jika hening adalah kesempatan kita untuk bercermin, suka atau tidak pada hasilnya, barangkali hal itupula yang sudah dilakukan leo. sejak ia menyadari dirinya dipuja.
leo mencintai dirinya, menjilati kulitnya sendiri bila mau, mengutuki dirinya yang sempurna. dia selalu punya energi untuk mencintai apapun yang berada dekat dengannya. "seberapa banyak kamu memiliki energi untuk memberi cinta pada mereka?," kesempatan mini bertanya adalah tiket masuk kamar leo dan menelanjanginya.
"aku suka membuat mereka senang, sudah seharusnya kan?," enteng leo menjawab, semudah dia mencari dan lalu melepaskan diri dari pengikutnya. cinta sebagai ajang latihan menyelami hati dan proses mengalami, justru tak pernah ada di kamus leo.
leo si pengikut dewa Hermes. sang pengelana. cinta baginya adalah memberi, tanpa berharap menerima. laksana hujan, ikhlas melepas tetesnya ke bumi. dan membiarkan cintanya terserap habis ke dalam tanah. menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun yang pernah mengenal seorang leo.
lebah-lebah betina dalam wujud tubuh langsing, dan kaki jenjang yang dielu-elukan sebagai ratu pun tunduk pada pesona leo. mereka mengitari leo, berharap dihisap habis mata tajam leo, sementara leo hanya berdiri santai, seakan tak peduli. mereka lalu boleh menggerutu, mendendam atau lega dan ikhlas melepas kepergian leo kembali mencari mangsa. setidaknya dia sudah menjalankan tugasnya. memberi tempat bersenang-senang.
sebenarnya leo hanya mencoba untuk tetap terlihat tenang, meski jauh di ruang hatinya ada suara yang merutuki, "kamu memang pandai menutupi diri, leo. berbuat seolah semuanya baik-baik saja," kata hati itu kuat menggedor ruang hatinya, minta dilepaskan. pertanyaan mini seperti sebuah prolog, akan ada pertanyaan yang lebih dahsyat, yang efeknya bakal bikin leo pusing.
"only love" milik Kula Shaker, mengalun lembut, mengisi kekosongan udara di kamar mini. kamar yang serupa dirinya, mini, namun menyejukkan. "apa yang sedang dicarinya, jika ia sudah merasa puas memberi cinta?" mini menatap langit-langit kamarnya, mencari bayangan leo di situ.
"arrrgh, kenapa jadi aku yang repot, sih?" mini menutup wajah dengan bantal.
dan pertanyaan itu rupanya tertinggal di kepala hingga mini tertidur. masuk tanpa permisi ke dalam mimpinya. dan kini yang terlihat samar di mimpi nirwananya, leo tengah telanjang. berdiri menghampirinya dan melesakkan ciuman ke bibirnya. kenyal, basah dan terasa manis.
mini sudah lebih dulu ditelanjangi, dalam mimpinya. sementara, dalam tidur leo di ujung sana, ia tersenyum menang.
Showing posts with label keping. Show all posts
Showing posts with label keping. Show all posts
Saturday, October 13, 2012
Friday, June 08, 2012
semoga, kekasih..
mendekapmu terlalu erat, berharap tak ada perpisahan, rasanya terlalu egois jika aku melakukan itu semua. sedang jauh disana, seseorang tengah menantimu, meski dia pernah menyakiti perasaanmu.
"aku terluka saat itu," Adit nanar menatap laut, lukisan semesta yang kerap ia kunjungi bersama Gita, sekedar menikmati magic hour, sebuah keindahan senja di tengah samudra.
"dan kamu mengganggapku bisa menyembuhkan lukamu?" Gita bukan sedang tengah membangun rasa percaya dirinya, ada ragu menyelip, mengusik kenangannya dulu bersama Aditya Wiguna, kawan karibnya, saat berada dalam satu tim project kantor.
keakraban antara ia dan Adit semakin membuka jalan keduanya saling menangkap sinyal dan getar debar yang semakin kuat mereka rasakan. namun, waktu memang tak pernah bisa dibeli apalagi dimengerti. hari ini indah, tapi belum tentu esok. ada perih, pedih yang juga dikecapnya. luka itu selalu kembali menganga, manakala membaca takdir, dan nyata-nyata keduanya tak bisa melawan takdir itu.
"entahlah, aku bahagia bersamamu, itu saja," Gita tak menyukai jawaban Adit. bahagia yang seperti apa jika sadarnya adalah menyakiti hati dua perempuan sekaligus. ia dan Dara, istri Adit.
