Showing posts with label pria. Show all posts
Showing posts with label pria. Show all posts

Tuesday, February 16, 2010

Bad Boy: No Hard Feeling, Dear

Seorang pria yang kamu temui di sebuah pesta, begitu sangat menarik hati. Siapa yang bisa tahan dengan pesonanya? 'Jatuh bangun' kamu mencoba membuatnya bertekuk lutut di hadapanmu. Hingga akhirnya kamu berhasil 'menjatuhkan' sang casanova, pria bertanduk iblis. Namun, setelah terjalin kedekatan itu, kamu sadar dia begitu egois dan sangat tak setia. Pantaslah lalu kamu juluki si pria ini, bad boy.

Bad boy
sering diidentikkan dengan perilaku pria dengan karakter sifat negatif yang melekat pada dirinya. Pria yang over percaya diri, sangat sombong, pria yang lebih mementingkan egonya, tak menghargai perempuan, tak pernah peduli apa pendapat dan penilaian orang lain tentang dirinya, juga memberlakukan 'no hard feeling' pada setiap hubungannya dengan wanita.

Namun tak dipungkiri, pesona bad boy begitu kuat 'membius' kaum hawa. Perlakuannya yang kadang buruk terhadap kamu tertepiskan begitu saja, karena ternyata kamu justru berpikir sedang diperlakukan menjadi perempuan seutuhnya. Hati-hati,
dear.

Lalu, apa sih yang membuat
bad boy begitu menarik?. Sebelum ini terjawab, bertanyalah pada dirimu sendiri, mengapa kamu bisa 'jatuh' pada pria tipe ini. Jawaban itulah yang akan mengarahkanmu untuk menemukan 3 alasan berikut ini:

Mereka bisa berubah
Di mata wanita, pria tipe ini adalah sosok yang harus diselamatkan untuk menjadi 'pria baik-baik'. Dan wanita berusaha sekuat mungkin menjadi 'hero', yang mampu menaklukkan hati seorang bad boy. Insting keibuan wanita muncul begitu kentara saat melihat si pria bad boy terlibat masalah, dan menjadi tanggung jawab mereka untuk membantu pasangannya keluar dari masalah yang membelit. Ini memang baik. Tapi kenyataannya, pria tipe bad boy tak ingin diselamatkan. Mereka justru menikmati dan jumawa dengan jati diri mereka yang dipenuhi dengan masalah-masalah.

Mereka tahu kelemahanmu
Wanita mana yang tak tertarik dengan ajakan kencan spesial dari prianya, dan si bad boy sangat lihai melakukan itu. Jika menyangkut kencan, ide-idenya bolehlah dinilai sangat kreatif, yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh pria lain. Nah, justru inilah kelemahanmu yang coba dimanfaatkannya. Tak dipungkiri, wanita ingin seorang pria lebih aktif, agresif. Inilah yang membuat sebagian kaum hawa tergoda menyelami sisi terdalam bad boy. Sikap yang ditunjukkan bad boy ini dianggap wanita bahwa mereka memiliki tujuan hidup, padahal jauh di dalam hati mereka, hanyalah untuk membuaimu dalam pesonanya.

Mereka menyenangkan.
Bad boy memiliki kadar kepercayaan diri yang sangat tinggi. Saat masuk ke dalam sebuah ruangan, pandangannya selalu 'menyapu' seluruh penjuru ruangan dan lalu melecutkan daya tarik orang-orang di pesta itu. Dirinya terlahir sebagai si populer, dengan pribadi yang begitu menyenangkan, membuat wanita tak ingin mengalihkan dunianya pada yang lain. Sikapnya yang senang menjadi pusat perhatian begitu dinikmatinya dan ia hanya peduli dengan dirinya sendiri.
Telah jelas tiga alasan ketertarikanmu pada si bad boy, saya beberkan ini untuk kamu, ladies. Pun kamu pasti telah bisa memaklumi pria-pria tipe ini memang sangat menarik dan menantang untuk ditaklukkan. Namun, segala kendali tetap ada pada dirimu sendiri. Jika kamu terbius pesonanya dan tergoda, pikirkan sekali lagi apakah ini memang benar-benar serius kamu lakoni atau sekedar have fun saja.

