Showing posts with label film. Show all posts
Showing posts with label film. Show all posts

Friday, May 18, 2012

Across The Universe, Hanya Cinta yang Mampu Menyembuhkan

Akhirnya rasa penasaran saya terjawab sudah. Across The Universe hadir di tengah ruang keluarga, tak hanya sekedar menyuguhkan drama musikal dibalut roman percintaan, bergenre remaja yang tengah mencinta. Namun, terlihat klasik manakala disandingkan dengan sejumlah lagu-lagu The Beatles yang menguatkan jalan ceritanya.

Film ini seperti sebuah ajang reuni para Beatles Lovers dengan lagu-lagu The Beatles. Setidaknya 30-an lagu The Beatles berputar dari awal hingga pungkasan film. Lalu, apakah hanya sebuah kebetulan, seting film dibuat sekitar tahun 1960-an? kala itu perang Vietnam memang tengah berkecamuk. Tepat, saat itulah grup musik The Beatles terlahir, lalu tumbuh, besar, dan melegenda hingga sekarang.

Jude diperani Jim Sturgess, di awal film berputar, diceritakan tengah mencari ayahnya yang dianggap tak bertanggungjawab, meninggalkan ia dan ibunya yang papa, di pinggiran kota Liverpool. Jude lantas nekat meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke Amerika, menjadi imigran gelap. Demi satu kata, meminta pengakuan ayahnya. Di Amerika, Jude berkenalan dengan Max (Joe Anderson). Pengisap ganja, penyuka kebebasan, yang merasa hidupnya tak berguna sementara ia tak pernah ditanya tentang perasaannya, karena ayahnya lebih suka menuntut.

Bertahan hidup di Amerika yang bebas, Jude dan Max pun berbagi apartemen dengan Sadie (Dana Fuchs), seorang hippies dan kekasihnya Jo-Jo (Martin Luther) yang memiliki grup band. Selain itu, disana tinggal pula Prudence yang melarikan diri dari rumahnya dan berkelana karena merasa kesepian, tak berguna dan jomblo.

Sementara, Jude yang semakin dekat dengan Max, semakin menaruh hati pada Lucy (Evan Rachel Wood), yang tak lain adik Max. Sampai disini, kisah cinta yang disuguhkan masih terasa biasa. Gadis muda, ceria, kaya, tertambat pada cinta seorang seniman yang tampan menawan. Namun, tak sekedar bicara cinta, mereka juga dihadapkan pada pencarian makna dan tujuan hidup mereka, menjadikan kisah cinta yang disuguhkan dalam film ini terasa lebih kuat. Bahwa, kita bisa memaknai, apapun gesekan yang memperparah sebuah hubungan hanya bisa disembuhkan oleh kehadiran cinta. Ya, All you need is love, seperti kata Beatles.

Bolehlah saya menjura untuk sang penulis skenario, Julie Taymor, Dick Clement dan Ian La Frenais yang "menggodok" skenario dengan sangat baik. Menghadirkan nama tokoh Jude, Lucy dan juga figuran Prudence yang memiliki kesesuaian dengan judul lagu-lagu The Beatles. Sebuah kesengajaan yang pintar, kalau saya bilang.

Scene by scene itu runut hadir di sepanjang film berputar, misalnya saat Max menyemangati kawan dekatnya dari jauh dan lalu menyanyikan "Hey Jude". Sementara, "Dear Prudence", melantun indah, saat Prudence dibujuk kawan-kawannya karena mengurung diri di kamar. Pun, saya menyukai adegan Jude menyanyikan "Something", saat ia tengah menikmati wajah kekasihnya, Lucy, yang tertidur dan melukisnya di selembar kanvas. Dan "Lucy In The Sky with Diamonds" akhirnya menjadi penutup yang menggemaskan.

Across The Universe yang dibesut di tahun 2007 tersebut dihadirkan dengan gambar-gambar yang disajikan sangat imajinatif, dan bagi kamu yang tidak menyukai dunia khayalan, hal ini mungkin membosankan. Simbol-simbol bertebaran sebagai perwakilan dari ide-ide yang ingin disampaikan sang sutradara, Julie Taymor. Visualisasi proses wajib militer yang keren sangat, misalnya.

Pun, Julie Taymor menggambarkan dengan begitu apik, situasi berdarah, dan karut marut di medan peperangan melalui sepotong strawberry merah, yang segar dan begitu menggoda. Semakin asik dinikmati lewat lantunan vokal Jude yang menyanyikan "Strawberry Fields Forever". Jim Sturgess dan Evan Rachel Wood pun boleh pede bernyanyi berkat tangan dingin Elliot Goldenthal, yang mengaransemen ulang lagu-lagu The Beatles sehingga semakin enak dinikmati. Sementara, tak kalah juga penampilan dari Joe Anderson, Martin Luther dan TV Carpio yang mengesankan.

