Showing posts with label mini. Show all posts
Showing posts with label mini. Show all posts

Saturday, March 07, 2015

santo mario

siapa yang dicari mini kalau sudah begini. leo kembali pulang pada cintanya yang hilang, padahal mini sudah lagi tak merasa sepi.

"sudah kubilang kan, jangan cari masalah dengan menghadirkan dia di hidupmu...," perang batin mini menghadirkan sakit yang luar biasa perih.


dan hanya nama itu yang sanggup menjadi obat. santo mario. "oh damn, how i can miss you mario," mini berlari mencari sang bijaksana.

mario memiliki senyum semanis pagi. setenang senja, ia akan memberimu pelukan dan saran secukupnya, jika diminta. tapi berhati-hatilah dengan sepasang mata magis itu, mario sanggup menghisapmu bulat-bulat sampai kamu lemas. tubuhnya atletis meski jika ditebak mario tak begitu menyukai olahraga. anggap saja dia punya nasib yang sama dengan Tom Cruise. menawan, penuh kharisma.

mini tak pernah begitu penasaran dengan orang yang baru dikenalnya sepuluh menit yang lalu. tapi tidak dengan mario. dia serupa kotak misterius. sayang, belum ada satupun yang bisa menemukan kunci pembukanya.

"kamu tidak bosan hidup sempurna dalam sepi, wahai santo mario,?"  mario seperti menikmati hidup dalam cangkangnya. rela menarik diri dari bisingnya dunia, dan memilih tidur sampai pagi. sampai dia siap kembali menemui kenyataan.

"aku tak butuh orang tahu banyak tentang aku, mini, tapi mengenalmu, aku mau..." sapa pertamanya sore itu di kotak chat. mini kaget lantas terkekeh. "hanya penasaran yang dibalut iseng bertanya, lupakan saja," mini mencoba rileks menanggapi feed back mario yang terkesan serius.

"sama seperti juga kamu yang iseng bertanya, kadang aku juga iseng membuat teman-temanku percaya bahwa penilaian mereka tentang aku selama ini benar," mario mulai membuka diri.

tak ada orang yang benar-benar menjadi dirinya sendiri. saat dibutuhkan lingkungan sosialnya, seseorang bisa saja hadir sebagai sosok yang bukan dirinya.

"aku rasa kamu juga akan melakukan hal yang sama, bukan begitu, mini?," mario menelisik.

mini terperangah tapi pasrah tabirnya terbuka. ia sudah belajar menjadi apa yang diingini leo. dari mulai mengabaikan logika hingga membenarkan pilihannya bahwa leo yang sejujurnya mampu membuat hati mini hidup.

"lalu, bagaimana perang dingin kalian, sudah usai?," mini yang ditanya hanya tersenyum getir. tak banyak yang tahu, tapi mario tahu banyak soal keduanya.

leo membagi rahasia kisahnya bersama mini, dan hanya pada mario semua cerita terurai. leo pun tak perlu tahu, mario menempatkan mini di singgasana teristimewanya.

"mini tahu yang terbaik untuk dirinya, dan aku hanya perlu menjadi sayap untuk merengkuhnya saat terjatuh nanti," entah terbuat dari apa hati mario, ini pilihannya.

kadang, ada saja orang yang menganggap mario punya kepribadian ganda
. tiba-tiba bersinar, lalu padam, tenggelam masuk ke cangkangnya. inilah cara mario mencintai hidupnya meski dia tahu batasannya

"aku tidak hitam, bukan juga putih. aku si abu-abu" sabda mario si pengamat yang suka mencari nyaman. "kamu itu perpaduan art, adventure, love and respect. sadari itu mario," puji mini.
 
mario lah pendengar, penumbuh semangat mini, yang selalu tahu bagaimana membuat tangisan mini berubah senyum. "lalu, sampai kapan kamu akan seperti ini, berdiam di duniamu sendiri, sementara di luar sana, ada yang menunggumu untuk dijemput,?" mario yang ditanya lagi-lagi hanya membentangkan senyum semanis mungkin. senyum yang melahirkan banyak tanya.
 











