Showing posts with label seksi. Show all posts
Showing posts with label seksi. Show all posts

Saturday, December 10, 2011

Erotisme Wanita Berkebaya

Sebuah repost

MINTARJO, sebut saja nama pria paruh baya asal desa Selarejo, Magetan itu sebagai sosok "tua-tua keladi". Ia rupanya sedang kesengsem (suka, red) pada Ngatirah yang ayu dan kenes. Ngatirah, yang tak lain istri tetangganya itu telah membuat hati Mintarjo berdebar tak keruan.

Melihat Ngatirah berkebaya dan berselendang biru hendak kondangan, Mintarjo dari balik tembok rumahnya tak sengaja bersenandung lagu karya Ki Narto Sabdo: kedhep tesmak aku nyawang slendang biru, gelungane methok, lamatan tasikane, ngagem kebayak ungu nyamping bathik, eseme solahe, salagane gawe bingung (terpesona kumelihat selendang biru, konde menantang dengan bedak tipis, berkebaya, senyum dan gayanya bikin pusing, red)

Hm, ya begitulah kiranya pesona wanita berkebaya sanggup membuat sebagian pria, tak terkecuali Mintarjo kelimpungan. Bahkan di mata seseorang (terutama sebagian pria) yang tumbuh dan besar dalam iklim Jawa yang konservatif, sosok wanita berkebaya identik dengan keseksian yang tersaji dalam satu paket keindahan. Tak hanya anggun menawan namun juga eksotik, sanggup memancarkan aura sensualitas tersendiri.

Lihat, bagaimana kebaya berbahan brokat menerawang serta kain jarik yang membungkus tubuh dari pinggang hingga kaki selalu mengekspos jelas bentuk lekuk tubuh pemakainya. Bagai siluet jam pasir yang berjalan, pinggul menawan itu memperlihatkan lekuk torso yang menggairahkan, pun jarik yang dibalut ketat pada tubuh itu sanggup menampilkan pantat yang terangkat sempurna.

Dan meski busana khas Jawa itu terlihat ribet, namun tak membatasi gerak tubuh pemakainya sehingga mereka masih sanggup melenggang seksi. Tak ayal, keindahan ragawi yang terpancar dalam balutan kebaya ini semakin menggugah rasa penasaran dan penuh misteri. Apalagi kalau bukan lewat cara bertutur yang halus dan tertata, dengan pandangan mata menggoda, menyambar dan menggetarkan jiwa para penikmat keindahan pesona kecantikan Jawa.

Kebaya yang erat terkait dengan simbol keseksian itu barangkali bermula dari tarian sakral Bedhaya Ketawang di Surakarta. Konon, sembilan orang penari perempuan yang menarikan tarian tersebut haruslah pilihan terbaik. Mereka, para penarinya, haruslah berwajah rupawan. Tubuh mereka dibalut kain jarik, sedang bagian atas tubuh terbuka, memancarkan kulit kuning langsat yang berkilau lulur. Dengan rambut yang disanggul rapi, para penari bergerak gemulai, pelan mengikuti irama gending jawa, seakan sedang menyampaikan sebuah pesan.

Lalu, pesan apa yang hendak disampaikan para penari tersebut? Di salah satu tulisannya, budayawan Seno Gumira Adjidarma menyebut tarian ini amat sakral sekaligus sarat makna birahi dan seksualitas. Bahkan berkembang anekdot, para penari haruslah perawan, sebab raja akan memilih salah seorang penari untuk menemaninya tidur malam itu.

Seksualitas yang kentara dalam tarian itu, kata Seno, bukan pada bagian tubuh yang terbuka. Justru bagian tubuh yang sesekali terlihat mengintip di balik kain jarik yang dikenakan penari tersebut yang mengundang decak kagum dan rasa penasaran. Ya, lekukan kaki diantara tumit dan mata kaki, saat kaki menyapu kain jarik yang menjuntai ke bawah, itulah keseksian sejati yang tertangkap mata.