Hmm, sejatinya memang inilah film yang didekasikan bagi para The Beatles Lover di sepanjang alam semesta (Across The Universe)


Monday, December 12, 2011

The Reader, Menjaga Setia Sebuah Rahasia

Sebuah repost

Sebuah rahasia hidup. Berkisah tentang seorang remaja puber usia lima belasan bernama Michael Berg yang jatuh cinta pada Hanna Schmitz, seorang wanita paruh baya nan menawan.

Hanna dan Michael mungkin saja ditakdirkan Tuhan untuk saling melengkapi dan lalu pada hati keduanya diletakkan sebentuk cinta untuk dirasai bersama. Saat Michael meranum, gairah masa mudanya tersalurkan pada Hanna. Hubungan intim lantas menjadi keseharian mereka. Begitu juga Hanna, hidup sendiri tanpa keluarga, lantas menganggap hubungan yang tercipta bersama Michael selayaknya ibu dengan putra remajanya.

Michael tumbuh sebagai pemuda pintar yang menjaga dengan setia rahasia hatinya yang kasmaran pada Hanna. Sedang Hanna, menua dengan pribadinya yang penuh misteri, tak pernah suka membaca dan lebih ingin mendengarkan saja.

Ya, bagi Hanna, Michael adalah 'the reader'nya. Dari Michael-lah, Hanna lalu mendengar banyak kisah, tentang 'The Odyssey', 'The Lady with the Little Dog', 'Adventures of Huckleberry Finn' hingga 'Tintin'. Tak ingin membuat Michael kecewa, sebagai hadiah karena telah membacakan untuknya, Hanna memberi Michael tubuh untuk direngkuh dan dibelai.

Mereka bersisian, namun pada keduanya rahasia tentang satu sama lain tak pernah terungkap. Dan pada`rahasia yang tersimpan kuat itulah kemudian bermuara konflik yang berkepanjangan. Hanna terpaksa pergi dari sisi Michael tanpa sempat mengucapkan salam perpisahan. Sedang dengan kelukaannya, Michael tetap tegar, terus menjalani hidup dan sukses menjadi seorang pengacara muda.

Dibalik segala misteri dan rahasia, Tuhan telah menyelipkan sebuah rencana. Bisa jadi indah atau mungkin buruk untuk dihadapi. Tapi itulah hidup, seberat apapun memang harus dijalani. Ya, pada sidang yang mengadili mantan anggota Nazi yang dituduh bertanggung jawab atas tewasnya 300 kaum Yahudi, disanalah Michael bertemu Hanna. Hanna yang ternyata menjadi salah satu terdakwanya.

Andaikan keduanya mau menyingkirkan ego masing-masing, jalan hidup mereka tentu tak akan jadi begitu rumit. Andaikan keduanya mau membuka sedikit rahasia yang tersimpan kuat dalam diri mereka, tentu Hanna tak akan dihukum seumur hidup. Ya, Hanna yang tetap setia menjaga rahasia hidupnya, terpaksa mengakui bahwa dia yang menuliskan perintah membunuh. Pun Michael tak akan hidup dalam penyesalan berkesudahan karena tak kuasa membantu Hanna menjadi saksi, padahal sesungguhnya hanya Michael yang tahu rahasia Hanna, yang tak bisa membaca apalagi menulis.

Terlihat konyol? Memang. Apa mau dikata mereka ingin tetap hidup dalam rahasia-rahasia itu. Tapi meski tak terkuak, dua manusia ini lalu belajar satu sama lain pada rahasia, untuk sama-sama menyembuhkan luka dan kecewa. Meski berat dan pahit.

Tebusan rasa bersalah Michael adalah mengajari Hanna, meski dari jauh, untuk bisa membaca dan menulis. Buku, kaset dan tape recorder yang dikirim Michael menjadi sarana Hanna belajar di dalam penjara. Semangat kuat yang masih dipunyai seorang Hanna, meski ternyata menjadi sia-sia karena Hanna memilih bunuh diri sebelum hari kebebasannya. Sedang Michael berjuang membantu meluluskan pinta Hanna pada wasiat terakhirnya, mendirikan sebuah yayasan buta huruf. Ada lega yang terpancar karena rahasia itu telah terkuak dan melebur bersama waktu.
How far would you go to protect a secret? Rahasia tetaplah rahasia, tapi seberapapun kuat kita menyimpannya rahasia tak akan pernah jadi abadi. Dan sebuah cerita rahasia akhirnya akan berurai menjadi sejarah hidup yang panjang untuk diceritakan.
Saya, Hanna dan Michael dan semua orang di belahan dunia manapun memiliki rahasia. Apakah pada rahasia itu saya atau kalian dan mereka akan belajar? itu semua tergantung masing-masing kita, tetap mau hidup dalam rahasia-rahasia itu, atau memilih membongkar rahasia, meski kecil, demi hati menjadi lega.