"sepertinya kamu hanya akan menambah luka baru, Dit," sayu mata Gita, memancar lelah yang mendera. seonggok duri di tengah perjalanan, kerap mereka temui. "aku menyukai ketabahanmu dulu yang bersedia menunggu" Adit menyentuh rambut Gita yang menutupi wajah ayunya. "oh, seandainya saja..waktuku saat itu lebih cepat untuk menemukanmu lebih dulu.." Adit menghela napas, ruang dadanya terasa begitu sesak.
apa lagi yang bisa mereka berikan satu sama lain selain penghiburan. cinta mereka begitu sederhana, meski bisa jadi begitu rumit. tak hanya butuh emosi yang stabil, Gita dan Adit juga tak bisa abai begitu saja pada logika. meski rasa itu begitu kuat membelenggu jiwa, kenyataanlah yang tak bisa membawa mereka kemana-mana. sadar mereka, kisah yang terjalin ini bisa saja berakhir menyedihkan. atau bisakah berakhir membahagiakan? entahlah!
hingga tiba di satu titik terendah, seperti menaiki rollercoaster dan tiba pada turunan. Gita mulai merasa nyalinya menciut.
"aku lelah, Dit," saat ini kebahagiaan itu terasa tak lagi penting bagi Gita. ia merasa hanya berputar-putar, timpang, bimbang dan merasa pusing saat kakinya menjejak di semesta milik Adit.
apa perlu umbar kata cinta, kecuali kenyaatan pahit yang begitu manis itu ingin mereka perlihatkan pada dunia. dan akhirnya menjadi mafia adalah jalan yang mereka pilih. menyembunyikan cinta mereka di ranah bawah tanah, dan entah kapan punya masa untuk merambati permukaan yang cukup terjal. butuh usaha berpeluh keluh mencapai puncaknya.
pertemuan keduanya pun harus tersusun begitu rapi. "maklumi aku ya. ada dia yang ingin kuabaikan tapi aku tak bisa, sayang." atas nama tanggungjawab menjaga tautan pernikahannya, Gita rela melihat Adit dan istrinya bahagia. ya, mengalah, meski ia tahu tak akan pernah menang.
"aku kan hanya tukang antar jemput paket, Git," status yang lebih hebat untuk seorang Adit, daripada seorang suami yang punya harga diri, namun sama sekali tak pernah dianggap oleh wanita yang ia pilih menjadi istri itu.
cukup saling bertukar sinyal, begitulah dua makhluk yang saling mencinta itu mulai mirip alien. punya tentakel diatas kepala yang akan menyala terang jika keduanya akan bertemu. selintas lalu Gita mengingat pesan Adit yang membuatnya tiba-tiba getir.
"simpan semuanya dengan rapi, atau cinta ini akan terkikis habis seiring dunia tahu dan mengecam kita, sayang,"
hingga suatu kali Gita harus menerima keluhan, saat sinyal Adit salah ditangkap dengan baik. "bagaimana bisa aku bahagia, Dit, kalau dengusanmu itu semakin banyak padaku. kamu seperti meminta yang tak bisa aku berikan. maaf, aku memang bukan pembaca pesan yang baik, jadi tolonglah harap mengerti" Gita ingat betul, saat itu ia harus mengikuti skenario Adit, mengajak bertemu untuk sekedar merapat bersama.
istilah merapat yang lalu menjadi kode mereka akan beruang bersama, sekedar mengais waktu yang tersisa untuk mereka nikmati sama-sama. membagi kangen, membagi mimpi, cerita bahkan pemikiran mereka tentang banyak hal. brainstorming di tengah siang, sembari memadu cinta, mengentaskan gairah.
Gita tak bisa membaca rencana Adit, ia terus bertanya. Adit merasa Gita pura-pura tidak tahu tapi mencecarnya dengan banyak pertanyaan. "berhentilah bertanya, sayang. duduk dan nikmati saja skenario kita keluar dari sarang persembunyian ini."
pemikiran-pemikiran Gita yang dulu membuat Adit terpukau menguap entah kemana. kini ia tak lebih seperti kerbau bodoh yang harus menuruti perintah tuannya. "inikah yang kamu inginkan, memenjaraku dengan ego dan membungkam cinta yang ingin aku teriakkan lantang ke udara bahwa aku mencintaimu, Dit" Gita diam, terpekur membeku. "..dan semakin lama, aku tak lagi merasakan bahagia itu. cintamu tak lagi sederhana, kau tahu?" suara Gita terdengar lirih, hampir tak terdengar.
pengakuan Gita serasa bagai bom waktu yang telah disimpan lama, dan kini pemicunya telah ditarik dengan sempurna. meledak tepat mengenai hati Adit, menghamburkan berjuta partikel yang siap merajam, membekap jantungnya hingga terasa napasnya tersengal, berat. dan wanita di hadapannya itu kini memilih menghindar dari tatapan sedih Adit.
"maafkan aku, sayang, aku telah kasar dan melukai perasaanmu" Adit tak kuasa melawan takdirnya. sadar ia dan Gita terikat erat dengan norma, status dan lingkungan sosial yang memagari keduanya, hingga tak bisa leluasa saling menyentuh. cinta yang mereka redam semakin lama merajam hati, dan kini melukai Gita dengan sempurna.