Biar kamu tak kecewa kencan dengan seorang bad boy, terapkan beberapa strategi tarik ulur. Ini bakal menyenangkan buatmu dan bikin si bad boy tak bosan. Ingat,

bad boy seperti keripik kentang, sekali kamu mengencaninya, kamu akan terus menginginkannya sampai kamu benar-benar muak.
Having fun saja. Bad boy tak pernah serius menanggapi cinta atau perasaanmu, karena itu terapkan aturan main, bahwa ini 'just for fun'. Nikmati saja pengalaman menjalani hubungan dengan seorang bad boy. Dengannya kamu tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Isi waktu luangmu dengan banyak kegiatan menyenangkan meski tanpa dia berada dekatmu.

Open your self
. Meski kamu menikmati hubungan dengan si bad boy, saya sarankan untuk tetap membuka diri dengan orang lain. Never say never dengan tawaran seorang teman yang ingin memperkenalkan kamu dengan teman prianya. Kepastian hubunganmu dengan si bad boy, kamu kan tak pernah tahu.

Jangan pernah larut dalam permainannya
. Tetaplah waspada dan pelajari terus bagaimana perlakuannya selama ini terhadap wanita-wanita lain. Bersikaplah sedikit cuek, jika memang tak perlu, tak usah membalas SMS nya, atau menerima telponnya. Tak perlu menjadi kekasih yang selalu ada untuknya, karena saya yakin dia juga tak pernah merasa ada untuk kamu.

Tak perlu bersusah payah mengubah perilakunya
. Ini mengacu pada alasan pertama, yang coba saya ulas di awal tadi. Tak ada cinta atau perasaan apapun untuk kamu, 'no hard feeling'. Dan itu berarti kamu tak perlu sekuat tenaga membuatnya jatuh cinta padamu. Karena pria-pria macam ini hanya sekedar umbar janji tentang cinta, komitmen atau hal manis lainnya. Tak akan pernah ada happy ending dengan pria-pria bad boy.

Menjadi sang navigator
. Saat berhubungan dengan si bad boy, kamu harus bisa pegang kendali dalam menentukan arah hubungan. Jangan beri kesempatan si dia 'menyetir'mu. Biasakanlah diri untuk tak pernah berharap ia akan menelponmu atau kamu terlalu larut dalam pertanyaan 'apakah ia mencintaimu?'. Sedikit jual mahal. Justru itulah poin pentingnya, bukan dia yang kamu taklukkan, tapi berkebalikan, dia malah tertantang menaklukkan seorang kamu.

Hargai diri sendiri
. Seorang bad boy suka bersenang-senang, dan seks adalah pelengkap agar hubungannya dengan wanita-wanita itu menjadi lebih meriah. Tetaplah waspada meski seks tak menjadi soal bagi kamu saat berhubungan dengannya. Namun jika tak inginkan seks dengannya, bersiaplah hubungan itu tak akan lama. Hargai dirimu sepenuhnya. Meski menyenangkan, tapi jangan pernah mengorbankan integritas dan harga dirimu demi seorang bad boy.

Putuskan kapan kamu harus mundur
. Perilaku bad boy memang terkadang menyakitkan dan mungkin tak bisa dimaafkan. Jangan salahkan dirimu atas hal itu, terimalah resiko dan konsekuensinya berpacaran dengan seorang bad boy. Sebelum dia memutuskan dan berlalu meninggalkan kamu, lakukan itu lebih dulu. Hentikan pertemuan dan putuskan komunikasi dengannya.

dipublish juga di sini

Saturday, January 23, 2010

Dia Tak Lagi Memakai Cincinnya..

sebuah repost

Cincin kawin itu tersematkan begitu indah di jari manis saya. Bentuknya sederhana, bulat polos tanpa hias berlian di atasnya. Itu seperti mewakili cinta kami yang sederhana saja, di dalamnya berisi segala hal yang ingin kita bagi dan kita rasakan sama-sama sampai kami mati. Secara simbolis, ring itu telah mengikat hati saya dan pria saya menjadi satu.