Salam

Doubt, Sebuah Ragu yang Menyerang

Sebuah repost

Ingin dan harap pada sebuah keraguan yang bergulir di depan mata adalah terkuaknya sebuah kebenaran. Sedang benar atau salah, dosa atau tidak hanya Tuhan yang mengetahuinya. Lalu bagaimana manusia menyikapi sikap ragu *skeptis* ini, sedang dengan sebentuk analisa dan penelitian yang mengandalkan rasio pun bisa juga memunculkan salah.

Dikisahkan, Pastor Brendan Flynn dengan keberaniannya ingin mendobrak tradisi yang mengekang kuat di dalam gereja St.Nicholas. Keputusannya menerima Donald, seorang anak lelaki kulit hitam menjadi murid di sana dan mengangkatnya sebagai putra altar tentu saja menimbulkan ketidaksenangan di diri Suster Aloysius, sang suster kepala gereja.

Rasa tak senang pada seseorang memang selalu bisa memunculkan sikap curiga dan penolakan. Suster Aloysius sangat yakin bahwa ada sesuatu yang terjadi antara pastor Flynn dan Donald. Apalagi kecurigaan ini makin diperkuat dengan khotbah bertema keraguan yang pernah disampaikan Pastor Flynn. Bahwa sebuah sikap ragu punya kekuatan menyatukan sama kuatnya dengan sebuah sikap yakin.

Penolakan makin gencar dilakukan suster Aloysius dengan memberi perintah kepada suster James, wali murid Donald, untuk mengawasi gerak-gerik sang pastor. Makin kuatlah analisa suster Aloysius selama ini, mendapati cerita suster James yang memergoki sang pastor meletakkan kemeja putih secara diam-diam ke dalam loker Donald. Masih ditambah pula penuturan suster James di lain hari, yang mencium bau alkohol menyengat dari mulut Donald setelah menghadap pastor Flynn.

Keduanya lalu mencipta prasangka atas kejadian yang dilihat sekejap mata. Prasangka buruk lebih dominan muncul, itu jelas. Tersimpulkan keduanya, bahwa pastor Flynn telah melakukan tindakan yang tak senonoh pada Donald. Ragam cara dilakukan suster Aloysius demi menguak ketidakberesan hubungan antara Pastor Flynn dan Donald. Debat kuat digulirkan, dan saling mempertahankan ideologinya masing-masing. Sedang suster James berada dalam kebimbangan.

Tepat disini suster James dihadirkan sebagai perwakilan sisi diri penonton yang juga ragu dan bingung, termasuk saya, siapakah yang seharusnya dibela. Suster Aloysius atau Pastor Flynn?

Demi sebuah pembenaran, Aloysius telah menebar fitnah dan berhasil menyingkirkan sikap ragunya. Teringat betul di ingatan saya, penggalan kalimat yang terucap dari bibir suster Aloysius,

"Selangkah keluar dari jalan Tuhan, untuk sebuah kebenaran". Wow!

Cukup hanya berbekal dugaan saja dari cerita sejarah masa lalu sang pastor, suster Aloysius akhirnya berhasil mendepak Pastor Flynn keluar dari gereja. Betapa hebatnya suster Aloysius. Tak ragu menilai dan memutuskan atas apa yang dia lihat, dan rasakan, karena itulah kekuatannya untuk mencari kebenaran.

Lalu, pada kita, bisakah kita melakukannya? menyingkirkan sikap ragu demi mendapatkan sebuah kata benar?

Sedang Descartes pun menemukan banyak kesalahan yang telah pernah diperbuatnya selama melakukan penelitian. Sempatlah dia kehilangan kepercayaan dan keyakinan, ada keraguan yang terselip dalam pikirnya hingga lalu tak tersisa sedikitpun lagi keyakinan di dalam dirinya.

dan dalam ragu serta bimbangnya, dia tersentak dan berkata,
"Sekalipun saya ragu terhadap semua yang telah saya dapat selama ini, sekalipun saya ragu terhadap segala sesuatu yang ada di depan mata saya, namun satu hal yang TIDAK SAYA RAGUKAN adalah, bahwa saya TIDAK RAGU kalau saya sedang ragu"
Ya, seperti Descartes, Aloysius pun tak ragu ketika keraguan tengah menyerangnya. Keraguan Aloysius terlambat hadir justru setelah pilihan dijatuhkan, apakah itu benar atau salah, entahlah!. Itulah buah resiko dari pengadilan buta Aloysius atas kontroversi moral di masa itu.


***

Two thumbs up! dan menjura untuk John Patrick Shanley yang berhasil membawa pulang Pulitzer Award dan Tony Award dalam genggaman tangannya. Berhasil dirinya sebagai penulis menggulirkan kisah yang tertuang dalam novelnya berjudul "Doubt: A Parable" dan lalu sebagai sutradara, ia menuangkan kisah novelnya itu ke dalam media film berjudul hampir sama, "Doubt".