Gita tak pernah tahu, atau mungkin Gita tak pernah peka pada perasaan Adit. sejujurnya, Adit merasakan yang sama. ada cemburu yang membelenggu, namun Adit rela disiksa rasa itu. "kabar baik tentang dia yang masih begitu perhatian padamu adalah obat. meski begitu pahit aku menelannya. tapi senyatanya aku perlu turut bahagia untukmu, sayang," Adit tetap mencari sepasang mata itu yang terus menghindar dari tatapannya.
"aku mungkin tak akan pernah bisa memilikimu, Gita. namun jika kau tanyakan sebesar apakah hatiku padamu, maka jawabnya adalah sebesar cinta itu sendiri. ialah yang mampu menampung segala rasa yang aku miliki padamu," Gita seperti tengah mendengar suara hati kekasihnya, begitu nyata terbaca telinga. wajahnya mendongak, menatap dalam mata hitam Adit, dan menemukan ketulusan itu disana.
"aku tahu kamu telah lelah dengan semua ini, maafkan aku.." Adit membelai rambut coklat Gita, menyunggingkan seulas senyum.
"lalu, apa yang bisa membuat kita bisa bertahan dengan semua ini, Dit?"
"bebaskan cinta kita, sebebas-bebasnya..pada saatnya nanti ia akan kembali memenuhi jiwa kita dengan semangat dan asa yang dibawanya serta. tahan kangen itu, dan suatu saat biarkan kangen itu menguasai hati kita. believe me, dear, kangen yang kutahan padamu inilah yang selalu sanggup membuatku terikat, tertaut hati padamu."
"ya, padamu Gita Karisma, istriku..semoga, suatu saat nanti, sayang..." kini Adit mendengar sendiri suara hatinya berkata.
Gita masih menatap Adit yang memandangnya penuh arti, mencari kekuatan pada sepasang mata itu "entah kapan cinta ini akan berlabuh pada dermaga yang kita tuju, sayang..semoga ketabahan ini tetap kita miliki hingga saatnya kita menciptakan takdir kita sendiri..semoga.." begitu lirih suara hatinya, namun menyelipkan jutaan asa
kilau langit senja di tengah gelombang samudra ditingkahi suara camar melintasi lautan, jadi saksi pertautan cinta mereka. entah sampai kapan.
*just my imagination
"aku terluka saat itu," Adit nanar menatap laut, lukisan semesta yang kerap ia kunjungi bersama Gita, sekedar menikmati magic hour, sebuah keindahan senja di tengah samudra.
"dan kamu mengganggapku bisa menyembuhkan lukamu?" Gita bukan sedang tengah membangun rasa percaya dirinya, ada ragu menyelip, mengusik kenangannya dulu bersama Aditya Wiguna, kawan karibnya, saat berada dalam satu tim project kantor.
keakraban antara ia dan Adit semakin membuka jalan keduanya saling menangkap sinyal dan getar debar yang semakin kuat mereka rasakan. namun, waktu memang tak pernah bisa dibeli apalagi dimengerti. hari ini indah, tapi belum tentu esok. ada perih, pedih yang juga dikecapnya. luka itu selalu kembali menganga, manakala membaca takdir, dan nyata-nyata keduanya tak bisa melawan takdir itu.
"entahlah, aku bahagia bersamamu, itu saja," Gita tak menyukai jawaban Adit. bahagia yang seperti apa jika sadarnya adalah menyakiti hati dua perempuan sekaligus. ia dan Dara, istri Adit.
"sepertinya kamu hanya akan menambah luka baru, Dit," sayu mata Gita, memancar lelah yang mendera. seonggok duri di tengah perjalanan, kerap mereka temui. "aku menyukai ketabahanmu dulu yang bersedia menunggu" Adit menyentuh rambut Gita yang menutupi wajah ayunya. "oh, seandainya saja..waktuku saat itu lebih cepat untuk menemukanmu lebih dulu.." Adit menghela napas, ruang dadanya terasa begitu sesak.
apa lagi yang bisa mereka berikan satu sama lain selain penghiburan. cinta mereka begitu sederhana, meski bisa jadi begitu rumit. tak hanya butuh emosi yang stabil, Gita dan Adit juga tak bisa abai begitu saja pada logika. meski rasa itu begitu kuat membelenggu jiwa, kenyataanlah yang tak bisa membawa mereka kemana-mana. sadar mereka, kisah yang terjalin ini bisa saja berakhir menyedihkan. atau bisakah berakhir membahagiakan? entahlah!
hingga tiba di satu titik terendah, seperti menaiki rollercoaster dan tiba pada turunan. Gita mulai merasa nyalinya menciut.