Wanita dengan lekuk kaki yang sensual, konon, dianggap mampu menunjukkan kemampuan permainan cintanya di atas ranjang. Meski aneh, kedalaman lekuk kaki menjadi patokan hebat tidaknya wanita dalam bercinta. Artinya, semakin berkurang lekuknya, semakin rendah pula seksualitas (daya tarik seks) seseorang. Hmm..

Kembali pada kebaya. Disebutkan dalam sejarah, Soekarno, mantan presiden RI itu juga menyukai wanita berkebaya dan berkain jarik. Di masanya, kain jarik dan kebaya bahkan muncul di kalangan elit di wilayah publik dan berstatuskan sebagai pakaian nasional.

Kesukaan Soekarno pada wanita berkebaya itu diperkuat dalam disertasi Saskia Wieringa yang berjudul "The Politization of gender relations in Indonesia: The Indonesian women’s movement and Gerwani until the New Order state". Disebutkan, sikap Soekarno terhadap perempuan yang berkebaya cenderung hanya didasarkan pada rasa kagum semata dan hasrat yang tertahan.

Tak hanya kebaya

Erotisme itu tak hanya milik kebaya semata, suku Dayak Kenyah juga menyuguhkan erotisme serupa dalam balutan pakaian Ta'a. Keseksian nampak pada rok yang terbelah dari atas hingga ke bawah di bagian belakang. Dari balik belahan itulah pria Dayak menikmati erotisme yang sesungguhnya. Tepatnya rajah yang melingkar di paha dan kaki perempuan adalah keindahan yang mereka nikmati. Rajah inilah penanda erotisme dan seksualitas para wanita Dayak Kenyah.

Lalu apa yang menarik dari baju Bodo, pakaian adat masyarakat Bugis-Makassar itu? Baju berbahan kassa tipis yang nyaris transparan itu sekilas memang mirip baju tidur wanita, yang menonjolkan lekuk indah tubuh pemakainya. Konon, para perempuan Bugis dulunya tidak malu-malu mengenakannya tanpa apapun di balik busana itu, hal ini diungkapkan seorang penjelajah bernama James Brooke yang berkunjung ke Makassar di tahun 1840.

Namun, tak ada yang seksi dari gadis berbaju bodo itu, meski lekuk tubuh mereka terlihat jelas, seperti dituturkan sebagian pria Bugis. Bagi mereka, tubuh yang sering terekspos jelas itu justru secara perlahan melunturkan keseksian sang wanita. Tubuh polos dalam balutan busana transparan itu tak lagi penting, sebab orang lebih tertarik dan penasaran mengetahui sesuatu yang lebih menarik di balik tubuh tersebut. Tak lain, kecerdasan dan tutur kata seorang perempuan adalah keseksian sejati yang lebih diminati pria.

Seksualitas dalam kebudayaan

Jika dikaitkan dengan kebudayaan, sensualitas dan seksualitas memang bukan hanya perkara kedekatan raga saja. Seks adalah bagian dari budaya, yang dipelihara, ditularkan secara turun temurun dan menjadi pedoman yang memengaruhi tindakan dan prilaku seseorang dalam masyarakat. Kebudayaan serta latar belakang yang berbeda akan memengaruhi mereka dalam menilai sebuah seksualitas, sehingga seks pun dipandang dan dinilai relatif bagi setiap orang yang terbiasa hidup dalam berbagai keragaman.


Salam


Penikmat Film Biru Tak Cuma Pria


Sebuah repost

BERADA di dalam sarang penyamun bersama sekumpulan pria saat itu, membuat saya dihadapkan pada kondisi tak nyaman. Saya harus berbagi ruangan dengan pria-pria haus gairah. Dan dahaga di tengah siang yang dingin di dalam ruangan bersuhu 16 derajat itu mereka dapatkan pada sebuah tayangan sepasang anak manusia tengah telanjang.

Erangan menuju nikmat orgasme menyesaki telinga. Terlihat meski sekelebat, pria-pria yang saya akrabi dalam keseharian di tim kerja tengah duduk tak nyaman. Geser sebentar ke kanan lalu ke kiri, mengangkat pantat, mencari posisi yang pas. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, yang tiba-tiba menyesak, melesak membuat sesak celananya.

