Showing posts with label shortstory. Show all posts
Showing posts with label shortstory. Show all posts

Monday, February 02, 2015

cemburu

perempuan dan laki-laki setengah baya yang duduk di seberang meja kafe itu saling tatap. laki-laki itu sengaja mengajak perempuannya ke sana. katanya, ada es krim favorit berdua yang bisa mereka habiskan sama-sama sambil bercanda.

tatapan mata perempuan itu seakan merajuk, ketika laki-lakinya menggoda, urung menyuapkan sendok ketiga banana split yang meleleh di atas piring mereka.

ya, ya, si perempuan berbaju terusan polkadot itu memang punya senyum yang menggemaskan.

"aku tak memiliki senyum semanis itu, pantas Hans selalu kangen dengan senyum perempuannya ini," Mita membatin.

masih Mita memperhatikan keduanya dari balik jendela butik yang berhadapan dengan kafe itu. tiga tahun sudah perempuan itu hadir di antara mereka. laki-laki itu suamiku. Hans selalu tahu bagaimana membuat perempuannya itu nyaman dan merasa tenang. dan baru ini Mita melihat senyum Hans begitu sumringah. lepas, natural.

"aku rela perempuan itu mencuri hari-hari suamiku. aku rela suamiku lebih memilih tidur bersamanya. aku relakan juga bahu suamiku kelak akan menjadi sandarannya. saat perempuan itu mulai mengerti cinta, dan dia punya suamiku yang menguatkannya."

"aku cemburu, tapi rasanya ini membahagiakan. suatu saat ketika cinta ini aku lepaskan, mereka pasti akan bisa saling menjaga." Mita tersenyum, berjalan tenang menghampiri keduanya.

"sudah makan es krimnya?, yuk kita pulang," ajak Mita.

Kenes memegang tangan Hans, dan memberi kode agar Hans menggandeng Mita.

"i'm so tired, i wanna go home, mommy..." Kenes manja pada Mita.

ketiganya berlalu meninggalkan kafe, meninggalkan senja. menyisakan harap Mita pada sepiring banana split, dan waktu yang bersedia memberi Hans dan Kenes ruang untuk kembali bercanda.

"karena aku tak akan pernah selamanya ada di antara kalian..."

Monday, November 10, 2014

ibu

bu, senang rasanya bisa menggenggam tangan liatmu.

sungguh, dulu aku membayangkan ibu sedingin gunung es yang enggan mencair. tapi pagi ini adalah bukti. tak ada sekat usia di antara kita.

"apa aku seperti layaknya teman bagimu, bu?" padahal kita baru berbincang sepuluh menit yang lalu.

garis wajahmu menyirat lelah dan tanya. ada cerita dan rahasia yang disimpannya sendiri dan ia membaginya denganku. "bagi, bu...meski itu sebuah luka atau mungkin kisah bahagia putramu dan pernikahannya"

"sudah sebulan ini saya sering tidak bisa tidur, mbak. rumah tangga anak saya diganggu wanita jalang, mungkin mbak ada kenalan orang pintar yang bisa bantu saya?," ibu bertanya membagi rahasia.

Wita menyembunyikan lipat wajah nelangsanya, "ketulusanmu mungkin tak akan pernah jadi penawarnya. terima saja,  kamulah racun itu, Wit" batinnya perih.

menunggu pelanggan

suntuk!, Rita merutuk. sudah sebulan ini dia kena piket malam dan harus menunggu pelanggan yang diharapkannya datang, ternyata tak juga ada sampai kedai tutup.

tapi wajah Rita mendadak cerah, seorang tamu pria datang. parlente, usia matang 30 tahunan.

"selamat malam, pak. mau pesan apa?" suara Rita disetel semanis dan seramah mungkin.

"saya kesini nyari waitress yang namanya Rita. mbak kenal?," Rita yang ditanya mendadak malu, sedikit deg-degan. "pria tampan yang belum aku kenal ini mencariku?" batinnnya.

"saya Rita," buru-buru disodorkannya tangannya menjabat tangan si pria tampan yang bertanya.

"saya kesini diminta sama bosnya mbak,"

"ada apa, ya?" Rita penasaran

"mbak ikut saya saja dulu, ini penting."

tangan Rita dingin memegangi ponselnya yang sejam lalu mati total. dalam hening di dalam mobil, si pria tampan membuka identitas "ponsel mbak ngga aktif. ini saya diutus bosnya mbak, nganter mbak ke rumah sakit. ibuknya mbak kena serangan jantung"

"apaaaa???"