Friday, October 19, 2012

hadiah termanis

"yuk...", sebuah pesan singkat 3 huruf tertera di layar ponsel mini. simpel. hal yang disukai mini dari leo. dan 3 huruf itu mampu membuat mini diserang penasaran berkelanjutan, "apa sih maunya?".

ya, ya, leo selalu tahu cuaca langit mini. tapi mini selalu berkelit. baginya, laporan prakiraan cuaca, cuma sekedar ramalan, soal benar atau tidak, lebih baik tanya pada langit dan awan bersangkutan.

"aku cerah, sama sekali tidak berawan. kamu?" sering batin mini meringis karena berbohong. sementara jawaban leo selalu sama, "bersih dan tenang,". mini dan leo pilih kompak menampilkan cerah yang tak sejati. karena langit mendung tak pantas jadi pajangan.

mini bertanya kemana, dan leo tak mempersiapkan apapun untuk pertemuan sembunyi-sembunyi mereka kali ini. leo tak suka terlalu banyak pertanyaan datang dari lingkungan sosialnya tentang, "kenapa harus mini, sih?" sikap dan pembawaan leo disetel sewajar mungkin, "ini kisahku, bukan santapan publik. soal sakit dan senangnya, biar aku yang tanggung."

kemana leo membawanya pergi. mini hanya diam. "jika penculikan ini adalah tiketku untuk lepas bebas menuju duniamu, aku bersedia masuk."

mini dan leo bukan teman yang saling akrab dan dekat. tapi ada sesuatu yang memampukan mereka untuk saling mendengar apa yang tak terbaca telinga, dan mengandalkan mata hati untuk membaca yang tak terbaca di permukaan. segala perasaan yang disembunyikan di sudut labirin hati.

perjalanan itu lalu terhenti di sebuah kedai. leo paham, dunia mini terlalu sederhana, bahkan untuk dimengerti.

mini dan sepi. bukan kafe, dan hingar bingar music bar. "sudah cukup membawamu ke duniaku, dan sekarang biarkan aku melihat duniamu," batin leo.

leo hanya ingin mini tahu, ia tak pernah sekerdil yang dibayangkan mini. tentang label, harga dan kelas sosial yang dipilihnya. "jangan pernah melihatku dari apa yang aku pakai, mini. aku hanya berlaku sepantasnya. pikiranku pun sesederhana kamu. kesenjangan itu memuakkan."

"semua yang melekat akan pergi, jika dimaui, tapi tidak jiwa dan hati." leo menatap mata mini, lekat. berharap mini sadar. ada yang salah terbaca mini tentangnya selama ini.

kini, mini mengerti...

dan, entah harus mulai dari mana leo menjelaskan maksud dari penculikan ini. ada sebuah bingkisan tersembunyi di balik kotak warna hijau pupus yang sudah dibawanya sedari tadi. "ini...hadiah untuk kamu," leo berupaya tetap sadar, agar masih bisa dirasakan kakinya menjejak tanah. memasuki dunia mini.

mini terkejut melihat kotak di depan wajahnya. "kamu sedang melakukan upaya perdamaian, leo?" mini sekenanya menebak-nebak maksud leo.

"aku tak pernah merasa ini akan jadi spesial, dan berharap sesuatu ini akan mencairkan kita, mini," leo tak suka niat baiknya disalahartikan mini sebagai permintaan maaf. tak ada yang perlu dimaafkan. dulu ataupun sekarang. tak mengubah apapun. hatinya tetap memilih mini.

"maaf, leo..." sesal merutuki hati mini. leo terlihat seperti kucing yang minta dipeluk dan dibelai sayang, karena ekornya terinjak kaki mini. 