Begitulah yang terjadi pada Vanya, lajang, seorang pekerja ditengah dominasi pria di kantornya. Vanya tentu saja merasa tidak nyaman dengan kondisi yang tengah dihadapinya tersebut.

Mata memang menatap monitor, tapi otak saya rupanya sedang tidak ingin sinkron dengan mata. Konsentrasi pun terpecah. Penasaran menggelitik hati, apa yang tengah mereka nikmati itu?, ingin mengintip, tapi rasa malu saya menahannya. Tampilan visual nan sensual sepasang manusia tengah intim rupanya berhasil memicu gairah mereka meledak-ledak.

Seorang perempuan dari kaum saya telanjang dalam film itu dan lantas menjadi objek pembangun hasrat. Gambar-gambar erotis nan dramatis sukses dihadirkan ke dalam otak mereka sebagai perangsang yang membangkitkan simpul syaraf hingga organ vital mereka mendadak sulit dikendalikan.

Vanya lantas merasa kawan-kawan prianya yang sedang asik berada di surga dunia dalam fantasi mereka itu tengah pula menghadirkan dirinya sebagai objek visualisasi seks. "Saya jadi resah, takut, jika dengan tanpa permisi mereka sempat menghadirkan saya tengah telanjang dalam imaji mereka."

Seksolog Dr Elna McIntosh menguatkan ketakutan Vanya tersebut dengan pendapatnya, "Pria tahu tidak bisa memiliki wanita idamannya, tapi mereka masih bisa melihat dan berfantasi tentangnya."

Tak hanya Vanya yang lajang, ketidaknyamanan serupa juga tak pelak menjangkiti kaum hawa yang telah memiliki pasangan. Tika, salah satunya. Ia pernah mendapati suaminya tengah asyik menikmati panasnya film "biru".

"Awalnya saya shock berat karena dia menyembunyikan file-file film itu. Namun, setelah agak lama, saya sadar, itu hal normal. Teman saya yang alim saja juga hobi nonton film begituan (blue film, red)."

Lalu, benarkah kebanyakan pria seperti itu? Terlempar komentar dari Toga menanggapi kaumnya yang menyukai film-film 'panas'. "Ini sih kata orang, penglihatan kan memang unsur sangat penting dalam seksualitas pria ya. Sementara bagi perempuan, sensualitas adalah perkara memejamkan mata. Hahaha."

Wanita juga suka

Ya, gairah pria memang mudah terstimulasi lewat rangsangan visual, sedang wanita butuh rangsangan emosional atau mental. Sementara, dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh BBC Radio 1 Newsbeat disebutkan, dari 1.000 responden usia 18-24 tahun, setengah dari mereka justru merasa takut jika terlalu banyak mengonsumsi video porno.

Rupanya tak hanya wanita yang jengah dan merasa malu menonton film biru, para pria juga dihinggapi perasaan yang sama. Lantas, menonton film porno secara sembunyi-sembunyi pun dipilih mereka sebagai kenikmatan tersendiri. Sensasinya lebih terasa karena berhasil memancing adrenalin terpacu deras mengalir kedalam tubuh mereka.

Ketakutan para pria-pria itu bukan tanpa bukti. Vanya mengungkapkan, agar tidak tertangkap suka menonton film biru, kawan-kawan prianya aman menyimpan koleksi file-file film ber-genre seks itu di folder berlapis pada memori komputer mereka. Bahkan, ada juga yang berani menyisipkannya pada file-file penting perusahaan.

Sementara, sebagian pria lain lebih suka menikmati film biru dengan cara memperkecil jendela tampilan video. Agar suara erangan dan desahan di film panas tersebut tak terdengar ke seluruh penjuru ruangan, para pria pun lebih memilih mengenakan headphone. "Ini lebih aman, disamping menjauhkan rekan-rekan kerja dari polusi suara ah uh ah uh," ungkap Mahendra, IT specialist di sebuah perusahaan swasta.