# alamaaaaakkk!! ajakan si pria tampan sukses bikin Rita bener-bener pingsan
# ini fiksi mini, entah yang keberapa kali, tapi aku kangen menggaulinya lagi...hihihi

Monday, July 27, 2009

malaikat pendosa



tak perlu lipstik merah basah menggoda, tak perlu raga terbungkus ketat sutra, tak perlu wajah sendu memikat, tak perlu desah napas merayu. cukup butuh berani membujuk iblis keluar, bermain-main dengan api, asal tak sampai terbakar. cukup butuh lecutan, semacam imaji liar, menjadi nakal, sebentar saja. tapi, ingatkan dia, di perbatasan senja malaikat pendosa harus kembali, ke semesta penuh damai, kembali memeluk anak malaikat, memeluk cinta ternoda dosa..

Monday, July 13, 2009

dua iblis liberal

ingat pesanku, kita ini dua iblis liberal
hanya cari kesenangan semata
'aku selalu mengingatnya, dear'

dan sebegitu kuatnya kau mempengaruhiku, kau berhasil..
aku mulai menikmati menjadi iblis yang kau mau..
tapi setelah kita wujudkan bersama, kesenangan itu..
aku merasa, kau tak sebanding dengan dia..
dia tetap yang sempurna, teramat sempurna malah..
bahkan setelah pengkhianatan itu, ku makin mencintainya..
maaf iblisku, ternyata benar, kau hanya kesenangan bagiku
karena setelah ini, aku tak akan mencarimu lagi..
byee..

from
iblis betina

jauh di dasar hati terdalamnya,
iblis jantan tak kuasa menahan cemburu, lidahnya kelu,
rasa itu mulai tumbuh,
rasa cinta pada si iblis betina..

Saturday, May 23, 2009

rasa yang tertunda

tujuh tahun berlalu sudah..

kami dipertemukan lagi. seperti yang kau bilang, mengenangku membangkitkan gairahmu akan aku.

"are you sure, honey?"
"ya..i
'm sure"
"anggap saja kita bermuka dua, berkepribadian ganda"
"kau tahu sayang, aku selalu memujamu dari dulu, dan fantasiku tentangmu selalu hadir di puncak kenikmatan..
toh tak akan ada yang berkurang porsinya di masing-masing kita
"
"aku tetap sayang istriku, begitu juga sebaliknya kamu"
"hmm..masuk akal juga sih, tapi sepertinya akan terasa berat buatku.."
"karena ternyata aku mulai menyayangimu, babe"
"rasa yang dulu tertunda.."


*kangen bikin shortstory lagi :)

Tuesday, January 09, 2007

emosi

'bodoh!!'
matanya menyala merah, tangannya mengepal, segala sumpah serapah keluar dari mulutnya
'huh! payah!'
rambutnyayang memutih terlihat acak acakan, kacau, berantakan
'pukul!!'
'tonjok wajahnya!!'
'beri dia pelajaran!!'
seakan akan si bapak tidak mau tahu dengan kondisi anaknya saat itu
hantaman di ulu hati merobohkan sang jagoan...
dan akhirnya tewas

---

'bego!!!'
emosinya sedang naik, dan mungkin sebentar lagi bakal meledak lagi
teriakannya nyaring membuat semua orang di ruangan itu kesal dan merasa terganggu
tak ada yang salah dan juga tak ada yang benar
emosi si bapak terpancing lagi gara gara melihat sang jagoan kalah di pertandingan tinju yang diputar di ruang tunggu sebuah rumah sakit jiwa


Saturday, December 16, 2006

5 tahun yang lalu..

'Bundaaaa'

bocah perempuan 5 tahun itu berlari menghampiri Fatia
'bunda, ayo kita pulang!'..Mutia berlari kecil menyambut Fatia yang muncul dari kejauhan

Fatia melangkah menunduk tergesa, melewati salah satu meja di tengah resto itu,

sepasang mata dari kejauhan menatap Fatia yang berlalu...mata Faisal

5 tahun yang lalu,
Fatia meraung tak bersedia menggugurkan kandungannya, menangis memohon untuk dinikahi. Janin di dalam perutnya semakin membesar sedang dirinya bimbang dan memilih menjadi pengecut, karena telah berkeluarga saat itu.

5 tahun yang lalu,
Faisal meninggalkan Fatia dan Mutia..tanpa cinta, tanpa kasih sayang

'Mutia, maafkan Ayah..'