Hebatlah kerja semua tim yang bersatu di 'Doubt', tak hanya sutradara, bahkan empat pemain utama film ini pun berhasil mendapatkan nominasi Oscar. Meryl Streep dan Philip Seymour Hoffman sangat kuat dan berhasil masuk ke dalam karakter mereka masing-masing. Sedang Amy Adams tampil gemilang menghidupkan sosok Suster James yang muda, polos, mudah bimbang dan lalu cepat percaya pada orang lain. Lain lagi dengan Viola Davis, meski hanya diberi satu adegan dialog saja, namun ia mampu menyeimbangkan kemampuan aktingnya di hadapan Meryl Streep.

Jujur, saya tak begitu suka cerita film dengan ending yang sudah bisa tertebak, happy atau sad? itu sudah biasa. Memunculkan pertanyaan yang menggantung di akhir cerita, justru membuat diri belajar menarik kesimpulan dari sebuah cerita yang disuguhkan. Kesimpulan apapun itu, sah-sah saja.

Senanglah saya diombang-ambingkan dalam keraguan (doubt), dan mencari tahu sendiri apakah Pastur Flynn yang wibawa dan bermulut manis itu tidak salah atau suster Aloysius yang memang sangat diktator itulah yang sejatinya benar. Suguhan beragam pertanyaan inilah yang membuat sebuah film, semacam Doubt, terasa begitu menarik untuk dibahas. Tak hanya asik saat ditonton tapi juga seru saat digulirkan ke dalam sebuah forum diskusi.


Salam


Saturday, December 10, 2011

Burn After Reading, Kerumitan yang Menggelikan

Sebuah repost

Inilah film yang berhasil membuat saya memikirkan ending ceritanya yang terus tinggal di kepala selama beberapa hari. Gila! saya menjura untuk sang penulis cerita, dua bersaudara Joel dan Ethan Coen. Mereka mampu menyajikan cerita dengan plot yang berputar-putar bak sebuah bola bilyar yang menggelinding di antara karakter-karakter yang amusingly complicated.

Kisah dibuka dengan pengunduran diri sepihak Osborne Cox (John Malkovich). Atasan Ozzie di CIA menilai Ozzie memiliki kinerja yang buruk karena sering mabuk. Ozzie dipindah ke unit lain, namun Ozzie yang bertemperamen tinggi menolak. Tak terima didepak paksa, Ozzie pun berniat balas dendam. Keinginannnya sudah bulat untuk keluar saja dari CIA dan menjadi penulis. Disinilah kisah ini bergulir cepat, mata dan otak pun harus dipaksa terus fokus. Ketinggalan satu scene, akan kesulitan mencari 'clue'nya.

Katie (Tilda Swinton), istri Ozzie yang seorang dokter protes suaminya keluar dari CIA. Namun Ozzie yang jobless, tak lagi berguna sebagai seorang suami justru makin menguatkan alasan Katie untuk bercerai darinya. Lagipula selama ini Katie telah menjalin perselingkuhan dengan Harry Pffarer (George Clooney). Seorang flamboyan beristri penulis yang mengaku bekerja di departemen luar negeri, si tukang selingkuh yang gemar mengencani banyak wanita yang dijaringnya di jejagad maya.

Katie dan Harry berkonspirasi, mereka berminat menjual 'informasi' rahasia CIA yang ditulis Ozzie. Data itu dicuri Katie dan disimpan dalam sekeping CD. Konyol yang lalu terjadi, CD itu raib di pusat kebugaran dan ditemukan seorang instruktur fitness, Chad Geldheimer (Brad Pitt). Bersama dengan Linda Litzke (Frances McDormand), mereka berdua mencoba memeras Ozzie. Bukannya takut diperas, Ozzie yang temperamental malah menantang balik. Tak hilang akal, Chad dan Linda memilih menjual 'informasi' itu di kedutaan Rusia.

Alasan Linda bergabung dengan Chad untuk memeras Ozzie bukanlah tanpa sebab, dirinya terobsesi operasi plastik dan butuh dana besar. Plot bergulir makin hebat dan rumit. Linda, si perawan tua yang desperate ini ternyata juga menjalin hubungan dengan Harry.

McDormand dan Malkovich memang sudah terbiasa dengan peran-peran aneh, namun jangan heran melihat akting Pitt yang selalu dekat dengan peran serius, justru terlihat sama anehnya dengan mereka, konyol dan sok tau. Perannya ternyata sangat penting, meski hanya muncul di beberapa scene. Hilangnya Chad justru memunculkan badai yang berputar di satu setengah jam film digulirkan, dialah biang atas 'chaos' yang terjadi. It goes around and around and comes out here, there, everywhere. All nicely put together, of course.

Inilah komedi gelap, tanpa adgean slapstick a la Charlie Chaplin. Kekuatan film ini justru terletak pada akting para pemainnya dan dialog-dialog yang terjadi di sepanjang film berputar. Tak perlu mencari tahu siapa yang salah, karena semua yang terlibat di dalamnya punya andil berbuat salah. Kita hanya perlu menonton dan menertawai kebodohan para tokohnya saja. Karena sangat konyol, sebuah CD yang isinya sama sekali tak penting punya kekuatan untuk meledakkan siapapun yang berurusan dengannya.