Fakta lain yang tak kalah mengejutkan dari penelitian oleh BBC Radio 1 Newsbeat tersebut terungkap, seorang remaja pria bisa menghabiskan dua jam setiap pekannya untuk menonton video porno. Sementara, wanita cukup menghabiskan waktu 15 menit setiap pekan untuk menonton video porno.

Meski tidak terlalu menikmati menonton video porno, wanita ternyata lebih menyukai film 'panas' yang memiliki alur cerita. "Perempuan banyak juga yang cukup suka dan menikmati film dengan adults content. Tergantung kemasan sih menurut saya. Kalau dikemas apik sih memang bisa jadi menarik. Tapi kalau cuma repetisi visual keluar-masuk-keluar gitu doang ya boseeeeeen!!!," ungkap Sabai blak-blakan.

Pendapat lain diungkap Candrakirana, "Gue terus terang nggak suka yang pure blue film, kayak eksploitasi tanpa purpose gitu. Beda seperti film 9 songs atau lie with me, masih ada ceritanya tuh."

Tumbuh dari masa kanak-kanak

Sementara, diungkap oleh Health24, aspek lain dari ketertarikan sebagian pria terhadap pornografi itu tumbuh dari masa kanak-kanaknya. Pada masa itu, anak laki-laki biasanya dilarang melihat majalah dewasa oleh orangtua, guru, dan masyarakat di lingkungannya.

"Anak laki-laki yang tengah mencari jati diri biasanya senang menantang dirinya. Bahkan, mereka melihat gambar porno sebelum mereka tahu bahwa mereka punya Mr.P (senjata mereka dalam bercinta, red). Tapi, mereka cukup tahu bahwa mereka tidak seharusnya melihat-lihat gambar porno itu," ungkap McIntosh. Karena itu, di masa pencarian jati diri inilah kebanyakan anak laki-laki rentan mengonsumsi pornografi.

Sementara, pendapat Heather Wood dari Portman Clinic mengatakan jika orang-orang yang menghabiskan waktu menonton video porno sebenarnya tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang. Oleh karena itu, untuk membunuh sepi dan menuntaskan gairah yang tidak sempat dilampiaskan, mereka pun lantas mencari surga dunia pada sebuah film biru.

Salam

Wednesday, July 14, 2010

Seks, Video dan Publisitas

Sebuah repost

Masih menghangat video intim pasangan 'mirip artis' itu bertebaran di jagad maya. Gambar hidup yang selayaknya disimpan untuk konsumsi pribadi malah laris manis dinikmati publik bak kacang rebus. Diunduh dan lalu disebarkan, dan kini dikomersilkan. Berita 'panas'nya bahkan masih menjadi trending topics di situs micro blogging, semacam Twitter dan Facebook.

Pelakon pria dan wanita utama di dalamnya ditengarai adalah pesohor negeri ini. Hebatnya, ditelisik lebih mendalam, sang pria dalam video intim itu dikabarkan memiliki lagi berpuluh video private-nya dengan sejumlah wanita, teman tidurnya. Lalu benarkah, si pria memiliki perilaku seks yang menyimpang?

Pakar seksologi, Dr. Boyke Dian Nugraha menilai orang yang membuat video porno diri sendiri termasuk dalam penyimpangan seksual, yaitu scopophilia. Scopophilia sendiri berasal dari bahasa Yunani, scopos, berarti melihat, dan philia yang bermakna kesenangan. "Jadi, mendapat kesenangan seksual dengan melihat objek erotis," jelas Boyke.

Penyimpangan seksual ini bisa dikaitkan dengan unsur narsisme, atau kecintaan berlebihan terhadap diri sendiri. Dari kacamata psikologi, perilaku narsis pada seks ini terpengaruh karena dorongan / kecenderungan untuk memamerkan bagian tubuhnya, atau yang akrab disebut exhibitionism. Pamer tubuh inilah yang menjadi salah satu upaya pelaku untuk membirahikan diri.

Seperti yang diungkap pada buku klasik Dictionary of Psychology (ed, Howard C. Warren), dalam kesehariannya, pelaku ekshibisionisme justru terlihat kentara pada kaum hawa, meski kecenderungan seperti itu tidak mereka sadari muncul di alam bawah sadarnya dan bersifat kompulsif atau sukar dihindari/ditolak.