"leo, aku tahu kamu punya banyak pilihan, tapi, kenapa kotak musik dan earphone?" pertanyaan mini sekali lagi selalu sanggup membuat tenggorokannya tercekat. lidahnya kelu, seperti mati kaku. tak ada jawaban yang dipersiapkan. harapan leo, mini senang, tanpa banyak bertanya kenapa. sekilas diliriknya mini tengah tersenyum menunggu jawaban leo. senyum yang menghantarkan percik-percik listrik di jaringan otak. senyum yang menyakinkan leo, bahwa dunia ini cukup indah tanpa perlu lagi ada surga.

"aku tahu, buku dan musik adalah teman sepimu, selain menulis. semoga kamu suka," sederhana sekali. leo tahu apa yang terbaik untuk mini.

dalam batinnya, leo bicara, "aku mungkin bukan pendengar yang baik untuk segala penat yang menghimpit ruang kepalamu, hingga kamu perlu menulisnya berlembar-lembar di tempat lain, hanya untuk mengatakan kamu tidak setuju dengan pendapatku. kotak musik dan earphone ini mungkin bisa menjadi teman menulismu. mewakili hadirku. meski kita berseberangan, " ditatapnya wajah itu, mencari-cari arti dari senyum yang sekali lagi dipertunjukkan mini. senyuman yang membuat leo berkecukupan.

...

"dan, sudahkan kamu berhenti menemukan yang kamu cari, leo? de ja vu. pertanyaan mini bernada sama milik dara. pertanyaan yang tak pernah menemukan jawabnya. dara yang setia menunggu leo akhirnya memilih pergi membawa lebam memar di hatinya.

leo diam. membekap badai yang memporakporandakan ruang hatinya. nama itu melebur bersama waktu, namun tidak sosok itu. dara bagai hantu. datang dari masa lalu.

hingga akhirnya hanya "hai?". satu kata saja yang memampukan leo untuk bicara. jeda tahunan lebur sudah. dara kembali datang bersama waktu, meminta leo menjawab pertanyaan-pertanyaannya yang belum sempat dijawab.

lalu, dimanakah hati mini akan tinggal, jika dara datang bertamu ke bilik hati leo?

...

Wednesday, October 17, 2012

rahasia sebuah dunia

mini kembali sendiri, mencari sepi miliknya. kalau kehilangan mini, cari saja dia di kamarnya. ia sedang santai menikmati tenggelam ke dalam buku pemberian mario. buku ber-cover hijau lumut dengan judul "Wayan si Pemahat" karya Riitta Thezar.

cukup dengan kaos longgar dan celana pendek, mini santai berkelung di atas kasur empuknya, dan larut hanyut sampai dini hari.

"ini buku favoritku, mini... tak perlu dikembalikan, ini milikmu," mulut mini terbuka, surprise. terbata mini bertanya, "kenapa harus aku yang kini jadi pemiliknya?," mata mini memancar tanya yang kentara. di bawah remang cahaya lampu yang temaram, wajah mini yang penasaran makin nyata terbaca.

"buku ini salah satu yang menginspirasiku. aku sudah terlalu panjang lebar membuatmu mau mendengar cerita-ceritaku, dan ini adalah perwakilan maaf itu" mario tersenyum. tulus.

"aku senang jadi pendengar. radiomu juga ngga rusak, masih jernih untuk didengar telingaku," mini coba mencairkan suasana kaku itu.

