Friday, November 06, 2009

Pelukis Langit yang Terhebat

Sebuah repost

Message offline itu muncul beberapa waktu lalu, pesan tentang keikhlasan Bara melepas Lana kembali ke pelukan Ferre, superman-nya..

Kepakan sayap Lana ternyata tak cukup kuat membuatnya terbang lebih tinggi, mengikuti Ferre. Sayap Lana patah satu, dan dia meratapi kehampaannya..tertinggal sangat jauh , dan Lana hanya bisa menatap Ferre menghilang menembus awan.

Dalam sendirinya, kemudian Lana menatap langit biru..just Blue. Birunya menghangatkan, sama seperti Bara..

Ingin Lana adalah melukiskan langit biru yang ditatapnya itu dengan sebentuk pelangi. Lalu dimanakah Lana harus meminjam crayon warna-warni, sedang ia tak membawa apapun untuk dibawanya pergi menuju langit? .. Teringat Lana pada Bara.

Ah yaa..Bara..

Lana harus balik ke bumi, Bara pasti mau meminjamkan crayon untuknya.

Ya, Lana ingin kembali melukis langit pada sebuah senja,dan Bara adalah partner Lana, pelukis langit yang terhebat.

Lana pun ingin mengajak Bara, sekali lagi, menertawakan hasil lukisan mereka, bercerita kembali tentang kegilaan-kegilaan mereka..bukan untuk membuat langit dipenuhi polusi karena ulah mereka, tapi hanya ingin membuat langit biru mereka sedikit lebih berwarna

Labels: , , ,

my-a at 3:17 PM

1comments

Pizza dan Pramunikmat, Sampah yang 'Berkelas'


Sebuah repost

Pizza. Siapa sih yang tak suka? Saya Pizza Lover!. Meski dibilang tak menyehatkan bagi raga, tapi penikmatnya *termasuk saya* justru makin banyak. Pizza terbilang cemilan murmer *baca = murah meriah*, tapi karena dikemas mewah, junk food macam ini di Indonesia malah dipandang mewah dan mahal.

Pernah disuatu waktu saya kencan berdua dengan suami selepas pulang bekerja. Penat dan lelah tentu saja membuat kami lapar. Kami buas dan sedang ingin sekali menyantap hangatnya Pizza tersaji diatas piring kami. Pizza dengan toping daging asap, paprika, keju parut dan saus sambal, merah nan menggairahkan, dilengkapi pinggiran pizza terisi lelehan keju gurih yang menggoda. Saya nikmati honey lemon tea dan suami menikmati pesanannya, segelas besar coca cola. Penawar dahaga kami di sore itu.

Tiba waktu menyantap nikmat dan hangatnya Pizza, saya malah bingung dihadapkan pada berderet-deret sendok dan garpu yang tersaji di atas meja kami.

"Ah..sekelas pizza ternyata bisa juga bikin penikmatnya jadi ribet ya?"

Lalu terbersit pertanyaan di benak saya,

"Apa karena resto Pizza ini begitu mewah dan istimewa jadi penyajian Pizza haruslah mengikuti standar table manner?"

Tak peduli table manner, kami lapar dan butuh dipuaskan dengan sepotong pizza dihadapan kami saat itu. Dobrak saja kungkungan itu. Meski kami penikmatnya sejati, tak perlulah Pizza diperlakukan istimewa. Makan saja sepotong lalu sepotong lagi, sampai perut benar-benar menolaknya. Tak perlu piring, apalagi garpu dan pisau. Tak perlu juga jijik, saus yang menempel di sela jari-jemari itu jilati saja *asal sudah mencuci tangan loh ya*. Menjilat makanan seperti ini justru di-sunnah-kan di agama saya.

Sambil menikmati sepotong demi sepotong Pizza yang siap tandas di dalam perut, saya berimaji, mengibaratkan Pizza yang saya nikmati ini layaknya seorang pramunikmat. Meski dianggap 'sampah masyarakat' keberadaannnya mampu menembus kalangan 'high class'. Tak menyehatkan jiwa sih, tapi bisa bikin bugar raga. Ia dikemas mewah dan 'mahal'. Jika ingin mencicipinya, perlulah merogoh kocek lebih dalam.

Saat akan menikmati raganya, ada semacam standar dan perlu pakai ribet yang harus dijalani. Penikmat mesti pakai kondom, dan penikmat tak boleh ejakulasi di mulutnya.

Kata si pramunikmat "it's disgusting!".

"Apa karena kamu merasa mahal dan istimewa, lalu kamu minta saya perlakukan sama?, Saya sudah bayar kamu mahal, saya berhak atas kamu, saya lapar dan butuh dipuaskan".