Lalu, jika banyak wanita senang tanpa sadar membiarkan tubuhnya dinikmati mata pria yang seakan 'menelanjangi', maka kebanyakan pria pun lantas merasa terbirahi dengan menikmati dan memandang kemolekan tubuh lawan jenisnya. Hal inilah yang lalu memunculkan fenomena lain, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu scopophilia.

Dengan memahami dua kata kunci di atas, ekshibisionisme dan scopophilia, maka proses take and give pun telah berjalan. Ada pihak yang senang pamer, dan ada pihak yang gemar menikmati. Ya, hubungan mutualisme dalam seks itu telah terwujud. Namun, adakah hubungan mutualisme jika menilik kasus video 'panas' yang santer beredar saat ini?

Ya, tentu saja ada. Keberuntungan sekaligus kepuasan itu ada pada perekam gambar. Sebagai pelakon sekaligus pelaku scopophilia, dirinya merasa puas, karena inilah sarana tepat untuk membangun perasaan hebat dan percaya diri. Kepuasan yang menjadi obat manjur atas penyakit rendah diri yang pernah hinggap dalam diri pelaku.

Lantas, bagaimana dengan para 'korbannya'? Kesediaan para wanita dikorbankan (baca:direkam) tak lepas dari peran mereka yang ikut pula menikmati keintiman itu. Mereka turn on dan tersebutlah mengalami sexual addict, sebentuk perasaan ternikmati, terpuaskan bahkan terangsang, hingga akhirnya mereka tak kuasa menolak untuk 'dikorbankan'.

Sayang, pengorbanan mereka akhirnya justru malah membuat mereka buntung. Momen intim yang unforgetable itupun harus jatuh ke tangan yang salah, 'ketelanjangan' mereka dinikmati gratisan, digandakan dan lantas diperjualbelikan dengan harga yang sangat-sangat miring. Seks adalah hal yang sangat intim dan pribadi, namun kenyatannnya narsisme berbuah publisitas menjadikan seks tak lagi privasi. Kecanggihan teknologi telah membuat sebagian orang menuntaskan kenarsisan itu dengan cara yang salah. Lalu haruskah video tape dan kamera kita musnahkan saja?

Ya, kasus video sex 'mirip artis' yang beredar saat ini telah mengingatkan saya pada judul sebuah film "Sex, Lies and Videotape" Bahwa seks dalam video tape itu bukanlah sebuah kebohongan kepada publik, toh, video itu nyata-nyata sudah beredar cepat ke seantero negeri.

Jadi sekali lagi, memang menjadi hak sepenuhnya bagi Anda dan setiap pasangan manapun untuk mengabadikan setiap momen intimnya. Namun bijak kiranya jika Anda bersedia menahan diri, apapun alasannya. Karena sebuah hasrat hendaknya jangan terlalu dipenuhi, karena bisa berdampak buruk, menyesatkan.

Salam!

Monday, January 25, 2010

Kamu Seksi, Barra ;)


Barra Pattiradjawane membuat hati saya membara tak keruan. Stylenya yang macho dengan tattoo seksi di lengannya, perempuan mana sih yang tak terkinthil-kinthil dengan pesonanya yang memabukkan. Bukan saat dia begitu hebat di atas ranjang atau mencium lembut bibir wanitanya seperti dalam imaji saya, tapi saat dia memasak untuk wanita-wanitanya, dan para kaum hawa itu pun rela-rela saja meneriakkan namanya lantang ke udara.."Barra..oh..Barra".

Gaya memasak Barra saya suka. Sama sekali jauh dari kesan 'jaim'.
Gesturenya saat berkutat dengan bahan dan bumbu-bumbu memabukkan itu spontaneous dan Barra looks like enjoy it!. Tampang boleh saja sangar, brangasan, tapi justru itu yang membuat Barra makin terlihat seksi. Kerlingan mata Barra menggoda, mengajak penikmat demonya menyicip masakannya yang terasa seksi di lidah itu.