Hingga di suatu waktu saya dibuatnya kaget. Atas inginnya, dia meminta saya menyimpan cincinnya. Lalu, kenapa? dia tak lagi ingin saya menemaninya mewujudkan cinta yang sederhana itu bertumbuh besar dan kuat? Bukan..bukan pula dia tak lagi menginginkan cinta ini kami bagi dan rasakan sama-sama, juga bukan karena hati itu telah terbelah. Setianya dan kasih sayang tulusnya masih untuk kami yang dicintai. Saya percaya itu.

Rupanya 'Tak pakai berarti tak setia' sering telah menjadi kesimpulan salah kaprah sebagian orang ketika mendapati salah satu pasangan pria tak memakai cincin kawinnya. Hal ini mungkin saja terjadi karena suatu statemen pernah terlontar sebelumnya "Iya, ga pake, biar keliatan masih single, jadi bisa cari lagi dong." Hmm..terkekeh saja mendengar alasan lucu nan bodoh seperti itu, tanpa cincin, selingkuh bakal lancar jaya selamanya.

Saya analisa beberapa alasan logis kenapa pria saya, atau mungkin pria-pria Anda tak lagi memakai cincin kawin mereka

1. Rasa enggan karena sayang
Cincin bagi pria adalah sebuah kemewahan. Sayang jika rusak atau hilang. Memakai cincin saat bekerja bagi sebagian pria hanya akan memberi rasa tak nyaman bagi dirinya, ini terutama bagi pria-pria yang berhubungan dengan segala aktivitas pekerjaan berat. Pria-pria ini lalu hanya akan memakai cincin kawin pada even-even tertentu saja.

2. Cincin kawin adalah perhiasan
Dan tidak semua pria terbiasa memakai perhiasan. Saya maklumi itu pada pria saya. Kecuali profesi dukun yang memang senang memakai cincin-cincin bermata besar sebagai trade mark mereka.

3. Tak mau dibilang pamer
Dibanding wanita, kaum laki-laki tak terlalu suka show off dan mencari perhatian terlebih dengan cincin kawin mereka.

4. Malas ditanya macam-macam
Mungkin ini masih ada korelasinya dengan keinginan sang pria untuk tak setia. Tak ingin ditanya macam-macam perihal istri dan rumah tangganya oleh si perempuan gelap, dia lalu memilih meng-hide cincinnya.

Sekali lagi, cincin memang hanya simbol semata. Jaminan kesetiaan sampai mati bukan diletakkan pada sebuah cincin, tapi pada hati dan rasa percaya kita pada pasangan.

Monday, January 04, 2010

Makhluk Multitasking itu Bernama Wanita

sebuah repost..

Tampaknya hebat, sebuah bakat multitasking yang hampir dipunyai kaum wanita, kaum saya. Dengan banyak tugas, banyak pula masalah, mereka mengandalkan kedua tangan dan dua otak untuk bekerja simultan. Meski saya belum tahu pasti penyebab munculnya stereotip seperti itu, namun saya akui hal itu ada benarnya juga. At least, it works for me!