"sebenarnya alasan apa yang membuatmu ingin jadi pemahat?" tanya mini suatu waktu. kericuhan bunyi dentuman house music di sudut ruang kafe itu tak mendistorsi fokus mereka untuk saling mengenal.

jika pria lemah ingin merubah dirinya menjadi kuat, jadilah pemahat. seperti sebuah lelucon, tapi suatu saat itu adalah sebuah kebenaran. "menempa kayu dan batu terus menerus membuat lemahku terusik," mario membuka cerita.

bertahun-tahun mario dicibir, karena dianggap remeh, minor. dan setelah perjalanan panjang melelahkan itu, ia menemukan takdirnya. sebagai pemahat. memampukannya menjadi makhluk yang lebih kuat dari batu, lebih kuat dari hatinya yang lemah lembut sekalipun.

tak ada yang bisa menghalangi hati mini untuk bersuara. serupa kagum.

mario hanya akan sebentar saja di Jakarta, karena beberapa urusan yang mengharuskannya kembali ke galerinya di Bali. "jaga leo untukku," pesan yang membuat mini tercekat. seperti dihimpit di antara dua sisi. mario dan leo.

mini tersenyum. "aku baru mengenal leo sebentar, mario. ada ia dan dunia yang pasti bisa menjaga dirinya dengan baik." mini lalu mendekat ke telinga mario setengah berbisik. "ssst, lagipula kami beda kasta. kita bukan teman yang saling akur."  tawa mereka lantas meledak, ditingkahi ketidakyakinan mini atas perasaannya pada leo yang absurd.

"aku yakin kalian partner sejati. di segala hal" bukan tanpa alasan mario mengatakan itu. ada sebuah rahasia yang dijaganya begitu rapi. agar mini tak mengetahui dan siap mencari takdirnya sendiri.

...

"sejak kapan kamu suka menelusup jadi silent reader, leo?" tergeragap leo, tak disadarinya ada mario di balik punggung ikut-ikutan menatap layar monitor.

ada dunia kecil milik mini di sana yang bisa sepuasnya dibaca. leo perlu berterimakasih pada blog, karena ia tak perlu mengendap-ngendap demi mencuri buku harian mini. puas leo menelanjangi mini lewat tulisan-tulisan di "rumah pribadinya".

"apa pula ini, kupikir dia membicarakan laki-laki simpanan yang suka jadi pendengarnya. eh, coba lihat ternyata ujung-ujungnya dia bicara earphone," leo geleng-geleng. ia baru saja menemukan dunia absurd milik mini. saking absurdnya jadi terlihat sederhana untuk dipahami.

"kenapa pula kamu harus beradu debat dengannya, jika sebenarnya kalian tahu bisa saling mengisi?," ucapan mario seperti sebuah sindiran. tapi ini terasa manis. pengingatan pada diri. "sejauh apapun aku ingin berlari dari mini. sosok itu selalu sanggup mencuri hati. argggh!" leo merutuk.

"hahaha, aku senang membuatnya terengah-engah, karena kehilangan kata-kata, mario," leo berkelit. namun, satu hal yang selalu diinginkan leo setelah debat itu adalah memeluknya. "it's ok, mini. segilanya aku, sekerasnya aku, dan seanehnya kamu, kita akan baik-baik saja." dan leo pintar meredam suara hatinya agar siapapun tak mendengarnya.

"jangan terlalu sering bermain dengan ranjau yang kamu ciptakan sendiri, leo. dia bisa mewujud cintamu yang terpendam, kekasih yang tak bisa kamu miliki, musuh yang tak pernah bisa diampuni," santo mario berpetuah.

dan sebelum akhirnya berlalu, mario kembali menyindir leo dengan sangat manisnya, sekali lagi. "membaca dunianya pun adalah rasa haus yang tak pernah usai buatmu," mario tersenyum. meninggalkan leo yang terpaku. "ya, aku rela terhisap ke dunia mini. oase yang membuat hausku tak pernah usai"

Monday, October 15, 2012

memburu cemburu

tak sulit bagi mini yang aneh, dan tak populer menjadi pusat bagi dunia yang mengitari leo. mini bisa begitu mudah disukai, diminati dan dibicarakan diam-diam oleh mereka yang menyebut dirinya "pujaan".

ajak mini bicara seni, sculpture dan filsafat modern yang sanggup membuatnya tersadar sampai pagi, dan pulang kenyang. entah belajar dari mana, mini tahu bagaimana mengemas sebuah tamparan dan sindiran halus, terlihat begitu manis meski sadis, sarkastis

"tertundanya skripsimu salah satunya juga menyelamatkan bumi dari pemanasan global, roy. tolok ukurnya jelas bukan niat yang selalu tertunda, tapi berapa banyak kertas dari bahan kayu yang terbuang percuma karena setelah tanda titik kamu lupa mau mengetik apa lagi," roy yang disindir malah terkekeh.