Friday, November 24, 2006

bahasa hati

"Luna..."

Feree mencoba menahan degup jantungnya yang terus berdetak tak keruan, nama Luna terus berputar putar di otaknya..

"aku segera ingin menyentuhmu..seperti janjiku setelah kita bertemu nanti"

Ferre menunggu Luna disini, di pojok kafe.

Luna si nona manis yang membuatnya hari harinya terasa begitu indah

"itu dia nona manisku.."

Ferre mencoba tenang

Luna terlihat mencari cari sosok Ferre yang memperhatikannya dari pojok kafe

dan akhirnya Luna menghampiri Ferre..menyunggingkan senyum manisnya untuknya

jarak mereka sekarang tak lagi ribuan mil jauhnya, begitu dekat hingga Ferre bisa menatap mata indah Luna

hai nona manisku..

ferre memberi isyarat lewat gerakan tangannya bahwa dia bahagia bertemu dengan Luna

luna pun membalas bahasa isyarat Ferre, bahwa dia juga bahagia bertemu dengan pria tampannya

Ferre dan luna, dua anak manusia dengan keterbatasan tak bisa mendengar dan bicara,
rindu di ruang hati mengalahkan segala keterbatasan dan bahasa hati yang menjembatani kerinduan mereka






Saturday, November 11, 2006

badai Dicky di hati Dara

Dara berjanji bertemu Dicky -- si pria semu yang membuat hatinya kebat kebit, pria yang sudah membuat hatinya bercabang dan tentu saja 'perselingkuhan maya' ini tak diketahui tunangan Dara - Jaka, pria yang akan dinikahinya tahun depan.

"kalau seandainya kita tak jadi bertemu..." Dara meragu

"kita pasti bertemu..dan itu harus" Dicky memantapkan hati untuk bertemu dengan Dara

si pria semu telah mengguncang hati Dara, hingga kapalnya yang sudah berlayar dan akan sampai ke tujuan terombang ambing tak tentu arahnya.

---

"knapa harus bertemu kalau hanya untuk berpisah lagi?"

"aku sangat tahu..kamu hanya mencintai Meta"

"dan aku juga tak mungkin membelokkan hati yang sudah tertuju arahnya.."

"kita saling menggantung..iya kan Dick?"..Dara mencoba menanyakan pada perasaannya sendiri..

kata hati dan perasaannya sedang bergolak.. Dara mencoba berlari menjauh tapi Dicky membuatnya terhempas lagi dalam perasaan bercabang dan bersalah.

"aku sedang melawan badai itu..tapi aku gagal lagi"

"badainya terlalu kuat, kapalku pasti akan karam.." Dara kembali menatap nanar monitor komputernya dan mendapati dick menyapanya di YM

"jadi kapan nih mo kesini?

"awal desember aku berangkat ke sana..aku bakal cuti"

"kita harus bertemu ya Ra".

"iyah.." jawaban Dara terasa mengambang ragu

---

kesempatan itu tiba..menjejakkan kaki di kota sumpek.

"aku sudah sampai Dick"..raut wajah Dara terlihat tenang, hatinya telah mantap

"selangkah lebih dekat denganmu tapi aku akan menjauh segera.."

Kini Dara bisa melihat dengan jelas si pria semu dari luar jendela cafe itu,

hanya bisa melihatnya dan tak mungkin bisa menyentuhnya


"maaf Dick..aku harus menyelamatkan kapalku..jaga Meta baik baik"





*hanya imaji seorang Maya..lagi 'mellow' sih ya..hehehe ;)

Friday, October 13, 2006

senja di peraduan terakhir

senja itu jam 5 sore

sudah letih hariku seharian ini. ingin cepat menghempaskan diri di tumpukan bantal besar di peraduanku..

"ah itu dia angkot yang kutunggu.." gumamku melambaikan tangan menyetop angkot yang akan mengantarku pulang

"yah..sudah penuh sesak!!"

"masih ada tempat kok mba'" si sopir mencoba meyakinkan aku yang ragu untuk naik

para penumpang yang lebih dulu naik langsung bergeser merapatkan diri memberi aku tempat untuk duduk..

