore. lagi-lagi, aku merasa ada banyak cinta yang bisa dibangun. dan semuanya bisa dimulai dari teras rumah.
aku pantas malu, karena akrab dan hangat justru jamak begitu kentara di gubug-gubug papan di sepanjang bantaran sungai di pinggir kota. tak ada batas antara mereka. satu rasa, satu asa, satu cita-cita. bertahan di tengah kerasnya ibu kota. masih bagus, mereka masih punya waktu bercengkerama dengan tetangga, dan keluarga.
karena hanya ada rumah sepetak, maka teraspun boleh berbagi. yang penting tetep asik. emak-emak gerah yang berkutang duduk santai di depan rumah, saling bantu cari kutu rambut sembari berkeluh kesah soal harga cabai yang makin sombong. meninggi tak juga mau turun.

lalu, apalagi yang lebih indah dari sebuah teras rumah?

Wednesday, March 20, 2013

Raffi, Narkoba dan Bahagia

HIDUP sebenarnya tak terlalu sulit, karena yang dicari ribuan orang di muka bumi ini sebenarnya sama. Bahagia. Apapun demi bahagia, orang akan melakukan apapun. Tak ada lagi batas haram atau halal, “pokoknya hajar, bleh!“, begitu remaja gaul menyerukan kalimat penyemangat itu. Tak peduli benar atau salah, toh batasan itu semakin abu-abu.



Seperti juga bahagia yang dicari Raffi tentu akan berbeda dengan bahagianya seorang tuna netra yang puas menikmati segarnya udara laut, meski ia tak bisa menemukan keindahan itu lewat matanya. Bahwa bahagia bersandar kuat pada kata “relatif”, meski wujudnya pastinya sama : sebuah rasa puas, lega dan merasa tanpa beban.
Namun, kepuasan hidup yang telah diraih pun belum tentu menjamin seseorang bisa berkata lantang, “Ya, aku bahagia”. Saat semuanya sudah ada dalam genggaman tangan, terkadang terselip sedikit niat “bermain-main dengan masalah”. Tak dipungkiri, harta, wanita, dan kuasa adalah ranah empuk nan gembur subur, menjanjikan munculnya bibit-bibit masalah baru.
Tak heran, masalah umum di muka bumi ini muncul serupa. Seperti menemukan ke-khas-an di antara sekian banyak isi otak dan pemikiran orang. Ide mereka sama menciptakan masalah baru. Dari mulai korupsi, konspirasi, narkoba, dan perselingkuhan, semuanya hadir menyemarakkan wajah dunia. Mereka yang terlibat harus terima nasib jadi objek lawanan semesta. Masalah yang sudah dipilih, pada akhirnya memperpanjang jarak mereka bertemu bahagia.

Bercermin pada kisah Raffi, penampilannya di layar kaca selalu nampak segar. Melihat keceriaan Raffi tentu saja sejenak terbersit iri. Hidupnya ceria, bahagia, dan dipenuhi tawa. Namun, tampilan di permukaan memang bisa jadi salah terbaca mata pemirsa, dan juga keluarganya. Ia mungkin sebenarnya tengah kesepian, lelah dan bingung.

Sebagai anak pertama, Raffi adalah tulang punggung keluarga. Sepeninggal ayahnya dua belas tahun lalu, ia merasa perlu turut memikirkan nasib ibu dan kedua adik perempuannya. Berbekal wajah tampan dan bakat beraktingnya, bintang Raffi melesat cepat bersinar di dunia keartisan. Membawa pundi-pundi kemakmuran di keluarga mereka.

Apa yang dicari Raffi mungkin sudah ditemukan, melihat ibu dan adik-adiknya senang, adalah bahagianya. Namun, akankah dia sudah benar-benar tenang dengan semua pencapaian itu? Hmm, tak ada yang pernah tahu, kecuali kita bisa membaca isi hati Raffi.