"aku rela jadi kacung intelektualmu, selama debat kita soal global warming itu berakhir di ranjangku," meledaklah mini dalam tawa yang berderai-derai. dan roy takjub sendiri dengan pemandangan tawa yang terlepas itu.

seperti ada dua jiwa yang terjebak dalam raganya. kalem berpadu liar. dan tinggal menekan tombol "option", mini mampu menjangkau dunia siapapun. 

mini terlalu asik bertemu banyak rupa, menjajal kemampuan mereka yang hanya sanggup bertahan dengan daya pejal, memampukan sebisa mungkin berkhayal tentang mini. dan mini memilih jadi abdi, melayani mereka dengan senang hati.

dan ibarat segelas susu, empat sehat jadi sempurna, adalah sebuah alasan jelas kenapa selera makan mini semakin menggila akhir-akhir ini. segelas susu itulah mewujud serupa mario. pemahat. kawan akrab leo. pria bali berdarah itali.

inilah kenapa mini menyukai geometri. memandang mario seperti melihat susunan wajah dengan tata letak geometrik yang apik. wajah kotak ditopang rahang  tegas. mata menyalak tajam, dinaungi alis mata hitam legam melengkung. bibirnya penuh. minta dilumat.

leo sudah tahu ini akan terjadi. sejak perkenalan mereka beberapa minggu lalu, keduanya mulai intens saling mencuri perhatian.

"kamu tahu, mario bukan orang yang suka bicara tentang hidupnya, tapi dia mau membagi borok dan kurap hidupnya ke kamu. itu aneh," leo coba mengoreksi sikap mini, tanpa ingin terlihat bahwa sebenarnya ia tengah diserang cemburu.

mini menutup buku, mencodongkan tubuhnya mendekat ke wajah leo. tersenyum. "hm, manis," leo menelan ludah. leo mengingatkan mini pada sosok Neferiti. mata berwarna abu-abu kecoklatan. leher jenjang. sementara gerai rambut coklat itu jatuh sedikit menutup wajah manisnya.

mini menyibak rambutnya. yang terlihat hanya putih dan bersih. tulang pipi mini tergolong bagus untuk tipikal wajah perempuan asia. matanya mengerjap-ngerjap, bersemangat.

jika digambarkan dalam adegan slow motion, leo bakal minta adegan itu diputar ulang.

"aku menyukai belajar pada siapapun, leo. tak terkecuali pada mario, " itulah kenapa mini tak pernah merasa dirinya miskin, dikucilkan. mini siap melebarkan cuping telinganya, melebarkan matanya, membuka pikirannya. agar ia bisa menyerap semuanya dengan baik. "seharusnya kamu tahu, aku suka menyenangkan mereka."

ditatapnya wajah leo, tatapan mini seperti menyapu lembut pipi leo. lalu menyuarakan bisikan mantranya yang samar terbaca telinga, menelusup tanpa permisi ke bilik hati, "teruslah hidup dengan cemburu itu, agar aku tahu kamu menginginkanku, meski itu siksa bagimu, leo."