"aku lelah, Dit," saat ini kebahagiaan itu terasa tak lagi penting bagi Gita. ia merasa hanya berputar-putar, timpang, bimbang dan merasa pusing saat kakinya menjejak di semesta milik Adit.
apa perlu umbar kata cinta, kecuali kenyaatan pahit yang begitu manis itu ingin mereka perlihatkan pada dunia. dan akhirnya menjadi mafia adalah jalan yang mereka pilih. menyembunyikan cinta mereka di ranah bawah tanah, dan entah kapan punya masa untuk merambati permukaan yang cukup terjal. butuh usaha berpeluh keluh mencapai puncaknya.
pertemuan keduanya pun harus tersusun begitu rapi. "maklumi aku ya. ada dia yang ingin kuabaikan tapi aku tak bisa, sayang." atas nama tanggungjawab menjaga tautan pernikahannya, Gita rela melihat Adit dan istrinya bahagia. ya, mengalah, meski ia tahu tak akan pernah menang.
"aku kan hanya tukang antar jemput paket, Git," status yang lebih hebat untuk seorang Adit, daripada seorang suami yang punya harga diri, namun sama sekali tak pernah dianggap oleh wanita yang ia pilih menjadi istri itu.
cukup saling bertukar sinyal, begitulah dua makhluk yang saling mencinta itu mulai mirip alien. punya tentakel diatas kepala yang akan menyala terang jika keduanya akan bertemu. selintas lalu Gita mengingat pesan Adit yang membuatnya tiba-tiba getir.
"simpan semuanya dengan rapi, atau cinta ini akan terkikis habis seiring dunia tahu dan mengecam kita, sayang,"
hingga suatu kali Gita harus menerima keluhan, saat sinyal Adit salah ditangkap dengan baik. "bagaimana bisa aku bahagia, Dit, kalau dengusanmu itu semakin banyak padaku. kamu seperti meminta yang tak bisa aku berikan. maaf, aku memang bukan pembaca pesan yang baik, jadi tolonglah harap mengerti" Gita ingat betul, saat itu ia harus mengikuti skenario Adit, mengajak bertemu untuk sekedar merapat bersama.
istilah merapat yang lalu menjadi kode mereka akan beruang bersama, sekedar mengais waktu yang tersisa untuk mereka nikmati sama-sama. membagi kangen, membagi mimpi, cerita bahkan pemikiran mereka tentang banyak hal. brainstorming di tengah siang, sembari memadu cinta, mengentaskan gairah.
Gita tak bisa membaca rencana Adit, ia terus bertanya. Adit merasa Gita pura-pura tidak tahu tapi mencecarnya dengan banyak pertanyaan. "berhentilah bertanya, sayang. duduk dan nikmati saja skenario kita keluar dari sarang persembunyian ini."
pemikiran-pemikiran Gita yang dulu membuat Adit terpukau menguap entah kemana. kini ia tak lebih seperti kerbau bodoh yang harus menuruti perintah tuannya. "inikah yang kamu inginkan, memenjaraku dengan ego dan membungkam cinta yang ingin aku teriakkan lantang ke udara bahwa aku mencintaimu, Dit" Gita diam, terpekur membeku. "..dan semakin lama, aku tak lagi merasakan bahagia itu. cintamu tak lagi sederhana, kau tahu?" suara Gita terdengar lirih, hampir tak terdengar.
pengakuan Gita serasa bagai bom waktu yang telah disimpan lama, dan kini pemicunya telah ditarik dengan sempurna. meledak tepat mengenai hati Adit, menghamburkan berjuta partikel yang siap merajam, membekap jantungnya hingga terasa napasnya tersengal, berat. dan wanita di hadapannya itu kini memilih menghindar dari tatapan sedih Adit.
"maafkan aku, sayang, aku telah kasar dan melukai perasaanmu" Adit tak kuasa melawan takdirnya. sadar ia dan Gita terikat erat dengan norma, status dan lingkungan sosial yang memagari keduanya, hingga tak bisa leluasa saling menyentuh. cinta yang mereka redam semakin lama merajam hati, dan kini melukai Gita dengan sempurna.
Gita tak pernah tahu, atau mungkin Gita tak pernah peka pada perasaan Adit. sejujurnya, Adit merasakan yang sama. ada cemburu yang membelenggu, namun Adit rela disiksa rasa itu. "kabar baik tentang dia yang masih begitu perhatian padamu adalah obat. meski begitu pahit aku menelannya. tapi senyatanya aku perlu turut bahagia untukmu, sayang," Adit tetap mencari sepasang mata itu yang terus menghindar dari tatapannya.
"aku mungkin tak akan pernah bisa memilikimu, Gita. namun jika kau tanyakan sebesar apakah hatiku padamu, maka jawabnya adalah sebesar cinta itu sendiri. ialah yang mampu menampung segala rasa yang aku miliki padamu," Gita seperti tengah mendengar suara hati kekasihnya, begitu nyata terbaca telinga. wajahnya mendongak, menatap dalam mata hitam Adit, dan menemukan ketulusan itu disana.
"aku tahu kamu telah lelah dengan semua ini, maafkan aku.." Adit membelai rambut coklat Gita, menyunggingkan seulas senyum.
"lalu, apa yang bisa membuat kita bisa bertahan dengan semua ini, Dit?"