Bicara Barra memang tak ada habisnya, dia sukses membuat saya menghabiskan separuh hari ngerumpi seru bareng ibu-ibu muda itu di facebook kami. Barra yang lajang atau dia masuk dalam golongan guy, hmm..
i don't care!. Kehebatannya meramu banyak bahan dan bumbu menjadi masakan yang menggiurkan, itu sudahlah menjadi kepuasan bagi saya dan mungkin sebagian kaum hawa di luar sana.

Bagi saya, Barra mewakili pria yang mampu membuat hati saya tergetar. Bukan hanya pesonanya tapi juga karena kelihaiannya memasak.
It's so sexy for me. Mendapati juga pria saya memasak meski hanya omelet kornet atau meramukan tea kreamer kesukaan saya itu pun sudah sangat luar biasa.

Pria-pria seperti Barra atau suami saya tak pernah ragu mengambil peran wanitanya di dapur, tak canggung mereka bersentuhan dengan talenan, susruk, penggorengan atau pisau dapur, alat-alat yang jauh dari keseharian mereka. Sejenak mereka tinggalkan dunia otomotif dan techno untuk rela berpeluh keluh menikmati panasnya bara api,
and cooking with love.

Inilah pergeseran nilai-nilai budaya yang telah dan sedang terjadi. Peran perempuan tergantikan pria begitu juga sebaliknya. Wanita mengambil peran pria, sebagai pengambil keputusan maha penting dalam sebuah organisasi perusahaan dan pria bersedia masuk dapur, menggauli talenan, mengakrabi bumbu dapur, dan lalu menjadi
chef seksi yang digilai banyak perempuan. Melakukan hal yang tak biasa demi menaklukkan wanita..oohh so sweet!

Seperti juga saya, masyarakat kita masih mengganggap
patrilinear bahwa pria memasak itu hebat, dianggap terkait dengan sexily, gender, dan occupation. Sedang di luar negeri, pria memasak itu biasa saja karena pria-pria itu ingin menyalurkan kegemaran mereka meracik bumbu masak dan mengolah bahan.

Ahh..tapi memang benar adanya kok, pria yang bisa memasak itu memang hebat dan teramat seksi, dan Barra telah membuat saya memilihnya sebagi pria terseksi 2010 ;)

Monday, January 04, 2010

High Heels, si Seksi yang Menyeramkan

sebuah repost..

Donna berjalan seperti melambai diterpa angin, tubuh tinggi rampingnya terbalut sutra mahal. Betis indahnya bertumpu pada sepatu berhak tinggi lima senti dan berujung lancip yang mengundang keseksian. Anggunnya Donna. Ia terlihat makin menjulang seperti Monas di pusat Jakarta. Kilat matanya tersorot lampu, tajam seakan menantang para tamu yang hadir di acara pagelaran busana malam itu.

Ya, Donna dan stiletto, seperti juga perempuan lain di jagat ini yang menyukai sepatu berhak tinggi. Stilleto diburu dan dikoleksi agar passion dari peradaban fashion ini tak akan pernah jadi punah. Pun, Donna dan sebagian kaum hawa tak gentar takut meski sepatu bersol runcing tinggi itu ternyata justru menyeramkan.

Tak mereka sadari, high heels yang membantu kaki mereka terlihat jenjang panjang dan seksi itu telah memunculkan beragam efek hingga alarm warning di tubuh para perempuan itu berbunyi begitu keras. Ada semacam nyeri pada pinggang yang lalu dirasakan.

Pemakaian high heels saat duduk terlalu lama atau berdiri dengan menumpu tubuh pada satu kaki rupanya membuat tubuh mengalami salah posisi (mal position) sehingga timbullah nyeri. And see, bukan sebuah awal dari gejala penyakit ginjal atau batu karang, tetapi nyeri itu terbawa dari efek si sepatu cantik itu.

Bahkan dunia medis sepertinya 'emoh' berjalan beriringan dengan dunia fashion saat bicara tentang high heels. Jika sepatu hak tinggi bagi fashion adalah passion, maka bagi dunia medis, sepatu hak tinggi tak mendapatkan tempat yang layak, baiknya dibuang ke tempat sampah saja.