Saturday, October 13, 2012

cinta leo

jika hening adalah kesempatan kita untuk bercermin, suka atau tidak pada hasilnya, barangkali hal itupula yang sudah dilakukan leo. sejak ia menyadari dirinya dipuja.

leo mencintai dirinya, menjilati kulitnya sendiri bila mau, mengutuki dirinya yang sempurna. dia selalu punya energi untuk mencintai apapun yang berada dekat dengannya. "seberapa banyak kamu memiliki energi untuk memberi cinta pada mereka?," kesempatan mini bertanya adalah tiket masuk kamar leo dan menelanjanginya.

"aku suka membuat mereka senang, sudah seharusnya kan?," enteng leo menjawab, semudah dia mencari dan lalu melepaskan diri dari pengikutnya. cinta sebagai ajang latihan menyelami hati dan proses mengalami, justru tak pernah ada di kamus leo.

leo si pengikut dewa Hermes. sang pengelana. cinta baginya adalah memberi, tanpa berharap menerima. laksana hujan, ikhlas melepas tetesnya ke bumi. dan membiarkan cintanya terserap habis ke dalam tanah. menjadi pembelajaran berharga bagi siapapun yang pernah mengenal seorang leo.

lebah-lebah betina dalam wujud tubuh langsing, dan kaki jenjang yang dielu-elukan sebagai ratu pun tunduk pada pesona leo. mereka mengitari leo, berharap dihisap habis mata tajam leo, sementara leo hanya berdiri santai, seakan tak peduli. mereka lalu boleh menggerutu, mendendam atau lega dan ikhlas melepas kepergian leo kembali mencari mangsa. setidaknya dia sudah menjalankan tugasnya. memberi tempat bersenang-senang.

sebenarnya leo hanya mencoba untuk tetap terlihat tenang, meski jauh di ruang hatinya ada suara yang merutuki, "kamu memang pandai menutupi diri, leo. berbuat seolah semuanya baik-baik saja," kata hati itu kuat menggedor ruang hatinya, minta dilepaskan. pertanyaan mini seperti sebuah prolog, akan ada pertanyaan yang lebih dahsyat, yang efeknya bakal bikin leo pusing.

"only love" milik Kula Shaker, mengalun lembut, mengisi kekosongan udara di kamar mini. kamar yang serupa dirinya, mini, namun menyejukkan. "apa yang sedang dicarinya, jika ia sudah merasa puas memberi cinta?" mini menatap langit-langit kamarnya, mencari bayangan leo di situ.

"arrrgh, kenapa jadi aku yang repot, sih?" mini menutup wajah dengan bantal.

dan pertanyaan itu rupanya tertinggal di kepala hingga mini tertidur. masuk tanpa permisi ke dalam mimpinya. dan kini yang terlihat samar di mimpi nirwananya, leo tengah telanjang. berdiri menghampirinya dan melesakkan ciuman ke bibirnya. kenyal, basah dan terasa manis.

mini sudah lebih dulu ditelanjangi, dalam mimpinya. sementara, dalam tidur leo di ujung sana, ia tersenyum menang.

Friday, October 12, 2012

penyihir mini

mini itu kecil, mini itu simpel. dia tak pernah membuat hidupnya rumit, sampai akhirnya ia bertemu leo.

"untuk orang sesimpel aku berhubungan dengan orang serumit dia, itu sama saja cari masalah," mini menganggap masalah tak perlu dicari karena akan datang sendiri, dan ia sama sekali tak berminat mencari masalah dengan menghadirkan leo di hidupnya.

sampai akhirnya, hari itu datang, kali pertamanya leo menyapanya. mereka satu kelas tapi tak pernah bicara. "aku sama dia itu beda kasta, beda selera," jelas mini tenang. tenang yang selalu memancing iri kawan perempuannya dan meyisakan rasa penasaran sekumpulan lelaki yang memandangnya aneh. termasuk leo.

"hai, mini...," sapa pertama leo diiringi senyum. senyum yang sudah dilatihnya setulus mungkin. demi satu tujuan, pamer pada mini.

bagi seorang populer seperti leo, kata "hai" memang terlalu bagus untuk dibagi, apalagi sebuah senyum. leo sadar, dirinya dipuja dan dikagumi. selayaknya raja. harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta. dan memasang pembatas setinggi mungkin di sekelilingnya itu adalah mau leo.