"bebaskan cinta kita, sebebas-bebasnya..pada saatnya nanti ia akan kembali memenuhi jiwa kita dengan semangat dan asa yang dibawanya serta. tahan kangen itu, dan suatu saat biarkan kangen itu menguasai hati kita. believe me, dear, kangen yang kutahan padamu inilah yang selalu sanggup membuatku terikat, tertaut hati padamu."
"ya, padamu Gita Karisma, istriku..semoga, suatu saat nanti, sayang..." kini Adit mendengar sendiri suara hatinya berkata.
Gita masih menatap Adit yang memandangnya penuh arti, mencari kekuatan pada sepasang mata itu "entah kapan cinta ini akan berlabuh pada dermaga yang kita tuju, sayang..semoga ketabahan ini tetap kita miliki hingga saatnya kita menciptakan takdir kita sendiri..semoga.." begitu lirih suara hatinya, namun menyelipkan jutaan asa
kilau langit senja di tengah gelombang samudra ditingkahi suara camar melintasi lautan, jadi saksi pertautan cinta mereka. entah sampai kapan.
*just my imagination
Friday, April 27, 2012
Semenjana
"Aku hanya punya sederhana yang bisa kubagi
denganmu, Dra. Maaf, karena kamu pemilik sempurna, sepertinya bukan aku
yang sedang kamu cari.." Nja berlalu. Ada sesak mendera dada, Dra
membekap erat, sakit, namun ketabahannya mengalahkan sakit itu.
"Dan aku menyukai situasi sederhana, Nja. Sederhana yang penuh cinta. Di kenyataan aku tidak setiap saat menerimanya, membaginya. Hanya hati yang bisa menyimpan semua yang tidak bisa muncul ke permukaan. Hatiku nyatanya memang memujamu, dan tidak bisa menahan untuk juga memujimu, Nja, apalagi dengan penerimaanmu atas aku, pemikiranku, hatiku. Terima Kasih, Nja." Dra membatin, meyakinkan diri, ia memang tak pernah salah membiarkan hatinya menuju pada Nja yang sederhana.
Mahal bagi Dra hanyalah sekedar label, "aku hanya berusaha menghargai lingkungan yang menerima kehadiranku, Nja. Tampil bersih, segar, meski dengan label "mahal" yang melekat, itu berarti aku telah bertanggung jawab atas raga yang menopang jiwaku. Lagipula, jangan pernah sandingkan label mahal itu dengan betapa senangnya aku mendapati pemikiran, rasa dan sikap sederhanamu, Nja.." Gusar Nja atas sikap Dra selama ini lantas memunculkan riwil lewat jawaban panjang lebar Dra.
Ada serupa bahagia mengaliri bilik hati Nja, begitu tiba-tiba dan Nja tak kuasa membendungnya. Jika ruang kubikal, di pojokan, tempat favorit Nja menulis itu gelap gulita, mungkin saat ini wajah Nja yang terang benderang, cerah, bagai mentari sudah cukup menerangi gelap ruang kubikalnya, "Bincang kita ini menyadarkan aku, selama ini aku telah salah menilaimu, Dra."
Dra tak pernah gentar, masih dengan tabahnya ingin menghabiskan waktu meski hanya sebentar untuk bertemu Nja. Ia mensejajari langkah kecil Nja yang setengah terburu segera menuju senja, tempatnya kembali pulang pada semesta dan takdirnya. "Aku antar pulang ya," Dra menggenggam tangan Nja erat menuju shelter di seberang jalan.
Sontak kaget Nja tak bisa ditutupi, langkahnya yang sempat memburu perlahan meringan. Ia merelakan diri, Dra membawanya pulang menuju senja. Ada hangat yang mengalir lembut, merasuk ke dalam jiwanya, serupa bahagia. "Kamu yakin mau ikut pulang bersamaku, Dra?", rupanya Nja masih perlu meyakinkan dirinya sekali lagi, ini bukan sekedar taktik Dra memanipulasi hatinya.
"Aku harus memastikan dirimu baik-baik saja, Nja." Bis yang mengantar Nja dan Dra perlahan merambati jalanan. "Sebelum jeda kembali bertemu pagi, bertemu kamu, inilah yang bisa kulakukan, Nja. Meminjam sedikit waktu dari yang aku punya, menatapmu meski sebentar, sebelum kelam malam menjemputmu pulang menuju takdirmu," Dra memandang lekat mata coklat Nja. Tak lagi ia hiraukan pandangan orang-orang di dalam bis itu yang seperti sedang menonton drama romantis.
Nja jengah, namun ia tak kuasa menolak tatapan itu. Sesekali Nja berusaha membuang pandangan keluar jendela, sambil bergumam, membaca baliho-baliho besar dan plang yang berjajar di sepanjang jalan. Memanjakan kebiasaan yang sudah dilakukannya sejak kecil. Lewat sudut matanya, Nja menangkap Dra tengah menikmatinya. Namun, magnet mata Dra seperti menariknya untuk kembali menatap mata coklat itu, mata yang sama seperti miliknya.