Inilah hebatnya Coen brothers, duo master film independen yang jenius dan gemar menerabas batas-batas ini masih sangat setia menggarap film ber-genre screwball comedy. Sekedar informasi, karya mereka sebelumnya "No Country for Old Man" berhasil menyabet kemenangan besar di ajang Oscar tahun 1998.


Salam

Duplicity, Penipu yang Tertipu

Sebuah repost

Film-film full twist yang cerdas adalah kesukaan saya dan Duplicity mampu menyuguhkan itu. Di sepanjang film berputar, saya dihadapkan pada banyak intrik dan konspirasi indah penipuan kelas tinggi berbalut drama asrama antara dua penipu yang terlibat di dalamnya.

Claire dan Ray bertemu pertama kali di sebuah pesta. Ray yang saat itu bergabung sebagai agen M16 berhasil mengajak Claire, sang agen CIA 'get laid', ini semua demi mendapatkan informasi tentang kasus yang sama-sama mereka tangani. Namun, bukan Claire namanya jika ia tak bisa mengelabui Ray terlebih dulu. Claire membius Ray dan berhasil mengambil semua hasil penyelidikan Ray.

Lima tahun kemudian..

Takdir mempertemukan mereka kembali di New York. Keduanya tak lagi bekerja sebagai agen pemerintah namun tergabung dalam tim sebuah grup pencari informasi (counter-intelligence). Ray bergabung di Equikrom dan Claire sebagai informan di Burkett & Randle.

Dua perusahaan kelas kakap ini selalu terlibat persaingan yang intens untuk menjadi yang terbaik. Howard dan Garsik selaku owner saling sikut dan berusaha mencari tahu kelemahan satu sama lain. Sedikit menghibur di opening-nya, Tom Wilkinson dan Paul Giamatti yang sukses memerani dua owner perusahaan bergengsi ini saling adu jotos dalam gerak slow motion.

Sebagai agen Equikrom, Ray ditugaskan menelusup diam-diam ke dalam perusahaan Burkett & Randle. Claire tak lengah, ia tahu dirinya sedang diawasi. Iapun mencurigai dan terus memata-matai aksi Ray yang hendak mencuri formula produk yang bakal diluncurkan Burkett & Randle.

Ray tak hilang akal, ia berhasil melempar jurus terjitu dan membuat Claire 'mabuk'. Bisa ditebak, sekali lagi, reuni dua penipu ulung itupun berakhir di atas empuknya kasur, dalam kedekatan raga penuh peluh membasuh tubuh mereka. Lalu benarkah Ray dan Claire terjebak pusaran badai cinta? Tak bisa ditolak, mereka terjebak dan terperangkap dalam getar-getar rasa yang hadir di hati mereka, ada cinta yang sekuat mungkin coba ditepis keduanya.

Ahh..cinta memang aneh, dia punya kuasa memutarbalikkan apapun juga. Hmm, nice!. Inilah serunya 'Duplicity', dikemas tak kacangan. Tak hanya intrik dan tipu menipu di level jenius tapi ada cinta dan cemburu yang juga dihadirkan di sini. Claire dan Ray yang semula beranggapan mereka seperti musuh dalam selimut pun akhirnya memilih bekerjasama. Demi meraup keuntungan besar, mereka membelot dari tim. Mengincar juga formula produk yang diingini Howard dan Garsik.

Sampai pada puncak cerita, saya dihadapkan pada siapa yang harus dipercaya dan siapa yang bukan. Sempatlah saya berpikir Ray mengkhianati Claire dan dia memilih menyimpan sendiri formula produk yang sudah dicurinya. Namun kenyataan yang lebih pahit terjadi. Dibalik konspirasi maha rumit itu ternyata ada lapis konspirasi lain yang terungkap. Ray dan Claire dijebak, inilah yang lalu tepat saya nilai, mereka penipu yang tertipu.

Jangan pernah kedipkan mata saat menyaksikan serunya 'Duplicity'. Anda mungkin saja melewatkan plot-plot penting yang bergulir. Maklum saja, Tony Gilroy cukup cerdas meramu cerita ini dan menghadirkan berbagai lapisan dan plot twist ke dalamnya. Tony bahkan menyisipkan sebuah pertanyaan untuk kita jawab: bisakah ada cinta dan sebentuk kepercayaan yang hadir dalam diri seorang penipu kelas kakap macam Claire dan Ray?

Kembali lagi, inilah reuni duo bintang besar, Clive Owen dan Julia Roberts. Tak akan sulit bagi keduanya membangun chemistry, karena mereka pernah melakukan itu di 'Closer'. Untungnya mereka berdua sangat lihai bermain watak. Sangat asik menikmati dialog yang menunjukkan ketertarikan mereka satu dengan yang lain, tetapi di kesempatan lain, ada ketakutan seorang penipu yang menghinggapi diri mereka, ketakutan jika ditipu.