Peka

Meminjam istilah “dunia ini panggung sandiwara”, Raffi saat ini tengah memainkan lakon drama realita yang sesungguhnya. Raffi bertemu narkoba yang dipilih sebagai jalan pintas untuk menemukan apa yang dicarinya, sebuah bahagia. Ia hanya perlu meyakinkan dunia di sekelilingnya dengan ceria dan tawanya bahwa ia baik-baik saja.
Namun, mencari bahagia ibarat mencari mutiara di kedalaman lautan. Dibutuhkan penyelam yang mahir untuk menemukannya, diperlukan kesabaran dan ketekunan untuk berjumpa dengannya. Bahagia yang sederhana, namun untuk mencapainya terkadang dibutuhkan ketidaktahuan, ketamakan, kebencian dan kemarahan.
Dalam proses itu pun dibutuhkan kepekaan tingkat tinggi untuk mengenali suara hati. Karena godaan dan rayuan hanya akan kalah saat suara hati dimenangkan. Dan segala logika yang disuntikkan ke syaraf otak perlu diseimbangkan dengan kepekaan pada hati nurani. “Apakah jalan yang aku ambil sudah salah ataukah belum benar?”

Mata hati Raffi mungkin telah ditutupi oleh tebalnya kerak godaan. Hidup makmur yang didapatnya setelah bertahun-tahun merintis karir pada akhirnya mengajaknya bertemu masalah. Tapi, bukankah hidup itu belajar mengatasi masalah?. Belajar untuk berani kuat menghadapi perputarannya yang tak tentu, selayaknya roda yang terus berputar.

Semua akan bisa terasa saat kita sudah mengalaminya, seperti halnya memilih jalan yang salah, dan tersesat tak tahu arah jalan pulang. Menyesal salah jalan tak akan pernah membawa kita kemana-mana, kecuali kita mau mencari jalan keluar.

Ya, ini tak hanya menjadi pembelajaran untuk Raffi, tapi kita semua, bahwa sejatinya bahagia itu tak perlu dicari tapi harus diciptakan (dari hati). Dengan mensyukuri apa yang sudah dimiliki, menjaganya dengan baik dan mengolahnya menjadi berkah. Karena hanya sia-sia mencari bahagia, tapi kenyataannya harus melewati sebuah kepura-puraan besar. Seperti menumpuk kesengsaraan yang berujung menderita.

Friday, January 11, 2013

surat terbuka untuk mama...

"hidup sudah terlalu rumit, jangan semakin dipersulit dengan menambah masalah," pesannya suatu waktu, ketika kami seperti biasa bincang berdua saja.
dekat dan bebas membicarakan apapun dengannya, tak ayal aku menganggapnya lebih dari seorang sahabat. ya, sahabat terhebat. tak pernah sekalipun meminta, ia justru kerap memberi. selayaknya udara yang bebas kuhirup, memenuhi jiwa.

diakuinya, ia bukan seorang pemeluk agama yang taat, namun tak pernah sekalipun ia lupa, ada Tuhan yang selalu bersamanya. "karena Tuhan selalu dekat dengan urat nadi kita, jadi dimanapun, kapanpun, berdoa saja." simple as that. malah ia yang justru kerap mengingatkan aku untuk menjalankan kewajiban beribadah. "contohkan yang baik untuk anak-anakmu, yang buruk dari orangtuamu jangan pernah ditiru."

pengalaman hidupnya bak dongeng yang kerap dibacakan untukku. meski kadang bosan mendengarnya, tapi saat aku mulai curi-curi keluar dari jalur, seketika aku tersadar pesannya begitu berarti.

ia yang mengajarkan padaku bahwa apapun yang sudah kupilih, jalani sepaket dengan risiko dan konsekuensinya. aku dibebaskan memilih pasangan hidup, pun mendukung keputusanku untuk tetap bekerja setelah menikah dan punya anak.