Hingga tetiba di shelter, saat tangan mereka saling berjabat dan janji yang terucap, "Esok kita bertemu lagi ya, selamat istirahat, Nja," Dra mengenggam tangan Nja, hangat. Pada perpisahan itu, Dra leluasa mengamati punggung Nja setelah mereka sama-sama menuruni tangga yang berlawanan di shleter terakhir itu.
"Inilah diam yang menyiksaku, memandangi punggungmu hingga tak lagi nampak di pelupuk mata, berjalan menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandanganku, Nja. Ya, shelter terakhir itulah saksi perpisahan kita." Batin Dra. Dan, Nja rupanya sadar dirinya diperhatikan dari jauh, "Aku tahu kamu tengah mengamatiku saat aku mulai perlahan menjauh pergi menuju senjaku. Punggungku punya mata, Dra."
Karena sederhana, Dra bertahan pada Nja. Menyimak kisah, semangat, pemikiran Nja tentang sekelilingnya. Dra merasa warna sederhana Nja akan semakin indah jika mereka bisa saling berbagi. "Dan jangan tanya soal kesabaran, aku memulainya tidak kemarin ini, aku sendiri tidak ingat kapan, Nja" Dra terpekur di sudut kursinya menunggu Nja membagi kembali kisah sederhana padanya.
"Apa pemikiran sederhana lainnya yang ingin kamu bagi bersamaku, Nja. Bagilah, aku ingin meresapinya sampai tuntas, tak berbekas." Dra girang, menemukan kembali Nja yang siap membagi telinga, lidah dan pemikiran, dan menceritakan hal-hal sederhana itu di kotak simulakrum.
"Dan aku menyukai situasi sederhana, Nja. Sederhana yang penuh cinta. Di kenyataan aku tidak setiap saat menerimanya, membaginya. Hanya hati yang bisa menyimpan semua yang tidak bisa muncul ke permukaan. Hatiku nyatanya memang memujamu, dan tidak bisa menahan untuk juga memujimu, Nja, apalagi dengan penerimaanmu atas aku, pemikiranku, hatiku. Terima Kasih, Nja." Dra membatin, meyakinkan diri, ia memang tak pernah salah membiarkan hatinya menuju pada Nja yang sederhana.
Mahal bagi Dra hanyalah sekedar label, "aku hanya berusaha menghargai lingkungan yang menerima kehadiranku, Nja. Tampil bersih, segar, meski dengan label "mahal" yang melekat, itu berarti aku telah bertanggung jawab atas raga yang menopang jiwaku. Lagipula, jangan pernah sandingkan label mahal itu dengan betapa senangnya aku mendapati pemikiran, rasa dan sikap sederhanamu, Nja.." Gusar Nja atas sikap Dra selama ini lantas memunculkan riwil lewat jawaban panjang lebar Dra.
Ada serupa bahagia mengaliri bilik hati Nja, begitu tiba-tiba dan Nja tak kuasa membendungnya. Jika ruang kubikal, di pojokan, tempat favorit Nja menulis itu gelap gulita, mungkin saat ini wajah Nja yang terang benderang, cerah, bagai mentari sudah cukup menerangi gelap ruang kubikalnya, "Bincang kita ini menyadarkan aku, selama ini aku telah salah menilaimu, Dra."
Dra tak pernah gentar, masih dengan tabahnya ingin menghabiskan waktu meski hanya sebentar untuk bertemu Nja. Ia mensejajari langkah kecil Nja yang setengah terburu segera menuju senja, tempatnya kembali pulang pada semesta dan takdirnya. "Aku antar pulang ya," Dra menggenggam tangan Nja erat menuju shelter di seberang jalan.
Sontak kaget Nja tak bisa ditutupi, langkahnya yang sempat memburu perlahan meringan. Ia merelakan diri, Dra membawanya pulang menuju senja. Ada hangat yang mengalir lembut, merasuk ke dalam jiwanya, serupa bahagia. "Kamu yakin mau ikut pulang bersamaku, Dra?", rupanya Nja masih perlu meyakinkan dirinya sekali lagi, ini bukan sekedar taktik Dra memanipulasi hatinya.
"Aku harus memastikan dirimu baik-baik saja, Nja." Bis yang mengantar Nja dan Dra perlahan merambati jalanan. "Sebelum jeda kembali bertemu pagi, bertemu kamu, inilah yang bisa kulakukan, Nja. Meminjam sedikit waktu dari yang aku punya, menatapmu meski sebentar, sebelum kelam malam menjemputmu pulang menuju takdirmu," Dra memandang lekat mata coklat Nja. Tak lagi ia hiraukan pandangan orang-orang di dalam bis itu yang seperti sedang menonton drama romantis.
Nja jengah, namun ia tak kuasa menolak tatapan itu. Sesekali Nja berusaha membuang pandangan keluar jendela, sambil bergumam, membaca baliho-baliho besar dan plang yang berjajar di sepanjang jalan. Memanjakan kebiasaan yang sudah dilakukannya sejak kecil. Lewat sudut matanya, Nja menangkap Dra tengah menikmatinya. Namun, magnet mata Dra seperti menariknya untuk kembali menatap mata coklat itu, mata yang sama seperti miliknya.