Jika ada yang mampir mengeluh kapalan (hammertoe) di tumit dan mendadak mengalami gejala Schizophrenia, para dokter itu pun langsung meminta pasiennya 'membuang' jauh-jauh high heels mereka dari daftar tetap fashion yang harus diikuti :D

Bisa jadi Donna dan sebagian kaum hawa itu lalu bergidik ngeri, pun saya, tapi ketakutan itu rupanya hanya sementara, karena studi yang dilakukan Dr Maria Cerruto, seorang ahli urology asal Italia menepis ketakutan mereka.
Studi yang dilakukannya pada 66 wanita usia 50 tahun ke bawah dan pengguna sepatu berhak dengan sudut 15 derajat dan tinggi 2 inci (5 cm), justru memiliki postur tubuh yang sama baiknya dengan mereka yang lebih suka memakai sepatu bersol rendah dan sedikitnya mereka menunjukkan aktivitas elektrik pada otot dasar panggul.
Dalam bahasa sederhana, aktivitas otot dasar panggul para pengguna sepatu hak tinggi yang berada dalam posisi optimal ditengarai mampu memperbaiki kekuatan dan kemampuan saat berkontraksi. Wow!

Sekedar informasi saja, otot dasar panggul adalah salah satu komponen penting pada tubuh wanita yang bisa memperbaiki performa dan kepuasan saat bercinta. Dan pemakaian high heels ternyata dipandang sang ahli Urology, Dr Cerruto sebagai jawaban untuk membantu melatih otot dasar panggul tersebut.

Padahal fakta yang pernah saya dapatkan bahwa elastisitas otot dasar panggul akan mengendur dan melemah usai melahirkan dan seiring bertambahnya usia. So, lalu sebegitu pentingkah sebuah sepatu hak tinggi mampu membantu otot dasar panggul bekerja baik menjawab banyak pertanyaan tentang ketidakpuasan performa 'intim' di atas tempat tidur?

Hmm, saya kok lebih percaya sebuah latihan rutin semacam olahraga lebih bisa diandalkan untuk membantu kerja semua organ tubuh bekerja dengan optimal ya? bukan pada sebuah sepatu entah bersol rendah atau tinggi, pun obat kuat apapun itu ;)

Hai temans, suka juga memakai sepatu hak tinggi, and are you feel so sexy? ;)

Saturday, January 02, 2010

pecandu film biru

sebuah repost..

Berada di dalam sarang penyamun bersama sekumpulan pria saat itu, membuat saya dihadapkan pada kondisi tak nyaman. Saya harus berbagi ruangan dengan pria-pria haus gairah. Dan dahaga di tengah siang yang dingin di dalam ruangan bersuhu 16 derajat itu mereka dapatkan pada sebuah tayangan sepasang manusia tengah telanjang.

Erangan menuju nikmat ke puncak orgasme menyesaki telinga. Terlihat meski sekelebat, pria-pria yang saya akrabi dalam keseharian di tim kerja tengah duduk tak nyaman. Geser sebentar ke kanan lalu ke kiri, mengangkat pantat, mencari posisi yang pas. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, yang tiba-tiba menyesak melesak membuat sesak celananya.

Mata memang menatap monitor, tapi otak saya rupanya sedang tak ingin sinkron dengan mata. Konsentrasi terpecah. Penasaran menggelitik hati, apa yang tengah mereka nikmati itu?, ingin mengintip, tapi rasa malu saya menahannya. Tampilan visual nan sensual sepasang manusia tengah intim rupanya berhasil memicu gairah mereka meledak-ledak.

Seorang perempuan dari kaum saya telanjang dalam film itu dan lantas menjadi objek pembangun hasrat. Gambar-gambar erotis nan dramatis sukses dihadirkan dalam otak mereka sebagai perangsang yang membangkitkan simpul syaraf hingga organ vital sang pria bergerak.