"ah, akhirnya ada satu tempat duduk dekat pintu..lumayan strategis. bisa langsung turun nih!"

angkot melaju setengah kencang..

kupandangi wajah penumpang di angkot itu satu persatu

"ada yang berbeda dari mereka.." pikiranku mulai tak tenang

"apaa ituu.." tenggorokanku tercekat dan tak mampu mengeluarkan kata kata

roh para penumpang angkot itu berhamburan..seperti kapas terhempas keluar angkot

"teng..teng..teng..teng* suara peringatan tanda kereta api akan segera lewat

si sopir tak menghiraukan peringatan itu..

dan

"baaammmm.."

"aku terhempas begitu ringan seperti kapas, seperti mereka ..para penumpang itu"

terhempas ke peraduan terakhirku..

Wednesday, October 04, 2006

karma

"Tuhan, cobaan apa lagi yang kau berikan padaku.."
Martha terisak di sudut kamar meraba kedua matanya yang diperban


--

"kenapa kau tega melakukan ini padaku Ron.."
Roni mencampakannya, demi seorang wanita bernama saskia
mobil melaju kencang, Martha terus menangis, mengutuki betapa bodoh dirinya, sampai kemudian kecelakaan di tengah hujan deras itupun terjadi..


--

"mbak Martha, saya sudah menemukan donor mata yang cocok untuk mbak"
"lakukan sekarang juga dok, saya ingin bisa melihat lagi"

--

operasi berjalan lancar dan perban mata Martha pun akhirnya dibuka
"aaakuuu bisa melihat lagii.." lirih Martha bahagia

--


di pemakaman umum di pinggiran jakarta
"Saskia, maafkan aku.."
"aku tak bisa menjagamu di terakhir hidupmu."
Roni berdiri di makam Saskia yang masih basah


Saskia yang tewas tertabrak mobil Martha beberapa malam lalu...

Friday, September 22, 2006

dilabrak!!

o8158970XX
mitha memencet tombol tuts hapenya


"halou.."


suara diseberang sana..


"mas Irwan, kita jadi hangout malem ini kan?"

"jemput aku jam 7 ya mas.."


--


mitha berpatut diri di depan cermin..

semprot sana sini..semrbak harum parfum memenuhi seisi ruangan siap memabukkan sang kekasih hati

lipstik merah merona dipulaskan ke bibirnya yang memang seksi, siap melumat bibir sang pacar nantinya


"tin..tin..tin!!" suara klakson mobil Irwan berhenti di depan rumah


mitha melihat keluar dari jendela kamarnya..


Irwan turun dari mobil, diikuti wanita setengah baya, seusia mamanya


"ah ya..pasti mas Irwan mo ngenalin aku ke mamanya nih" girang hati mia, berasa sebentar lagi mia akan punya mertua yang akan menyayangi dan memanjakannya seperti anaknya sendiri


"hai mas.." mitha mencium lembut pipi kanan sang kekasih..


irwan salah tingkah, wanita setengah baya itupun mendelik sadis


"kenalkan mit..ini istriku.."


alamak!!

Friday, September 15, 2006

ular ular dalam mimpi..

aku berjalan berjingkat jingkat

ular ular berbisa mengelilingi kakiku

seekor ular derik melingkarkan tubuh bersisiknya ke pergelangan kakiku

"ahhhhh..tolongggggg!!"

"bantu aku melepaskan ular ini..tolongggg!!"

teriakanku tak terdengar siapapun, aku harus melepaskannya sendiri.."berhasil!"

aku kembali berjingkat..mencoba waspada. mata mencoba awas ke segala arah

depan, belakang, atas dan bawah.

sekelebat bayangan membuatku terhentak kaget

ular phyton raksasa mendesis turun dari atap rumah menghampiriku

aku terpojok. ular ular lainpun ikut menyerbu

"aaaaa......."

---
aku terbangun..keringat dingin membasahi tubuhku

"hosh hosh hosh..ternyata cuman mimpi" gumamku sambil mengatur napas yang menderu ketakutan

"aku lupa berdoa lagi.."

aku bangun dari tempat tidurku..

---

dan dari bawah tempat tidur ular ular itu datang tak hanya dalam mimpi...

Wednesday, September 13, 2006

tertipu..(kasihan deh kamu!!)