Hingga tetiba di shelter, saat tangan mereka saling berjabat dan janji yang terucap, "Esok kita bertemu lagi ya, selamat istirahat, Nja," Dra mengenggam tangan Nja, hangat. Pada perpisahan itu, Dra leluasa mengamati punggung Nja setelah mereka sama-sama menuruni tangga yang berlawanan di shleter terakhir itu.
"Inilah diam yang menyiksaku, memandangi punggungmu hingga tak lagi nampak di pelupuk mata, berjalan menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandanganku, Nja. Ya, shelter terakhir itulah saksi perpisahan kita." Batin Dra. Dan, Nja rupanya sadar dirinya diperhatikan dari jauh, "Aku tahu kamu tengah mengamatiku saat aku mulai perlahan menjauh pergi menuju senjaku. Punggungku punya mata, Dra."
Karena sederhana, Dra bertahan pada Nja. Menyimak kisah, semangat, pemikiran Nja tentang sekelilingnya. Dra merasa warna sederhana Nja akan semakin indah jika mereka bisa saling berbagi. "Dan jangan tanya soal kesabaran, aku memulainya tidak kemarin ini, aku sendiri tidak ingat kapan, Nja" Dra terpekur di sudut kursinya menunggu Nja membagi kembali kisah sederhana padanya.
"Apa pemikiran sederhana lainnya yang ingin kamu bagi bersamaku, Nja. Bagilah, aku ingin meresapinya sampai tuntas, tak berbekas." Dra girang, menemukan kembali Nja yang siap membagi telinga, lidah dan pemikiran, dan menceritakan hal-hal sederhana itu di kotak simulakrum.
Monday, March 12, 2012
Samudra, Pria Penunggu Senja
Dra, Pria yang datang dengan ketabahan hati..
"Aku merasa bisa jatuh hati pada siapa saja, wanita cerdas, mandiri, cuek, mengerti kodratnya." Dra tengah mengarahkan panah itu tepat ke hati Nja, wanita yang telah mencuri hatinya, mengalihkan dunianya.
Dra ingin bisa menyentuh keindahan Senja, tak apa pula jika Nja ternyata hanya mengijinkannya sekedar dekat dan mengenal dunianya. Dra lalu menemukan ruang nyaman ini, sebuah ruang penyatuan imaji dan fantasi, sebagaimana harapan Dra mengenal Senja, nyata.
"Apakah kamu masih mencari pinjaman crayon warna-warni untuk melukis langit, aku punya dan senang berbagi denganmu, Nja." Sapa pertama Dra di ruang hati Senja.
"Masih, aku masih sangat senang melukis langit, Dra, karena langit adalah duniaku. Akulah serupa semburat jingga keemasan terlukis di langit. Indah namun juga menyimpan berjuta misteri. Boleh aku pinjam crayonmu? aku ingin melukis senjaku dengan sebentuk pelangi."
Dra yang tabah menunggu saat Nja bersedia menyapanya, begitu girang mendapati salam hangat Nja "dan sekedar berteman, mendapati sapaan hangat darimu adalah indah, Nja"
"Kau tahu, Nja, mengingat dirimu diantara tumpukan kenangan masa-masa kuliah kita, aku yang kini merasa bodoh, bisa begitu abai pada hadirmu yang begitu indah."
"Karya-karyamu telah mencuri perhatianku," Tak surut gentar Dra mencari jejak-jejak Senja di banyak tempat, "membaca catatanmu, berkunjung ke rumah pelangimu seperti sebuah ekstase yang mendebarkan. Kamu seperti menggoda, mengajakku masuk ke dalam alam pikirmu, memanjakan imajiku dan aku yang lalu berharap ini tak sekedar fantasi." Inilah penghiburan bagi Dra, meski hanya bisa membaca karya-karya Senja. Perlahan, dan suara itu begitu jelas terdengar dari dalam bilik hatinya, mengusik, menggelitik hatinya untuk berkata..
"I Adore u, Nja." bisik Dra lirih.
menyanding hebatmu
dengan kebiasaanku, yang sangat biasa
menjadi temanmu
adalah istimewa
"Hebat, itu terlalu jauh dari kesan seorang Nja, Dra..dan menjadi yang istimewa di hatimu, pun sepertinya terlalu jauh aku percaya itu." Senja merasa tak perlu buru-buru percaya pada suara hati Dra, dan ia memilih menangkis pujian hebat itu.
langkahku adalah gelombang, deburnya meriak senang
tetes embun wujud wajahku, samudra kuasaku
Nja hanya mengenal Dra yang ceria, pria flamboyan, sang pemuja ulung, dan kini ia datang padanya, menyanjungnya sedemikian rupa. "Apakah aku tengah berada dalam jeratmu, wahai pemuja?" membuat Nja perlu menajamkan akal sehatnya dan mengabaikan sementara intuisinya. "Logikaku tak boleh mati hanya karena terkalahkan rasa hati yang belum sepenuhnya bisa kucerna. Maaf, Dra."