Salam

Penikmat Film Biru Tak Cuma Pria


Sebuah repost

BERADA di dalam sarang penyamun bersama sekumpulan pria saat itu, membuat saya dihadapkan pada kondisi tak nyaman. Saya harus berbagi ruangan dengan pria-pria haus gairah. Dan dahaga di tengah siang yang dingin di dalam ruangan bersuhu 16 derajat itu mereka dapatkan pada sebuah tayangan sepasang anak manusia tengah telanjang.

Erangan menuju nikmat orgasme menyesaki telinga. Terlihat meski sekelebat, pria-pria yang saya akrabi dalam keseharian di tim kerja tengah duduk tak nyaman. Geser sebentar ke kanan lalu ke kiri, mengangkat pantat, mencari posisi yang pas. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, yang tiba-tiba menyesak, melesak membuat sesak celananya.

Begitulah yang terjadi pada Vanya, lajang, seorang pekerja ditengah dominasi pria di kantornya. Vanya tentu saja merasa tidak nyaman dengan kondisi yang tengah dihadapinya tersebut.

Mata memang menatap monitor, tapi otak saya rupanya sedang tidak ingin sinkron dengan mata. Konsentrasi pun terpecah. Penasaran menggelitik hati, apa yang tengah mereka nikmati itu?, ingin mengintip, tapi rasa malu saya menahannya. Tampilan visual nan sensual sepasang manusia tengah intim rupanya berhasil memicu gairah mereka meledak-ledak.

Seorang perempuan dari kaum saya telanjang dalam film itu dan lantas menjadi objek pembangun hasrat. Gambar-gambar erotis nan dramatis sukses dihadirkan ke dalam otak mereka sebagai perangsang yang membangkitkan simpul syaraf hingga organ vital mereka mendadak sulit dikendalikan.

Vanya lantas merasa kawan-kawan prianya yang sedang asik berada di surga dunia dalam fantasi mereka itu tengah pula menghadirkan dirinya sebagai objek visualisasi seks. "Saya jadi resah, takut, jika dengan tanpa permisi mereka sempat menghadirkan saya tengah telanjang dalam imaji mereka."

Seksolog Dr Elna McIntosh menguatkan ketakutan Vanya tersebut dengan pendapatnya, "Pria tahu tidak bisa memiliki wanita idamannya, tapi mereka masih bisa melihat dan berfantasi tentangnya."

Tak hanya Vanya yang lajang, ketidaknyamanan serupa juga tak pelak menjangkiti kaum hawa yang telah memiliki pasangan. Tika, salah satunya. Ia pernah mendapati suaminya tengah asyik menikmati panasnya film "biru".

"Awalnya saya shock berat karena dia menyembunyikan file-file film itu. Namun, setelah agak lama, saya sadar, itu hal normal. Teman saya yang alim saja juga hobi nonton film begituan (blue film, red)."

Lalu, benarkah kebanyakan pria seperti itu? Terlempar komentar dari Toga menanggapi kaumnya yang menyukai film-film 'panas'. "Ini sih kata orang, penglihatan kan memang unsur sangat penting dalam seksualitas pria ya. Sementara bagi perempuan, sensualitas adalah perkara memejamkan mata. Hahaha."

Wanita juga suka

Ya, gairah pria memang mudah terstimulasi lewat rangsangan visual, sedang wanita butuh rangsangan emosional atau mental. Sementara, dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh BBC Radio 1 Newsbeat disebutkan, dari 1.000 responden usia 18-24 tahun, setengah dari mereka justru merasa takut jika terlalu banyak mengonsumsi video porno.

Rupanya tak hanya wanita yang jengah dan merasa malu menonton film biru, para pria juga dihinggapi perasaan yang sama. Lantas, menonton film porno secara sembunyi-sembunyi pun dipilih mereka sebagai kenikmatan tersendiri. Sensasinya lebih terasa karena berhasil memancing adrenalin terpacu deras mengalir kedalam tubuh mereka.

Ketakutan para pria-pria itu bukan tanpa bukti. Vanya mengungkapkan, agar tidak tertangkap suka menonton film biru, kawan-kawan prianya aman menyimpan koleksi file-file film ber-genre seks itu di folder berlapis pada memori komputer mereka. Bahkan, ada juga yang berani menyisipkannya pada file-file penting perusahaan.

Sementara, sebagian pria lain lebih suka menikmati film biru dengan cara memperkecil jendela tampilan video. Agar suara erangan dan desahan di film panas tersebut tak terdengar ke seluruh penjuru ruangan, para pria pun lebih memilih mengenakan headphone. "Ini lebih aman, disamping menjauhkan rekan-rekan kerja dari polusi suara ah uh ah uh," ungkap Mahendra, IT specialist di sebuah perusahaan swasta.