tak ingin sekedar menjadi pembawa pesan, ia mencontohkannya padaku, bagaimana dulu hingga sekarang ia terus berjuang untuk bisa memberikan kontribusi terbaiknya, baik sebagai ibu, istri maupun pekerja. ia yang mungkin sedikit kolot, meski dibeberapa hal ia memiliki pemikiran maju. baginya, beraktualisasi diri adalah cara cerdas menjadi mandiri secara ekonomi.
bekal yang sudah ia persiapkan untukku, adalah bekal untuk perjalanan panjangku di masa depan. ya, ilmu dan nasehat. lain tidak. "jadilah mandiri dengan bekal ilmu yang sudah kamu dapat, karena kamu tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari. bekerjalah untuk menghidupimu dan keluarga. setidaknya, kamu tak perlu harus meminta dari suamimu."
ia bukan liberal, tapi yang diminta dariku hanyalah jaminan bahwa kebebasan dan kepercayaan darinya harus bisa dipertanggungjawabkan. ia mungkin pula ibu pertama yang membebaskan anaknya untuk punya pacar di usia 15 tahun. "supaya kamu bisa belajar lebih awal arti mencintai dan patah hati"
dan teramat susah menyembunyikan apapun darinya, karena dia selalu tahu. kupikir, dulu ia punya bakat menjadi cenayang. mata batinnya mampu menembus ke jantung hati jiwa yang papa. bahkan, sedihku meski sudah kusembunyikan di lipatan kulit wajah paling dalam, tetap saja gurat kesedihanku masih bisa terbaca olehnya.
inginnya terlalu sederhana, bahkan jauh dari kata muluk-muluk. menjalani hidup yang berkah, ikhlas dan tak mau merepotkan anak dan cucunya kelak. "yang penting masih diberi sehat. karena mau punya masalah apapun, kalo sehat, masih bisa mikir jernih dan bekerja."

ya, ia yang kupanggil mama, mungkin bukan ibu yang sempurna, tapi ialah sumber kekuatan dan inspirasiku. menjadi putrinya adalah kebanggaanku. padanya aku belajar, menjadi ibu tak sekedar kodrat, namun menjalani nikmatnya berjuang lahir dan batin demi anak.

dan kini, aku bukan pula sekedar anak. aku bermetamorfosa dengan sempurna. mengalami hidup dan peran baru, menjadi ibu dari anak-anakku. apakah akan terus menyenangkan, sulit di tengah, atau berakhir manis? entahlah.
mungkin saja aku akan lebih banyak memberi pesan dan nasehat melebihi mama, aku mungkin lebih kolot dan julukan "mama cerewet" dan "awas mama galak" adalah label dari anak-anak yang tepat untukku. baiklah, aku akan menikmati peran itu, rela dengan segala label itu. karena satu yang terpenting, menjadi berarti bagi anak-anakku adalah kebahagiaan. sama rasanya seperti aku bahagia memiliki mama. 

Monday, November 26, 2012

dilema "konco wingking"

pagi itu berbeda dari pagi-pagi lalu. pekerja-pekerja pabrik kebanyakan wanita dan perempuan muda memenuhi angkot yang membawaku ke tujuan, tempat beraktivitas. berwajah layu, tubuh lesu, kesuh, mereka pulang selepas piket malam, sementara, berkebalikan denganku yang tampil segar dan wangi, diantar pagi siap menghadapi hari.
duduk bersama mereka di angkot yang sama, aku hanyut dalam curhat-curhat mereka tentang keseharian. cerita dan keluh kesah mereka mengalir bagai air, ditimpali deru mesin angkot yang bising, penghiburanku pagi itu. ironis, baru saja kudengar kabar protes serikat buruh terkait kenaikan UMR memenuhi headline berita televisi, sajian sarapan pagiku ditemani nasi goreng.