Ya, menjadi ibu rumah tangga memang tak bisa saya lakoni secara penuh utuh menyeluruh, karena demi hak mengaktualisasi diri, saya ingin tetap bisa bekerja dan berkarya. Lalu, tak hanya urusan dapur, kasur dan sumur yang menjadi keseharian, bahkan urusan menulis, editing, memoderasi jadi bagian dari kontribusi saya di ladang tempat bekerja. Konsekuensinya, saya harus pintar berbagi tubuh. Menyediakan energi dan membagi pikiran secara simultan, agar bisa terakomodir semua kepentingan.
Sebuah artikel menguatkan, bahwa otak wanita memiliki Corpus Callosum, sekelompok syaraf yang menghubungkan otak kanan dan kiri. Sedang pada pria, syaraf ini memiliki ukuran 25% lebih kecil dibanding wanita. Itu artinya, wanita cenderung mudah menghubungkan antara perasaan dan pikirannya. Dalam bahasa sederhana, wanita memutuskan lewat jalan tol untuk menghubungkan antara perasaan mereka dengan percakapan, sedang pria cenderung memilih lewat gang-gang sempit dengan banyak rambu stop, berbelit-belit, tak praktis.
Kuatnya koneksi antara bagian-bagian otak yang berlainan itu rupanya yang lalu mampu memunculkan kemampuan wanita dalam hal multitasking. Dalam satu waktu, mereka mampu berpikir, mengingat, merasa dan mendengar serta merencanakan suatu hal secara bersamaan. Mungkin inilah yang lalu membuat saya bisa cepat menulis dan mengedit sambil mendengarkan musik. Aneh saja, karena tanpa musik, ide menulis saya mampet tak ingin keluar.

Sedang kerja otak pria sangat terspesialisasi, hanya mengandalkan satu belahan otak untuk melakukan suatu pekerjaan. Otak wanita malah lebih mampu bekerja secara simultan dengan kedua belahan otaknya untuk melakukan banyak hal. Perbedaan neurologis inilah yang membuat pria *termasuk pria saya* cenderung melakukan segala hal satu persatu. Fokus pada pekerjaan hingga lupa waktu, dan tak tepati janji makan malam dengan wanitanya. Hal inilah yang terkadang disalahartikan sebagian wanita sebagai sikap pelupa dan cuek pria. *tersindir tulisan sendiri* :D

Sebenarnya ketrampilan yang dimiliki wanita dalam hal multitasking ini selain terhubung dari sifat alami bawaan sejak lahir (nature), bahwa corpus collosum wanita nyata-nyata lebih luas daripada pria, yang memungkinkan wanita melakukan multitasking lebih efisien, ternyata juga disangkutkan dengan kebiasaan (nurture) yang berpengaruh serta imbas produk liberal berjudul kesetaraan gender.

Bahwa sudah menjadi kodratnya, wanita dituntut untuk menjalani hidupnya sebagai 'konco wingking' suami. Tuntutan profesi inilah yang lalu terasah wanita hingga memunculkan ketrampilan multitasking. Melakukan segala aktivitas di dapur, di kasur dan di sumur, mengasuh anak dan mengurus rumah plus keluarga, pun dinobatkan juga sebagai bendahara negara kecil bernama 'rumah tangga'.

Lalu karena kesetaraan gender yang diperjuangkan Kartini di masanya dulu, wanita yang telah menuntaskan kewajibannya sebagai seorang istri dan ibu lantas ingin menjajal kemampuan multitaskingnya dengan meminta hak. Mereka juga ingin berkarya dan mengaktualisasi diri, menjadi mandiri dan berdikari. Para wanita itu, termasuk saya lantas mencoba sedikit menggeser posisi tanpa berusaha meninggalkan posisinya semula. Tetap menjadi ibu dan istri yang loyal terhadap rumah tangga dan suami, tetapi juga menjadi pekerja wanita yang loyal terhadap karir dan perusahaan tempatnya bekerja.
Dan inilah yang lalu menjadi konsekuensi saya, seorang ibu rumah tangga merangkap pekerja wanita, dengan doble tugas. Dituntut untuk bisa bekerja multitasking. berbagi tubuh dan pikiran. Beruntungnya saya wanita, karena ketrampilan itu sudah bakat alam, karunia dari Tuhan yang harus disyukuri, dijalani sebaik-baiknya dengan tetap menunaikan kewajiban dan meminta hak tanpa melanggar batas-batas gender.

Saturday, January 02, 2010

pecandu film biru

sebuah repost..

Berada di dalam sarang penyamun bersama sekumpulan pria saat itu, membuat saya dihadapkan pada kondisi tak nyaman. Saya harus berbagi ruangan dengan pria-pria haus gairah. Dan dahaga di tengah siang yang dingin di dalam ruangan bersuhu 16 derajat itu mereka dapatkan pada sebuah tayangan sepasang manusia tengah telanjang.