"Aku tidak bisa membaca hatiku, Nja, aku hanya bisa menyuarakannya. Aku cari buku manual untuk membaca hati, tetap tidak ada yang menjual. Maaf, apa kejujuran hatiku terasa berlebihan, Nja? Karena sosokmu dalam pemahamanku adalah seperti itu. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu."
Dra, pria yang tabah itu lalu kembali terpekur di sudut ruang gelap, dan tetap menunggu Nja kembali menyapanya..
"Dan saat semua tidak berpihak padaku, sangat besar inginku kembali kepada alam..dan menunggumu di senja, menatap indahmu dari samudraku yang luas, ditemani riak gelombangku yang begitu tenang adalah ikhlasku. Aku rela, Nja.."
"Aku merasa bisa jatuh hati pada siapa saja, wanita cerdas, mandiri, cuek, mengerti kodratnya." Dra tengah mengarahkan panah itu tepat ke hati Nja, wanita yang telah mencuri hatinya, mengalihkan dunianya.
Dra ingin bisa menyentuh keindahan Senja, tak apa pula jika Nja ternyata hanya mengijinkannya sekedar dekat dan mengenal dunianya. Dra lalu menemukan ruang nyaman ini, sebuah ruang penyatuan imaji dan fantasi, sebagaimana harapan Dra mengenal Senja, nyata.
"Apakah kamu masih mencari pinjaman crayon warna-warni untuk melukis langit, aku punya dan senang berbagi denganmu, Nja." Sapa pertama Dra di ruang hati Senja.
"Masih, aku masih sangat senang melukis langit, Dra, karena langit adalah duniaku. Akulah serupa semburat jingga keemasan terlukis di langit. Indah namun juga menyimpan berjuta misteri. Boleh aku pinjam crayonmu? aku ingin melukis senjaku dengan sebentuk pelangi."
Dra yang tabah menunggu saat Nja bersedia menyapanya, begitu girang mendapati salam hangat Nja "dan sekedar berteman, mendapati sapaan hangat darimu adalah indah, Nja"
"Kau tahu, Nja, mengingat dirimu diantara tumpukan kenangan masa-masa kuliah kita, aku yang kini merasa bodoh, bisa begitu abai pada hadirmu yang begitu indah."
"Karya-karyamu telah mencuri perhatianku," Tak surut gentar Dra mencari jejak-jejak Senja di banyak tempat, "membaca catatanmu, berkunjung ke rumah pelangimu seperti sebuah ekstase yang mendebarkan. Kamu seperti menggoda, mengajakku masuk ke dalam alam pikirmu, memanjakan imajiku dan aku yang lalu berharap ini tak sekedar fantasi." Inilah penghiburan bagi Dra, meski hanya bisa membaca karya-karya Senja. Perlahan, dan suara itu begitu jelas terdengar dari dalam bilik hatinya, mengusik, menggelitik hatinya untuk berkata..
"I Adore u, Nja." bisik Dra lirih.
menyanding hebatmu
dengan kebiasaanku, yang sangat biasa
menjadi temanmu
adalah istimewa
"Hebat, itu terlalu jauh dari kesan seorang Nja, Dra..dan menjadi yang istimewa di hatimu, pun sepertinya terlalu jauh aku percaya itu." Senja merasa tak perlu buru-buru percaya pada suara hati Dra, dan ia memilih menangkis pujian hebat itu.
langkahku adalah gelombang, deburnya meriak senang
tetes embun wujud wajahku, samudra kuasaku
Nja hanya mengenal Dra yang ceria, pria flamboyan, sang pemuja ulung, dan kini ia datang padanya, menyanjungnya sedemikian rupa. "Apakah aku tengah berada dalam jeratmu, wahai pemuja?" membuat Nja perlu menajamkan akal sehatnya dan mengabaikan sementara intuisinya. "Logikaku tak boleh mati hanya karena terkalahkan rasa hati yang belum sepenuhnya bisa kucerna. Maaf, Dra."
"Aku tidak bisa membaca hatiku, Nja, aku hanya bisa menyuarakannya. Aku cari buku manual untuk membaca hati, tetap tidak ada yang menjual. Maaf, apa kejujuran hatiku terasa berlebihan, Nja? Karena sosokmu dalam pemahamanku adalah seperti itu. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu."
Dra, pria yang tabah itu lalu kembali terpekur di sudut ruang gelap, dan tetap menunggu Nja kembali menyapanya..
"Dan saat semua tidak berpihak padaku, sangat besar inginku kembali kepada alam..dan menunggumu di senja, menatap indahmu dari samudraku yang luas, ditemani riak gelombangku yang begitu tenang adalah ikhlasku. Aku rela, Nja.."
Subscribe to:
Posts (Atom)