"habis ini mau ke pasar dulu, beli sarapan, pulangnya langsung tidur sebentar. jam sepuluh aku harus antar anak ke sekolah," beberapa kalimat yang terlontar di bibir mereka, lebih mirip seperti sebuah rutinitas keseharian. mungkin berat dan bosan dijalani, tapi harus.

merekalah yang bertahan menatap masa depan membawa semangat emansipasi Kartini. tuntutan ekonomi yang kian tinggi, aktualisasi diri, hingga membantu suami, adalah realita,  perjuangan tiada akhir. "saya pengen mandiri, ga tergantung sama suami dan keluarga. itulah kenapa saya rela bekerja di jam yang tidak ideal seperti ini," ujar Susiana, salah satu teman kerja, saat cakap-cakap santai dengannya beberapa hari lalu.

piket malam sebelumnya pernah dijalani Susi. dan bekerja di ruang redaksi - sebuah atmosfer pekerjaan yang tak pernah mengenal waktu, menjadi hal yang tak lagi mengagetkan baginya. Susi tak sendiri. ada aku, kamu, kita. tersebutlah kami yang ingin berdikari, mandiri secara ekonomi dan memilih bekerja di jam dan hari yang tak ideal. bekerja di hari libur, belum lagi jika panggilan tugas mendadak di tengah malam.

sementara, jiwa sudah menggedor-gedor diijinkan untuk tetap tinggal demi mengurus rumah, anak serta suami, namun apa daya kontribusi ditunggu di ladang tempat bekerja. berat memang menjadi mereka yang ingin tetap bekerja meski dirinya harus menerima dan menjalani takdirnya, sebagai istri, dan ibu bagi anak-anaknya.

"saya harus merelakan anak-anak tak mendapat pelukan saya saat tengah malam, menemani mereka mengerjakan PR atau sekedar bermain dengan mereka. saya benar-benar merasa jadi ibu yang jahat, tapi saya harus menjalani ini. bekerja melawan kantuk yang berat, di udara malam yang dingin demi masa depan mereka. juga membantu suami mengepulkan asap dapur kami," ungkap Ella, tetangga seberang perumahan, yang seorang bidan di sebuah rumah sakit bersalin di kota Semarang.

I love everything about my job, except being away from the kids. ungkap Dave Grohl - frontman Foo Fighters. bahkan, seorang ayah benci jika ia jauh dari anak-anaknya. terlebih ibu, yang menanti hadirnya sang buah hati ke dunia lalu harus ikhlas melepas kembali bekerja sementara air susunya belum kering. lantas ia terkaget-kaget sendiri saat si anak mulai berjalan, bicara dan protes keras saat mamanya tak bisa hadir menemaninya bermain karena harus bekerja di hari libur.

bekerja adalah passion, sesuatu yang menyenangkan. sebuah aktualisasi diri. namun saat dibenturkan dengan norma yang memagari dan takdir yang harus dijalani, kebencian akan diri sendiri karena tidak bisa sepenuhnya bisa hadir untuk keluarga, terlebih untuk anak adalah siksaan.

menjadi ibu dan istri adalah kodrat dan takdir wanita. sementara menjadi pekerja adalah pilihan mereka selanjutnya. "jalani jika memang masih ingin, meski itu berarti sepaket dengan risiko dan konsekuensi yang harus kamu terima," pesan mama padaku.

lantas, berapa yang harus diganti untuk membayar yang telah hilang bersama waktu dan pengabdian pada dunia yang telah memberi banyak kesempatan untuk belajar dan bekerja di luar sana?
"bangun lebih pagi, memasak untuk keluarga, menyuapi dan memandikan si kecil, merapikan rumah lalu mengantar si sulung berangkat ke sekolah, dilanjut sore menemani si sulung mengerjakan PR, menyetrika di malam hari dan menidurkan si kecil..." hanya sebagian kecil saja dari yang bisa kulakukan untuk mengganti hadirku saat mereka membutuhkan aku. namun jauh di dasar hati, aku ada untuk mereka.  "suatu saat nanti, nak...ada banyak hari untuk kita bersama..." bisikku.
ya, pada akhirnya memang tak pernah ada yang sempurna, sebuah pilihan indahpun mendatangkan konsekuensinya. seorang perempuan hanya menjalankan kodratnya sebagaimana titah alam. terlahir ke dunia, menjelma menjadi wanita dewasa, menikah lalu memiliki anak. bekerja sebagai keinginannya agar ia tak selamanya menjadi "konco wingking" suami adalah cita-cita dan pilihan.