Ketidaknyamanan pada situasi itu rupanya perlahan membawa saya belajar, memahami mereka. Bersentuhan dengan dunia pria membawa saya tahu apa yang pria-pria itu suka, mau dan ingin. Ya, layaknya anak kecil girang dengan balon dan permen di tangannya, pria pun sama, selalu akan senang dan riang jika disuguhi sesuatu serupa seks. Sang pemuja seks sejati, saya sematkan di dada pria-pria itu. Bahkan pada pria saya, sekalipun.

Dan ternyata tak hanya nafsu dan seks yang mengelilingi otak pria, bahkan mereka bersedia pula bermain ego demi memenangkan sebuah hadiah berwujud cinta, wanita, harta dan kuasa. Inilah yang lalu membuat pria selalu tampil begitu hebat dan wibawa.
Pria-pria di tengah atmosfer kerja saya sudahlah begitu. Biar! Toh saya telah menjadi kebal dengan banyak perilaku yang mereka munculkan. Menonton film porno bersama pria-pria itu kini tak lagi membuat saya merasa tak nyaman. Menjadi seperti biasa saja, tak lagi jengah, resah jika pria-pria itu lalu menelanjangi saya dalam pikiran mereka. Tak bisa dicegah, kendali otak, juga rasa hanya pria-pria itulah yang bisa menguasainya.

Wajar yang normal, saya nilai seperti itu. Film biru sampai kapanpun akan selalu menjadi dunia yang diakrabi pria yang teramat asik untuk disinggahi, karena disana diletakkan kesenangan. Peduli setan dengan dosa dan neraka, Tuhan lebih berhak memutuskannya.

Surga yang kekal abadi mungkin tak akan menerima pria-pria pecandu film biru, tapi setidaknya pria-pria itu telah menemukan sebuah surga dunia meski sementara saja. Ya, pada film biru, sarana relaksasi mengendorkan syaraf otak yang tegang dan mengalihkan ketegangan itu pada syaraf yang lain ;)

Friday, November 06, 2009

Merasa Seksikah Kamu?..

Sebuah repost

Tanyakan itu jauh ke dalam hatimu, saat diri berpatut di depan cermin. Tataplah lekat-lekat raga yang membungkus jiwamu. Kamu seksi dan cantik. Meski kadang kamu mengingkari itu.

Saya merasa seksi saat terlihat perut saya makin membuncit karena mengandung. Tak lagi menjadi ketakutan saya mengharap raga yang dulu langing singset itu bisa kembali ke bentuk semula. Dengan kehamilan yang saya jalani justru menjadikan saya sebagai wanita yang seksi seutuhnya *menurut saya loh ya*.

Bagaimana tidak?. Payudara yang dulu mungil itu makin hari makin membesar dan mengencang dengan sendirinya tanpa perlu saya repot melakukan operasi pembesaran payudara. Pantat yang dulu, aah..tak pernah saya banggakan malah terlihat membesar, padat dengan sendirinya.

Dan setelah anak malaikat terlahir ke dunia dan itu artinya saya telah menjalani proses 'turun mesin', sisa-sisa kehamilan itu masih terlihat. Perut berkerut, tubuh, pipi, lengan, betis pun menggemuk. Keputusan memberikan yang terbaik dengan memberikan si kecil ASI pada waktu itu malah membuat saya terbantu untuk kembali merasa seksi. Terselip rasa bangga saat suami menikmati ritual kala saya menyusui si kecil.

.."Kamu seksi.." dia bisikkan dengan halus kalimat itu di telinga saya.

Wow!..jadi tak perlulah saya bermake-up tebal menutupi kekurangan pada wajah saya atau liposuction dimana-mana untuk bisa mati-matian tampil cantik, dong. Ya, karena ternyata tampilan di luar itu pada akhirnya akan mengering, lalu mengusut dan kemudian binasa seiring jaman dimakan waktu.

Modal untuk menjadi seksi ternyata hanya cukup menyakini pada diri sendiri bahwa "saya seksi". Dengan membangun rasa nyaman terhadap diri sendiri, mensyukuri dan menikmati hidup. Itu saja.

Hohoho..ternyata menjadi seksi tak perlu butuh ribet ya?..;)