Erangan menuju nikmat ke puncak orgasme menyesaki telinga. Terlihat meski sekelebat, pria-pria yang saya akrabi dalam keseharian di tim kerja tengah duduk tak nyaman. Geser sebentar ke kanan lalu ke kiri, mengangkat pantat, mencari posisi yang pas. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, yang tiba-tiba menyesak melesak membuat sesak celananya.

Mata memang menatap monitor, tapi otak saya rupanya sedang tak ingin sinkron dengan mata. Konsentrasi terpecah. Penasaran menggelitik hati, apa yang tengah mereka nikmati itu?, ingin mengintip, tapi rasa malu saya menahannya. Tampilan visual nan sensual sepasang manusia tengah intim rupanya berhasil memicu gairah mereka meledak-ledak.

Seorang perempuan dari kaum saya telanjang dalam film itu dan lantas menjadi objek pembangun hasrat. Gambar-gambar erotis nan dramatis sukses dihadirkan dalam otak mereka sebagai perangsang yang membangkitkan simpul syaraf hingga organ vital sang pria bergerak.

Ketidaknyamanan pada situasi itu rupanya perlahan membawa saya belajar, memahami mereka. Bersentuhan dengan dunia pria membawa saya tahu apa yang pria-pria itu suka, mau dan ingin. Ya, layaknya anak kecil girang dengan balon dan permen di tangannya, pria pun sama, selalu akan senang dan riang jika disuguhi sesuatu serupa seks. Sang pemuja seks sejati, saya sematkan di dada pria-pria itu. Bahkan pada pria saya, sekalipun.

Dan ternyata tak hanya nafsu dan seks yang mengelilingi otak pria, bahkan mereka bersedia pula bermain ego demi memenangkan sebuah hadiah berwujud cinta, wanita, harta dan kuasa. Inilah yang lalu membuat pria selalu tampil begitu hebat dan wibawa.
Pria-pria di tengah atmosfer kerja saya sudahlah begitu. Biar! Toh saya telah menjadi kebal dengan banyak perilaku yang mereka munculkan. Menonton film porno bersama pria-pria itu kini tak lagi membuat saya merasa tak nyaman. Menjadi seperti biasa saja, tak lagi jengah, resah jika pria-pria itu lalu menelanjangi saya dalam pikiran mereka. Tak bisa dicegah, kendali otak, juga rasa hanya pria-pria itulah yang bisa menguasainya.

Wajar yang normal, saya nilai seperti itu. Film biru sampai kapanpun akan selalu menjadi dunia yang diakrabi pria yang teramat asik untuk disinggahi, karena disana diletakkan kesenangan. Peduli setan dengan dosa dan neraka, Tuhan lebih berhak memutuskannya.

Surga yang kekal abadi mungkin tak akan menerima pria-pria pecandu film biru, tapi setidaknya pria-pria itu telah menemukan sebuah surga dunia meski sementara saja. Ya, pada film biru, sarana relaksasi mengendorkan syaraf otak yang tegang dan mengalihkan ketegangan itu pada syaraf yang lain ;)

Rokok, Simbol Kejantanan Pria?

sebuah repost..

Jika uni Sabai bisa memahami prianya heboh dengan bola bundar yang menggelinding di lapangan dan direbutkan 22 orang, saya pun memahami itu pada pria saya, karena dia juga penikmat bola.


Ya, bola dan pria, saling mengikat kuat. Sama kuatnya dengan gambaran pria pada sebatang rokok. Para pria perokok yang selalu tampak 'manly' dan begitu jantan ketika menghembuskan kepulan asap rokoknya ke udara. Seksi!

Lihat pencitraan yang ditampilkan pada seorang bintang iklan rokok, tampak selalu begitu sempurna, dengan tubuh atletis, dada berbidang, perut rata, ditopang dengan bahu kekar dan rahang tegasnya. Pria gagah dan keren yang pantas disandingkan dengan wanita cantik manapun.