Tuesday, September 18, 2012

ideal itu...


"jangan cari ideal, karena ia selalu sembunyi dibalik punggung kesempurnaan..."
Ideal, dalam kamus besar bahasa indonesia diartikan sesuai dengan yang dicita-citakan, diangan-angankan atau dikehendaki. Sesuatu itu jelas mendekati sempurna. Namun sempurna yang seperti apa, jika yang sudah dipilih meski terlihat bagus, ternyata memiliki cacat (kekurangan).
Pernah suatu kali saya ditanya seorang teman, "kenapa sih milih rumah yang setiap berangkat pulang beraktivitas selalu harus ketemu macet?". Teman saya itu punya pendapat, harusnya lebih ideal mencari rumah yang tidak membuat kita jadi ribet, mesti bangun lebih pagi, masih harus dibarengi susah menghalau macet untuk sampai ke tempat beraktivitas, belum lagi pulangnya masih disuguhi macet serupa. "akumulasi stres di jalan tiap harinya itu apa ga jadi imbas masalah di rumah?," telisiknya.
Saya jelas kaget dengan pemikirannya, jika bukan karena teman baik, saya ngga bakal bersedia memberikan penjelasan panjang lebar. "Idealnya sih nyari rumah yang mau kemanapun dekat. Saya milih rumah di situ juga awalnya nggak mikir jauh dan macet yang kudu dihadapi tiap harinya. Tapi konsekuensi atas sesuatu yang sudah kita pilih adalah bertanggungjawab atas pilihan tersebut. Risiko jelas ada, tinggal bagaimana kita mensiasatinya, kok. Rumah yang saya pilih pada akhirnya tidak ideal, tapi membuat apa yang sudah dipilih itu nyaman dan aman, itu yang harus dipikirkan solusinya."
Tak perlu disebutkan panjang lebar bagaimana siasat jitunya, sampai sekarang pun kami masih terus belajar, menggali dan mencari solusi terbaik, kami nikmati saja apa yang sudah menjadi pilihan kami. Asal semuanya dibangun di atas kesepakatan bersama, saya pikir tak jadi masalah. Toh, tidak ada yang merasa dikalahkan atau dimenangkan. Sejatinya, kami hanya ingin membangun rumah tangga yang jelas, terarah, terencana di atas sistem yang benar. 
Perkara ideal atau tidak bahkan bisa merambah ke ranah lain, mulai dari pencarian sekolah ideal, menentukan berat tubuh ideal, hingga jumlah anak yang ideal, yang tentu saja di versi saya jelas berbeda di versi orang lain. Sama halnya dalam mencari pasangan hidup, acap kita dihadapkan pada pertanyaan "pasangan yang ideal itu seperti apa sih?"

Ideal sebenarnya tak pernah benar-benar ada. Setiap orang boleh memiliki keinginan, sesuatu yang ideal menurut versinya, tapi ideal yang mereka mau tentu akan bersentuhan dengan beberapa kendala. Kurang ini, kurang itu. Lantas, apakah ini masih bisa disebut ideal?

Ideal selalu mengikuti sempurna. Dan, kebanyakan orang lebih memilih terjebak pada tampilan yang ingin dibentuk "sempurna". Sesuatu tersebut jelas harus bersyarat, "harus begini, harus begitu...tidak boleh begitu, tidak boleh begini". But, nobody is perfect. Bahkan seseorang yang luar biasa pun tak pernah benar-benar luar biasa. Ia tetap pribadi yang biasa saja.

Pilihan baik atau buruk ada di tangan kita. Sama halnya dalam memilih pasangan. Jangan terlalu mudah berkompromi pada penilaian orang dan jangan cepat-cepat pula menurunkan standar. Jangan pula terlalu fokus pada kuantitas kelemahannya, tetapi pertimbangkan juga kualitas kekuatan yang dimilikinya.