Fakta lain yang tak kalah mengejutkan dari penelitian oleh BBC Radio 1 Newsbeat tersebut terungkap, seorang remaja pria bisa menghabiskan dua jam setiap pekannya untuk menonton video porno. Sementara, wanita cukup menghabiskan waktu 15 menit setiap pekan untuk menonton video porno.

Meski tidak terlalu menikmati menonton video porno, wanita ternyata lebih menyukai film 'panas' yang memiliki alur cerita. "Perempuan banyak juga yang cukup suka dan menikmati film dengan adults content. Tergantung kemasan sih menurut saya. Kalau dikemas apik sih memang bisa jadi menarik. Tapi kalau cuma repetisi visual keluar-masuk-keluar gitu doang ya boseeeeeen!!!," ungkap Sabai blak-blakan.

Pendapat lain diungkap Candrakirana, "Gue terus terang nggak suka yang pure blue film, kayak eksploitasi tanpa purpose gitu. Beda seperti film 9 songs atau lie with me, masih ada ceritanya tuh."

Tumbuh dari masa kanak-kanak

Sementara, diungkap oleh Health24, aspek lain dari ketertarikan sebagian pria terhadap pornografi itu tumbuh dari masa kanak-kanaknya. Pada masa itu, anak laki-laki biasanya dilarang melihat majalah dewasa oleh orangtua, guru, dan masyarakat di lingkungannya.

"Anak laki-laki yang tengah mencari jati diri biasanya senang menantang dirinya. Bahkan, mereka melihat gambar porno sebelum mereka tahu bahwa mereka punya Mr.P (senjata mereka dalam bercinta, red). Tapi, mereka cukup tahu bahwa mereka tidak seharusnya melihat-lihat gambar porno itu," ungkap McIntosh. Karena itu, di masa pencarian jati diri inilah kebanyakan anak laki-laki rentan mengonsumsi pornografi.

Sementara, pendapat Heather Wood dari Portman Clinic mengatakan jika orang-orang yang menghabiskan waktu menonton video porno sebenarnya tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Oleh karena itu, untuk membunuh sepi dan menuntaskan gairah yang tidak sempat dilampiaskan, mereka pun lantas mencari surga dunia pada sebuah film biru.

Salam

Tuesday, February 16, 2010

filmku, hidupku

Duduk manis di depan TV, memutar CD sewaan seharga Rp 3000 rupiah per keping film. Inilah hemat cara tepat menikmati hidup. Harap maklum, nonton di bioskop sudah lama keluar dari agenda rutin saya sejak menikah dan having the baby.

Dan menonton film tanpa cemilan terasa kurang mengigit. Setengah batang coklat 'keras' karena lama tersimpan beku di freezer atau cemilan apa saja di atas meja, asal bukan expired date, sikat saja!. Kaki boleh narsis dalam gaya apapun. Bersila, selonjor, duduk a la penikmat nasi rames di warteg, asal jangan ngangkang, yang itu lain soal.

Jika pria saya tak bersedia menemani menonton film, dengan alasan filmnya terlalu 'menye-menye', minus jeder-jeder dan tendangan maut a la Bruce Lee, maka bolehlah saya diperkenankan ditemani yang lain. Sebentuk guling kumal yang wanginya menenangkan, mengalahkan wangi aromaterapi, campuran keringat, bau shampoo dan parfum Benneton B-Clean favorit saya.
Inilah salah dua cara saya menikmati hidup dengan menonton film. Karena 'salah satu'nya adalah menulis. Merugilah saya jika hidup tak bisa dinikmati, toh saya hidup hanya 'mampir ngombe' *red-mampir minum* kan?. Tapi justru dengan hanya minum saja saya harus bersyukur, bahwa Tuhan masih mengijinkan saya menikmati segarnya air kehidupan. Membasuh jiwa saya yang kering kerontang.

Film adalah hidup, dan hidup adalah film dalam skenario maha panjang yang ditulis dalam buku takdir sang maha hidup, Tuhan. Scene by scene film yang lewat di depan mata saya bergerak normal, sempat melambat demi memberi jeda saya untuk berpikir, lalu secepat kilat membawa saya melaju ke puncak cerita. Butuh sedikit 'flashback' untuk menangkap 'clue' agar misteri hidup terpecahkan. Menjadi hebat, jika film itu lalu diberi sentuhan 'twist', karena saya suka itu. Berputar menggila dalam pusaran kehidupan layaknya menaiki rollercoaster, sedikit mabuk tapi seru. Saat itulah sejenak menjadi 'manusia bebas', lepas dari rantai yang membelenggu.