Pada pria ini lalu dihadapkan sebuah realita gaya hidup modern, penuh kemapanan. Hidup yang diperciki dengan bumbu cita rasa kesuksesan. Bahwa dengan rokok, karir atau kehidupan percintaan mereka bisa begitu mudah di raih dan akan berakhir dengan kesuksesan dan kebahagiaan. Hiperbolik?, jelas!

Bahkan pria-pria perokok ini tak pernah lepas dari pencitraan seorang adventurer, penyuka tantangan, penggila olah raga pemacu adrenalin. Bagi mereka, tantangan bukan untuk ditakuti tapi untuk dihadapi, sekeras apapun itu. Ego pada pria yang muncul begitu kuat, tapi diam-diam banyak wanita malah menyukai itu, termasuk saya.

Tak ada yang salah dengan iklan rokok yang memasang bintangnya serupawan mungkin atau alur cerita pada iklan dibuat amat sangat dramatis sekali. Sah-sah saja, lhah wong ini bagian dari proses menarik peminat, kok. Tak melibatkan SPG cantik dan seksi yang berjejer di stan produk rokok, karena produk memang tidak sedang dipasarkan secara verbal. Tetapi disuguhkan berupa visualisasi, penggambaran iklan yang dibuat sebagus mungkin, semewah mungkin, hingga selalu saja iklan rokok merek tertentu dibuat begitu kolosal. Keren!

Back to topic. Lalu, bagaimana dengan pria saya, pria kamu atau kalian, yang sama sekali bukan penikmat rokok? mereka tak cukup jantan kah? atau lantas surutkah karir dan kehidupan percintaannya karena mereka begitu bodoh meninggalkan rokok?

Pencitraan hebat tentang seorang pria dan rokoknya sudahkah terlanjur kuat melekat, hingga jantan dan sukses lalu diidentikkan pria pada sebatang rokok?

Sebodo amat dengan rokok. Meski pria saya bukanlah penikmat rokok, kejantanannnya tak lantas jadi surut atau lebih parah karirnya tak secemerlang para perokok-perokok itu *sila kalau mau dibilang saya narsis*. Berhenti merokok adalah keputusannya yang patut saya acungi jempol, dan saya mendukungnya penuh.

Tak mudah bagi dia melepaskan diri dari jerat benda yang bisa membuatnya lari dari penat. Dan saat saya tanya apa alasannya berhenti merokok, dia hanya menjawab singkat, jelas, tepat dan mengena..
"aku masih sayang paru-paru dan isi dompet di kantongku, dear.." :))

Friday, November 06, 2009

Wanita Lebih Kuat

Sebuah repost

Saat mengetahui eyang putri jatuh sakit dan terkena stroke hingga mengalami lumpuh setengah badan, eyang kakung saya seperti kehilangan 'spirit'nya, menjadi tak berdaya. Melihat kelumpuhan eyang putri, membuat eyang kakung merasa feeling guilty, hingga membuat eyang kakung sakit dan akhirnya memilih menyerah, meninggal diusianya yang 75 tahun. Eyang putri malah lebih tegar, melanjutkan hidup dengan kelumpuhannya selama hampir 11 tahun lamanya. Tanpa pendamping, hanya anak dan cucu yang setia di samping beliau. Sampai akhirnya eyang putri berada di titik puncak kehidupannya, menyusul eyang kakung, tutup usia di usia 86 tahun.

Di sisi lain, menilik pada keluarga teman saya. Ayahnya memilih menikah lagi beberapa bulan setelah kematian sang istri tercinta. Bukan karena nafsu semata, tapi karena ayah teman saya ini merasa tak mampu tanpa pendamping di usianya yang makin renta. Meski sebenarnya ketakutan itu tak perlu karena anak-anak dan cucu pasti akan selalu mendampinginya. Dan sederhana sih alasannya, karena ternyata ayah teman saya ini tak ingin kesepian menghabiskan sisa hidupnya di ujung waktu.