Saat menemukan keburukannya, bertanyalah pada diri, "Seberapa buruknyakah dia?. Masihkah saya bisa bertoleransi pada sikap buruknya?. Asal jangan sampai keburukannya itu merusak aspek positif yang dimilikinya. Agar pepatah lama, "Karena nila setitik rusak susu sebelanga", tak pernah terjadi.

Saturday, July 14, 2012

kinara (jawaban kepada Faiz yang meminta adik)

bukan Kirana. karena nama itu sudah terlalu biasa. ia terlahir dari benih kasih yang bertumbuh dengan leluasa memenuhi rongga rahimku. kesediaanku, oh, maaf bukan hanya aku saja, tapi keinginan kami berdua, aku dan suami untuk memberikan seorang adik untuk Faiz, jagoan cilik kami.

aku ingat, betapa malasnya ditanya banyak orang, "kapan, Faiz punya adik?" dan jawabannya cukup dengan sunggingan senyum, "nanti ya, kalau sudah pas waktunya..." lalu, kapan lagi, besok, dua tahun lagi, tiga tahun lagi?

hm, karena semuanya memang harus diawali dengan niat baik, untuk sebuah keinginan tulus. sementara, aku masih terlalu takut, dibayangi banyak hal, tak bisa membahagiakan anak-anakku kelak. karena bukan lagi sekedar pemandangan semu, realita nyata itu kentara di depan mata. dunia semakin kejam. akankah ada tempat untuk anak-anakku tumbuh menjadi pribadi yang baik, jiwa dan raga?

sementara ketakutan lain masih bercokol menggerogoti jiwa. bisa tidak kami memberikan penghidupan yang layak, masa depan yang terjamin untuk mereka, anak-anak kami? ah, ketakutan dan keraguan memang selalu tak pernah bisa membawa kita kemana-mana, ya?

hingga kami tersadar tidak bisa seegois itu dengan keputusan kami sendiri. bagaimana dengan Faiz kelak, sementara kami - orangtuanya mungkin akan lebih dulu meninggalkan dia. pada siapa ia bisa berkeluh kesah, pada siapa ia bisa mencari dukungan dan penguat?, pada siapa ia bisa memumbuhkan jiwa berkompetisi. jiwa yang dibutuhkan untuk membangun sikap mau maju, dan berusaha. setidaknya agar Faiz bisa bilang, "aku harus bisa menjadi contoh dan teladan yang baik untuk adikku..."

and here we are, dengan segala bekal dan kemampuan dibarengi niat kami, juga keikhlasan atas apapun kondisi yang kami hadapi - kami akhirnya memutuskan, "yak, inilah saatnya..kami akan memberi Faiz seorang adik."

"adik" yang lalu dipanggil dengan lembutnya, saat kami menyodorkan pipi bayi mungil itu untuk dicium penuh kasih oleh Faiz. panggil "dek Kinar ya, mas..." dan Faiz pun mengangguk senang. adik yang lalu mencuri sedikit perhatian kami yang dulu tercurah penuh padanya, dan kini Faiz seperti merasa bagai pluto di tengah galaksi maha luas. kecil, dan merasa diabaikan.

hmm, sebuah kecemburuan yang wajar, bukan? bahkan manusia dewasa sepetiku juga punya rasa yang sama. sebagai orangtua, inilah pembelajaran atas keputusan dan tanggungjawab yang telah kami pilih. bahwa tidak ada yang akan merasa paling unggul diantara keduanya. kami harus menjadi orangtua yang adil dan bijaksana. prinsip yang tidak boleh kalah oleh masa dan keadaan apapun itu.

dan voila...aku menamainya kinara. perempuan mungil pemilik mata bening dengan sunggingan senyumnya bagai obat mujarab bagi jiwa dan raga yang pernah melemah. Kinar yang penyabar. dia akan menungguku selesai dengan semua tugas, dan akan meminta haknya, cukup dengan rengekan kecil.

"Kinar pengen mimik?..." dan ia yang dahaga, lalu begitu senang mencari aroma puting, menyesapnya begitu kuat dan nikmat. selesai sesi 'intim' denganku pun ia masih menyunggingkan seulas senyum, mungkin ingin bilang, "terima kasih mama, susunya seger banget..."