Seperti itulah saya melihat hidup saya yang terwujud dalam roll demi roll film yang berputar. Hidup saya kadang bergerak normal, seperti melaju di atas jalan mulus beraspal. Tak ada derak kerikil yang mengganggu perjalanan hidup saya. Lalu tiba-tiba 'Tuhan' yang menjelma polisi menegur, meminta saya melambatkan laju, rupanya ada perbaikan jalan. Perjalanan hidup saya terganggu, tentu saja, tapi saya mengambil hikmahnya. Jika tak diperbaiki sekarang, saya tak yakin bisa kembali melanjutkan perjalanan dan selamat sampai tujuan. Ia yang 1memberi saya kesempatan berhenti sejenak agar saya menenangkan kerja otak dan hati yang terkena 'chaos', sejenak merenung dalam hening, menenangkan batin yang dilanda badai kemrusung.
Film bagi saya, seperti sebuah cermin diri. Ada pribadi saya yang persis sama di dalam film itu. Aktor dan aktris yang berperan di sana saya akui hebat, mereka pintar memainkan 'watak' saya. Sindiran-sindiran bermunculan dalam film bermuatan 'sarkastik', begitu kerasnya 'menampar' pipi. Tergelak-gelak saya dalam kemirisan. Namun tamparan itu setidaknya telah menyadarkan saya, bahwa 'oo..inilah pesan yang ingin disampaikan Tuhan pada saya, terselip pembelajaran bijak'.

Soal pilihan film, entah bagus atau tidak, seru atau biasa, saya lebih ingin menikmati saja apa yang akan bergulir di depan sana. Saya tak mau terlalu tahu apakah 'film' saya akan berakhir happy ending, sad ending atau menggantung tak jelas di angkasa. Tuhan, sang maha sutradara lebih punya kuasa untuk memutuskan.

dipublish juga di sini

Saturday, January 02, 2010

pecandu film biru

sebuah repost..

Berada di dalam sarang penyamun bersama sekumpulan pria saat itu, membuat saya dihadapkan pada kondisi tak nyaman. Saya harus berbagi ruangan dengan pria-pria haus gairah. Dan dahaga di tengah siang yang dingin di dalam ruangan bersuhu 16 derajat itu mereka dapatkan pada sebuah tayangan sepasang manusia tengah telanjang.

Erangan menuju nikmat ke puncak orgasme menyesaki telinga. Terlihat meski sekelebat, pria-pria yang saya akrabi dalam keseharian di tim kerja tengah duduk tak nyaman. Geser sebentar ke kanan lalu ke kiri, mengangkat pantat, mencari posisi yang pas. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, yang tiba-tiba menyesak melesak membuat sesak celananya.

Mata memang menatap monitor, tapi otak saya rupanya sedang tak ingin sinkron dengan mata. Konsentrasi terpecah. Penasaran menggelitik hati, apa yang tengah mereka nikmati itu?, ingin mengintip, tapi rasa malu saya menahannya. Tampilan visual nan sensual sepasang manusia tengah intim rupanya berhasil memicu gairah mereka meledak-ledak.

Seorang perempuan dari kaum saya telanjang dalam film itu dan lantas menjadi objek pembangun hasrat. Gambar-gambar erotis nan dramatis sukses dihadirkan dalam otak mereka sebagai perangsang yang membangkitkan simpul syaraf hingga organ vital sang pria bergerak.

Ketidaknyamanan pada situasi itu rupanya perlahan membawa saya belajar, memahami mereka. Bersentuhan dengan dunia pria membawa saya tahu apa yang pria-pria itu suka, mau dan ingin. Ya, layaknya anak kecil girang dengan balon dan permen di tangannya, pria pun sama, selalu akan senang dan riang jika disuguhi sesuatu serupa seks. Sang pemuja seks sejati, saya sematkan di dada pria-pria itu. Bahkan pada pria saya, sekalipun.

Dan ternyata tak hanya nafsu dan seks yang mengelilingi otak pria, bahkan mereka bersedia pula bermain ego demi memenangkan sebuah hadiah berwujud cinta, wanita, harta dan kuasa. Inilah yang lalu membuat pria selalu tampil begitu hebat dan wibawa.
Pria-pria di tengah atmosfer kerja saya sudahlah begitu. Biar! Toh saya telah menjadi kebal dengan banyak perilaku yang mereka munculkan. Menonton film porno bersama pria-pria itu kini tak lagi membuat saya merasa tak nyaman. Menjadi seperti biasa saja, tak lagi jengah, resah jika pria-pria itu lalu menelanjangi saya dalam pikiran mereka. Tak bisa dicegah, kendali otak, juga rasa hanya pria-pria itulah yang bisa menguasainya.

Wajar yang normal, saya nilai seperti itu. Film biru sampai kapanpun akan selalu menjadi dunia yang diakrabi pria yang teramat asik untuk disinggahi, karena disana diletakkan kesenangan. Peduli setan dengan dosa dan neraka, Tuhan lebih berhak memutuskannya.

Surga yang kekal abadi mungkin tak akan menerima pria-pria pecandu film biru, tapi setidaknya pria-pria itu telah menemukan sebuah surga dunia meski sementara saja. Ya, pada film biru, sarana relaksasi mengendorkan syaraf otak yang tegang dan mengalihkan ketegangan itu pada syaraf yang lain ;)