Menilik cerita klasik dua keluarga ini, tertariklah kesimpulan sepihak dari saya,

bahwa wanita adalah bintang dan pelita bagi lelaki. tanpa pelita, laki-laki bermalam dalam kegelapan. dan tanpa wanita, laki-laki bagai pohon tak memiliki akar, akan mudah tumbang dan goyang..

Senyata-nyatanya wanita lebih kuat dan tegar tanpa laki-laki pendampingnya. Itulah kenapa banyak janda dibandingkan duda ya? hihihi. Saya mengambil contoh terdekat, eyang putri saya yang lumpuh dan kehilangan pendamping, justru membuat beliau tegar dan kuat menjalani sisa hidupnya yang lumpuh selama 11 tahun dengan keikhlasan.

Optimis!. Mungkin sikap positif itu pula yang ditunjukkan eyang putri saya. Meski harus bergantung pada kursi roda atau kurk, eyang putri optimis bisa menjalani masa-masa sulitnya. Dan eyang putri saya terbukti bisa melewati semuanya dengan perasaan ikhlas, 11 tahun dengan kelumpuhannya, tanpa pendamping yang seharusnya menguatkannya. Luar biasa!. Bahkan sikap optimis eyang putri memandang hidup juga mendapatkan penguatnya pada sebuah pengkajian yang dilakukan para peneliti di University of Pittsburgh.

Ah, bercermin pada cerita eyang kakung dan ayah teman saya, ternyata meski laki-laki diciptakan dengan fisik yang lebih kuat dibanding wanita, dengan badan kekar dan otot kuatnya, tak lantas membuat pria selalu terlihat kuat. Bahwa faktanya, justru wanita lebih kuat dan mampu bertahan hidup dibandingkan pria. Mau tahu kenapa?

- Wanita cenderung suka main aman. Sedang laki-laki yang mengalami gejolak 'badai testosterone', cenderung melakukan sesuatu yang berbahaya dan memicu adrenalin lebih tinggi dan pada akhirnya banyak pria yang terbunuh atau bunuh diri.

- Wanita tahan dan sensitif terhadap rasa sakit, tapi justru itu wanita mampu menangani rasa sakit itu dengan baik dan jarang mengeluh. Hebatnya, rasa sakit yang dialami tak membuat aktivitas harian mereka terganggu, mengurus rumah tangga tetap dilakoni dan bekerja juga dilakukan seperti biasa. Mama saya termasuk dalam poin ini. Saya saksinya.

- Yap..wanita (termasuk saya, yang wanita juga tentunya) peduli kesehatan. Tilik saja gaya hidup wanita cenderung teratur, dibanding pria. Lebih rajin menjaga pola makan, rajin olahraga, tak suka merokok, dan menghindari alkohol berlebihan. Itulah kenapa usia harapan hidup wanita jatuhnya lebih tinggi.

- Secara mental, wanita juga terbukti kuat dibanding pria, lebih tahan kesepian. Sedang pria boleh saja tak merasa berat musti 'jungkir balik' mencari nafkah untuk keluarga, tapi bakal 'nangis darah' saat ditinggal pasangan. Dan tak perlu menunggu lama, para pria yang 'kehilangan' ini akan mencari penggantinya *seperti ayah teman saya itu*.

Ingin menambahkan alasan lainnya?..monggo silahkeun!


*kepala mendadak pening*

Pria dan Air Mata

Sebuah repost

Sosoknya yang tegar, kuat dan begitu tangguh di hadapan saya menangis. Tak pernah saya melihatnya begitu rapuh. Ada sakit terdalam yang tak bisa ia obati hanya dengan diam atau tegar. Teramat menyesakkan, hingga bulir air matanya jatuh juga. Sepuasnya dia mencoba mengobati luka batinnya, wajah tegarnya yang lelah menahan beban menyandar ke dada saya, mata tajamnya yang selalu saya lihat penuh dengan semangat, meredup..dibasahi mata air yang membuncah keluar tak terkendali. Saya menguatkannya..'menangislah sayang, agar kamu lega'.