Kinar bagai pengelana. dengan kaki dan tangan kuatnya, ia merangkak cepat menjelajahi kamar lalu ke dapur. menandai area penjelajahannya dengan jejak pipis dimana-mana. ia yang sangat tekun dan teliti memandang apapun yang asing dengannya. ia yang selalu rela dan "nrima" kakaknya mengusilinya dengan cara apapun. pikir Faiz, "kapan lagi aku punya boneka selucu dek Kinar?" bisa dipeluk, asal ga sampai remuk.

"mana cicaknya?" dan sontak matanya menatap langit-langit rumah, mencari bayang cicak yang usil mengajaknya main petak umpet. tangannya diulurkan ke atas seakan ingin mengambil cicak itu untukku.

apalagi yang belum kuceritakan tentang putri kecilku itu? oh iya, Kinar akan bertepuk tangan dengan senangnya, jika diminta. meski saat itu ia masih sibuk membongkar mainan kakaknya. Kinar yang dengan semangat melambaikan tangan dan memberi kecupan kiss bye, saat aku dan suami beranjak pergi, meninggalkan ia dan kakaknya, demi mengais rejeki.

dan, tak ada yang seindah rasa ketika kami pulang dan menemukan mereka menyambut kami di depan gerbang rumah. tak ada yang seindah ini, memiliki dua jiwa dalam satu hati. lalu, saat orang-orang berucap, "wah, enak ya sudah sepasang.." aku melega, dua sudah cukup. keduanya kini bisa saling melengkapi. tugasku dan suami, sekarang adalah berusaha dan bekerja lebih keras dan cerdas untuk memberi mereka masa depan yang lebih baik. pun, "nggulowentah" agar mereka tak hanya tumbuh sebagai pribadi yang cukup materi, tapi juga berlimpah kasih sayang.

Saturday, January 02, 2010

Yang Datang dan Pergi..

sebuah repost..

Ada yang saya rindui ketika yang dulu ada begitu dekat kini harus lepas, terbang ke alam lain. Ada rindu yang terselip meski kini kita tak lagi berada bersisian. Harus saya rela dan ikhlaskan semua yang berada dekat dalam kehidupan saya pergi dan mungkin tak akan pernah kembali.

Itulah kehidupan. Ada yang datang dan lalu pergi. Seperti juga saya dan manusia di belahan dunia manapun, datang ke dunia dan lalu akan pergi setelah membawa amanah, untuk hidup dan lalu akan pergi membawa mati setelah hidup telah tertempuh sejauh apapun Tuhan inginkan kita berjalan.

Kedatangan dan kepergian seperti sebuah fenomena yang datang silih berganti memberi warna bagi kehidupan di jagat ini. Pun layaknya fenomena alam, tentang pergantian siang dan malam. Ada bulan yang datang menggantikan peran matahari, berjaga malam. Lalu esoknya tugas bulan beralih lagi pada matahari, yang bertugas mengganti tampilan malam kelam dengan langit cerah meriah.

Sebebas apapun saya, kita, kalian diberi hak untuk mencintai, memiliki dan lalu menguasai apapun, siapapun, tapi tak ada yang pernah menjadi kekal. Saya, kita, kalian harus tetap bersiap diri berpisah dengan yang pernah hadir dalam hidup, yang pernah kita cinta, sayang, melepas juga apa yang pernah kita miliki atau kuasai.

Waktu, telah membawa yang datang dan hadir dalam hidup, mengambil pergi pula apa yang digenggam dan dimiliki. Waktu yang datang tanpa pernah kita mengundangnya dan lalu pergi begitu saja tanpa permisi. Relakan saja, ikhlaskan. Hanya itu obat penawar terampuh. Karena jaman dan waktu memang tak bisa dilawan. Toh pada waktu yang berurai nanti, kita tetap masih bisa mengenang yang telah pergi, yang pernah kita miliki.