Tak peduli standar-standar itu, si penikmat tubuhnya lakukan apa saja sesuka yang dia mau pada si pramunikmat. Menyantap tubuh indahnya. Menikmati setiap jengkal demi jengkal tubuhnya seperti sedang menikmati sepotong pizza. Penawar lapar dan dahaga yang menggoda.

Dan di tengah resto yang mewah itu, di suatu senja beberapa waktu lalu, saya nikmati saja sepenuhnya dua 'sampah' yang sangat 'berkelas' itu, sepotong Pizza dan imaji saya tentang si pramunikmat ;)

Labels: , , , ,

my-a at 3:12 PM

0comments

Penikmat Teh yang Menikmati Hidup

Sebuah repost

"Mau teh atau kopi?,"..Bukan pertanyaan sulit semacam pertanyaan "ingin hidup atau mati saja?,"..hahaha. Ya, tentunya saya akan pilih teh karena masih ingin terus bisa menikmatinya sepanjang sisa usia saya yang entah sampai kapan.

Sorry to say nih, saya bukan penikmat apalagi penggila kopi. Kecuali kopi made in Excelso yang tak bikin saya mual, hihihi. Aaah..perut saya memang suka jual mahal, gengsi dan menolak mentah minum kopi tubruk. :D

Bagi saya, Pisgorcok (pisang goreng coklat) atau suguhan Rondo Royal selalu saja asik dinikmati sepaket dengan segelas besar teh nasgitel *panas, legi, kentel*. Suguhan di sore hari sambil menikmati senja 'angslup' di balik bukit. Surga dunia benar-benar milik saya.

Penikmat teh macam saya ini selalu mengandalkan teh untuk membuat lebih rileks tubuh dan pikiran ketika dihadapkan pada setumpuk deadline. Teh menenangkan jiwa, juga menghangatkan raga. Saat aroma teh yang harum itu terhirup, ada kelegaan yang menjalar ke dalam tubuh.

Dari pinggiran gelas itu, seruput teh legi *manis* yang masih memanas, sedikit kental tak apa, justru disitulah letak nikmatnya. Makin pekat dan kentel *baca: kental* berarti teh yang di 'cong' berhasil menarik selera lidah saya mengecap nikmatnya.

Teh tak hanya mampu menyuguhkan rasa tawar atau manis saja kok, bahkan teh bersedia dimix dengan apapun untuk memanjakan lidah penikmatnya. Milk tea, ginger tea, vanilla tea, rose tea, lemon tea, bahkan teh dengan kreamer pun hmmm..nikmato! *khususnya tea kreamer made ini suami* :D

Saya mengibaratkan hidup ini seperti sedang menikmati segelas teh, kadang menikmati tawarnya dan terkadang juga mengecap manisnya. Menjadi lebih berwarna hidup ini manakala saya bersedia mencampurkan ke dalam teh saya berbagai macam rasa untuk dimix.

Ada masam yang dikecap semasam menikmati lemon tea. Ada segar, sesegar mereguk nikmatnya fruit tea. Ada hangat seperti sebuah pelukan kala menikmati ginger tea. Ada gairah, kala mengecap nikmatnya milk tea. Sebuah suguhan menggemaskan, perpaduan pas kental yang manis.

Ya, bahkan filosofi teh memberi banyak pemahaman pada saya dalam menjalani hidup. Ritual menuangkan teh pada sebuah acara perjamuan di Jepang mengajarkan saya memberikan yang terbaik bagi orang lain.

Saat menuang teh, harus dilakukan itu untuk diri sendiri dulu. Terlihat janggal, aneh dan egois sih, tapi memang seperti itulah pelayanan yang sebenarnya.

Karena dalam sebuah teko teh, kualitas cairan teh di lapisan atas tak sebaik teh yang berada di bagian bawah. Dengan menuang teh terlebih dulu, itu artinya kita memberikan teh yang terbaik untuk tamu.

Pun, ritual menuang teh ini memberi saya pelajaran betapa pentingnya untuk bersikap sabar.

Bahwa saat teh yang telah dituangkan itu tidak lantas kita boleh meminumnya seketika. Ada kesabaran yang harus kita tunjukkan, yaitu menunggu meminum teh kita setelah tamu yang lain memperoleh tehnya masing-masing.

Sebuah pelajaran yang simpel tapi sangat mengena.

Sambil mengetik postingan ini, di pojokan kubikel, ditemani segelas panas teh Vanilla, saya menghangatkan tubuh yang terserang dingin 16 derajat.

Sudahkah kau nikmati teh *hidup* mu hari ini, temans?

Labels:

my-a at 2:52 PM

0comments