"aku hanya perlu meletakkan ranjau itu tepat di hatinya, menarik pemicunya, lalu pergi" leo jumawa. ia tengah berjudi, menggadaikan perasaannya, hanya untuk mendapatkan simpati mini. leo tak sadar, sebetulnya dia sendiri yang akan meledak. termakan senjatanya sendiri.

"tumben?" belum apa-apa mini sudah siap menutup pintu. mini paling pintar memunculkan wajah manis bin sadis kalau sudah malas ketemu musuh. mini yang tak pernah punya masalah dengan siapapun, dan ia menganggap satu-satunya musuh hanyalah leo.

memori gigantisnya masih terselip sedikit memori usang, yang ingin dilupakan mini, tapi tak juga bisa. tentang sosok populer yang bagi mini selamanya menyebalkan.

"ada waktu?...boleh bicara?," leo merutuki diri. dia cukup bisa pasang basa-basi busuk di depan pemujanya yang berderet menunggu untuk digombali, tapi berhadapan dengan makhluk kecil yang satu ini, leo mati kutu.

"aku lagi sibuk hari ini, nanti aku kabari lagi," jawab mini tanpa perlu pakai lama. "damn!, untuk seorang populer macam dia aku bisa sebegitu ga butuhnya? pertahankan mini!"

mini dikenal macam siluman. datang dan pergi sesuka hati. menyukai hidup di dunianya sendiri. berteman khayal dan imaji yang bertahan bosan di kepalanya. sesekali kalau sedang niat, mini bisa menghabiskan hari-harinya hanya untuk menulis. tentang siapapun, apapun yang bersisian dengan lingkungan hidupnya. bahkan yang berlawanan dengan dirinya sekalipun. termasuk dia. dia yang tak perlu disebutkan namanya, kata kunci mini untuk sosok itu.

baginya, menulis seperti pembebasan, ada perasaan pasrah, setidaknya suara hatinya perlu diberi ruang untuk berteriak. mini mencoba tidak menipu diri dan hidupnya yang sudah terlalu sering dimanipulasi. termasuk mengingkari perasaannya yang satu ini, "semakin aku ingin menipu diriku, ini malah jadi siksa berat."

hingga pada momen singkat itu, terbacalah semua yang tersembunyi. hati tak akan pernah bisa lari saat akan dikebiri.

mata leo tak juga mau lepas, mengamati segala yang melekat pada dia yang kini duduk di hadapannya. si manusia dari negeri antah berantah, yang tak pernah tercantum dalam daftar tamunya. gerak dan lakunya gemulai, nyaris seperti menari. bayangannya mengumpul di pelupuk mata, hingga yang lain tak kebagian untuk dilihat. mini, seperti namanya, kecil dan tak ingin terlihat. tapi semangat dan kemandiriannya begitu kentara terlihat.

mini bisa bicara panjang kali lebar. bahkan kalau bisa dijabarkan dalam bentuk jawaban di atas kertas. mini sudah punya dua halaman sendiri untuk pertanyaan singkat leo yang tak begitu penting sebenarnya untuk dijawab.

dari satu pembicaraan, mini bisa lari ke bahasan lain, tanpa siapapun menyadarinya. ia bisa menjelaskan apapun dengan cara yang indah. mini sudah mirip penyihir, benda mati apapun pasti bisa jadi hidup, karena dia sanggup menghidupkannya. cukup dengan mantra kata-kata.

leo hanya pasrah dibuat terperangah, terengah-engah karena laju langkah mini gesit, macam ngengat. dan waktu menjadi seakan melambat baginya. "belum saatnya memasang jerat, aku sedang menikmatinya dari dekat," batin leo