Tulisan ini adalah obat saya berdamai dengan diri sendiri. Di jarak yang berdekatan, saya harus rela berpisah dengan kawan, partner kerja satu tim. Wajah lama yang dulu saya akrabi tergantikan wajah-wajah baru. Kedekatan diri layaknya keluarga beralih saling selidik, jegal menjegal. Apa mau dikata, perubahan seiring waktu inilah yang mengharuskan saya belajar, berenang mengikuti arus. Sesekali harus belajar juga melawannya, jika berusaha menghanyutkan.

Ya, pada yang datang dan pergi bersama waktu, yang timbul lalu tenggelam bersama arus sungai, kita semua belajar menjalani ujian hidup yang sesungguhnya..bahwa tak pernah ada yang kekal di dunia ini.

Beda itu Indah dan Hebat

sebuah repost..

Tiga anak terlahir dari rahim yang sama, membawa sifat-sifat khas yang menurun dari sang orangtua. Bukan salah bunda mengandung, anak kedua tumbuh besar dengan kebodohannya dan sangat bengal. Bertanyalah sang mama,

"Kenapa kamu begitu berbeda dari kedua saudaramu? contohlah mereka!"

"Entahlah, mama. Aku memang beda dari mereka, itu berarti aku unik kan?" si anak bengal menjawab sekenanya.
Pahatan karya Tuhan berupa saya mungkin memanglah sengaja dibentuk unik. Pantas dihadirkan untuk memeriahkan suasana rumah yang sepi, ditampilkan sebagai badut penghibur yang konyol, bodoh dan bengal.
Si badut yang benci matematika, lebih menyukai mengarang bebas dan bikin puisi, tak butuh formula ribet njelimet yang bikin otak kusut, karena cukup andalkan imaji saja.

Si badut yang rela-rela saja sang papa lebih memilih mengambil rapor si kakak pandai atau si adik rajin. Alasan papa yang naif, karena lebih bangga dikerumuni dan ditanya layaknya selebritis, "Om, kakak pandai juara kelas lagi ya?" atau "Om, adik rajin ranking satu lagi ya?

Si badut yang membuat mamanya terheran-heran karena bisa tembus masuk jurusan IPA, padahal si badut bodoh benar soal rumus. Si badut yang masih juga dibeda-bedakan, karena hanya dia, satu-satunya anak yang gagal tembus masuk perguruan tinggi favorit.

Kami bertiga dikemas berbeda, pun ketiganya telah memiliki nasib hidupnya sendiri-sendiri. Si kakak, pemilik kulit sawo matang itu pandai, saya kagum pada keenceran otaknya. Lain si adik, dia keriting, hitam, mirip ambon manise dengan senyum manisnya, rajin dan tentu saja pintar. Saya kagum juga. Sedang saya, dinilai lebih menonjol dari segi interior, tapi eskteriornya dianggap kosong melompong. Si putih yang masa depannya terlihat suram, kelam. Entahlah, kakak pandai dan adik rajin bangga atau tidak ya punya saudara yang bengal ini.

Ketiganya tumbuh beriringan bersama pembedanya yang akan dibawa mereka sampai mati. Dalam tumbuh kembang itu, si badut sadar tak selamanya tubuh dan pikirannya akan serupa seperti itu saja dari masa ke masa. Meski si badut merasa unik dan berbeda, tapi si badut ingin kemasan pada dirinya sedikit dirombak. Dengan usaha dan kerja keras, tentunya. Bukan untuk menyenangkan hati sang mama papa, tapi untuk dirinya pribadi. Bukan agar si badut tak lagi dipandang sebelah mata, tapi hanya ingin menunjukkan bahwa si badut bisa dan mampu.

And here i am, sambil membenarkan kerah baju di depan cermin.."inilah saya, bukan lagi si badut konyol itu.."
Percayalah, sesuatu yang berbeda dan unik itu tak selamanya bikin orang memicingkan mata. Justru dengan keunikan itu kamu haruslah bersyukur atas segala kelebihan yang Tuhan berikan atasmu. Gali saja kelebihan itu lebih dalam, agar memancarkan yang indah dan hebat dalam dirimu.