"oo..jadi begini ya kerjaanmu tiap harinya mas!"
pria yang lagi asik ngobrol dengan teman wanitanya di pojok ruangan cafe itu kebingungan
"katanya cuman aku yang kamu cinta"
"cuman aku yang kamu sayang"
"nyatanya gomball!!"
pria itu masih kebingungan, dan engga punya kesempatan sama sekali untuk membela diri
"apan apan nih!"
"siapa kamu?..aku ga kenal kamu!"
mira semakin meninggikan volume suaranya
"halah!!, ga usah pura pura boong deh!"
wanita yang bersama si pria itupun ikutan marah
"siapa perempuan ini mas?"
"jadi bener ini pacarmu ya?"
pria itu tambah bingung
"kita putus saja!"
wanita yang bersama pria itu berdiri dan meninggalkan si pria yang terkaget kaget dan berusaha mengejarnya
--
di tempat yang berbeda..
"makasih ya mbak, tadi mbak Mira udah mbantuin saya.."
suara Mira di seberang sana..
"okeh deh, uangnya transfer aja ke rekeningku"
si wanita yang bersama pria tadi menutup telpon dan menghampiri mobil jaguar yang terparkir menunggunya di seberang jalan.
"hai sayang, maaf ya bikin kamu kelamaan nunggu.."

Friday, September 08, 2006

aku sayang om..

Imelda mendekap fotonya - pria nan gagah dan berwajah tampan itu dan membawa serta ke dalam mimpi indahnya malam itu

--

"imel, ingat nak!, kamu tidak boleh mencintai dia, umurmu masih sangat belia untuk mengenal arti kata cinta"

"imel sayang dia, Ma..!!"

"cuma dia yang mengerti Imel!!"

--

*di pantai kala senja..Imel duduk bersebelahan dengan pria sejatinya menikmati udara pantai senja itu. Imel menatap dalam ke mata prianya yang teduh, seakan akan Imel tak ingin kehilangan mata itu, mata yang selalu memberinya kehangatan dan perlindungan bagi dirinya yang tak pernah merasakan kehadiran seorang ayah.

"Imel, ingin terus berada di sampingmu..Imel tak peduli apa kata orang" bisik hati imel

"Imel sayang om.." Imel menggamit lengan prianya dan kembali menatap senja sore itu..


*judulnya mirip ama "i love you, om", tapi swear aku blom nonton apalagi baca referensi filemnya..hehehe. Jadi kalo ada kesamaan isi cerita, itu mungki kebetulan aja =)

Tuesday, September 05, 2006

.......

Mia, kekasih Romy adalah wanita yang setia. Sifat dan perilaku Mia yang halus membuat Romy jatuh cinta. Mia dan Romy yang telah 5 tahun berhubungan pun merencanakan untuk menikah.

Selama menjalin hubungan, tak pernah sekalipun Romy merasa dikhianati apalagi sosok Mia yang pendiam dan lugu juga tak neko neko, membuat Romy yakin Mia adalah wanita pilihan hatinya.

Hari itu, Romy mengajak Mia makan siang bersama untuk merayakan ulang tahun Mia yang ke 25, bersamaan dengan momen itu Romy pun berniat melamar Mia dan cincin bertahta berlianpun sudah dipersiapkan Romy jauh jauh hari sebelumnya.

Romy menjemput Mia di kantornya, kebetulan Mia adalah teman sekantor Bram teman kuliahnya dulu di Aussie. Sekalian menjemput Mia, Romy juga ingin bertemu dengan Bram untuk menyampaikan kabar gembira rencana pernikahannya dengan Mia.

"tok..tok..tok" suara pintu ruangan Bram di ketuk dari luar

lama tak ada jawaban dari dalam, Romy memutuskan untuk langsung masuk, siapa tahu Bram sedang sibuk bekerja sehingga tak mendengar ketukan di pintu ruangannya.

bagaikan disambar petir Romy melihat Bram mendekap tubuh indah milik Mia. Bram mencium bibir Mia penuh hasrat. Hati Romy hancur berkeping keping melihat kenyataan bahwa kekasih sekaligus sahabatnya mengkhianatinya, menusuknya dari belakang.

Terlihat di meja tamu sebilah pisau buah tergeletak di piring, Romy tanpa ba bi bu mengambil pisau itu. Romy melangah mendekati keduanya yang tak menyadari kehadirannya. Sebilah pisau diacungkan ke atas dan "jlebb..!!" kemudian terdengar teriakan histeris dari dalam ruangan Bram...

Jenasah yang berlumuran darah itu dibawa menuju rumah sakit untuk di visum..Mia menangis di pojokan ruangan sambil menatap nanar darah di telapak tangannya, darah Romy yang baru saja bunuh diri karena sakit hati.


*karena binun mau dikasih judul apa, aku mohon bantuan temen temen untuk kasih judul short story ku ini..tengkiu ya :)