Pria saya bukan sedang mengiba cinta atau haus dibelai, dia sedang penat. Butuh pegangan baginya menyandarkan diri, dan sayalah tempat paling tepat untuknya bersandar. Dia bisa juga lemah, tak tangguh, dan label 'super' pada dirinya bisa juga luntur. Melihatnya menangis, membuat saya memahaminya. Bahwa dia sedang meminta..'tolonglah, pahami saya'. Bahwa tak selamanya saya bisa egois saat kami mulai mendebatkan suatu masalah, bahwa dia butuh kepercayaan kuat dari saya dan bukan malah menyudutkannya.


Pria saya sama seperti juga pria-pria lainnya di berbagai belahan dunia manapun. Makhluk bernama pria yang diciptakan memiliki sembilan logika dan satu perasaan. Itulah kenapa laki-laki selalu mengandalkan logikanya dalam menyelesaikan masalah.

Seperti rumah joglo, begitulah pria diibaratkan. Punya satu tiang soko guru dan ribuan batu bata, tapi jika satu tiang soko guru itu tercerabut, maka seluruh bangunan itu akan runtuh.
Dan saat wanita menangis?..itu sih wajar. Karena wanita selalu mengandalkan rasa. Sebuah bentuk pelampiasan emosi a la wanita. Wanita menangis belum tentu dinilai cengeng, sedang pria menangis, meski hanya menitikkan setetes air mata tetap saja dinilai 'cengeng'..terdengar tak adil, tapi begitulah realitanya. Wanita 'halal' menangis, dan pria 'haram' menangis.

Saya lalu mencoba mencari jawab atas tangis pria saya..

Saya pikir tangisan pria saya adalah buah dari emansipasi yang didengung-dengungkan sejak jaman Kartini hingga sekarang. Bahwa meski tak kasat mata, bukan hanya wanita yang ingin sejajar dengan pria. Pun, pria saya dan kebanyakan pria ingin setara dengan wanita, rela menanggalkan separuh citra dirinya yang kekar dan maskulin menjadi sedikit feminin. Lagi-lagi karena emansipasi, kini, mereka, para pria-pria itu berubah menjadi pribadi yang halus tapi tegar, pasif namun agresif, dan akrab tapi tetap menjaga jarak. Pria-pria yang berubah jadi lembut dan ekspresif.


Hebatnya, saat memaknai tangisan pria saya ini, saya malah mendapati pengakuan dari seseorang tentang pria-pria yang juga memiliki siklus layaknya wanita.
Bahwa siklus pria dimulai dari tanggal 17 sampai 23 per bulan, dimana saat-saat itu pria tengah dalam puncak kelelahan dan keletihan atau dalam istilah psikologinya, 'burn out'
Jadi, jangan pernah ganggu priamu di rentang waktu itu, nanti dia akan menangis sejadi-jadinya..;) Lalu, masih tetap mencari jawab kenapa pria-pria itu menangis..saya mencoba menyibak akal pikiran terdalamnya. Bahwa akal ternyata menjadi penentu pria-pria ini menangis. Kenapa?..karena saat air matanya berderai-derai, itu tanda, bahwa dia sesungguhnya telah lelah berpikir. Akalnya sedang tak mampu diajak kompromi, dan lalu terjadilah, logikanya kalah telak oleh rasa.

Tangisannya adalah kelegaannya bahwa saya masih ada untuknya. Bahwa, seburuk apapun hidup dan kehidupan kami, saya akan tetap berada di sampingnya, mencoba tegar untuknya. Bahwa saya tak boleh lemah, karena tolol saja jika saat pria saya butuh dikuatkan malah saya melemah. Bahwa saat pria saya sedih, hanya sayalah tempat penghiburannya. Bahwa saat dia menangis, label 'egois' dalam diri saya mendadak ikutan luruh.

dan menangislah, bila harus menangis..
satu lagi,
keluarkanlah air matamu hanya pada saat yang tepat!..
That's my advice for you, man ;)