Saturday, August 01, 2015

cinta ada apanya?

menyukai saja memang lebih mudah, tapi merawat benih suka itu menjadi cinta bisa lebih rumit dari matematika. ada yang kurang (dari pasangan) tapi sukar diterima. adapula yang lebih, tapi ternyata itu saja belum cukup. ada yang cinta buta, menolak bicara logika karena kalah telak oleh rasa .

lupakan sejenak romansa saat cinta hadir berkesan lewat mata saat saling tatap, debar hati ketika wajahnya selibas nampak meski dari kejauhan, atau sehangat genggaman tangan dan pelukan hangatnya saat hujan menderas di depan teras rumahnya, semasa pacaran dulu.

cinta bukan pula patung abadi yang sesekali kamu tengok, hanya untuk sekadar dikenang. dia selayaknya manusia, tumbuh subur, tapi bisa juga kering lalu mati.

sadarilah, hidup tak selalu semulus paha ayam, situasi yang tidak diharapkan muncul pastilah melahirkan tuntutan. inilah saatnya kadang cinta juga butuh diuji, seberapa kuat ia berada dalam situasi apapun.

tak pelak, ketika akhirnya muncul tuntutan di sana dan di sini, cinta pasti akan kembali dipertanyakan, 'kamu cinta aku apa adanya atau ada apanya, sih?" yang begini ini yang berpotensi munculnya penyakit gamang dan komplikasi galau tingkat akut.

tapi faktanya, sebagian dari mereka di luar sana mengharap lebih dari pasangan tapi malas mengoreksi kekurangannya sendiri. enggan mengakui kelemahannya, dan lebih suka sibuk mencari kesalahan pasangan. "sebentar, bukankah cinta itu tentang kita, terus kalau aku yang berjuang sendiri, itu namanya apa?"

oke, cinta saja memang tidak cukup. itulah kenapa ungkapan 'jangan sampai dibutakan cinta', terdengar benar. perlu hati yang besar untuk menampung kenyataan perasaan yang ternyata tak seperti yang dimaui. ada yang pilih mundur teratur, tapi masih banyak yang mau dan sungguh-sungguh berjuang sama-sama untuk saling memperbaiki diri.

ada baiknya jangan 'membaca' tuntutan semata sebagai keterpaksaan,  siksaan dan derita. masih banyak yang pada akhirnya hidup lebih baik dengan masa depan yang cemerlang karena 'membaca' tuntutan pasangan dari sisi yang berbeda. jelas itu bukan sulap, bukan pula sihir. semata-mata karena cinta yang mendewasakan.

berarti benar dong apa kata teman saya, "selama tuntutan apapun dari pasangan masih bernada wajar dan itu baik, kenapa tidak?"

* untuk soal di atas saya setuju dengan Tulus


Monday, June 15, 2015

Angelina Sayang, Angeline Malang

Angelina Jordan
tubuh kecilnya dibalut dress putih, sepasang mata sayu miliknya cemerlang memancar haru. rambutnya digerai, sedikit berantakan. bahkan bernyanyi tanpa alas kaki, ia hadir menjadi dirinya yang tak biasa. lalu dengan menjentikkan tangan mungilnya, gadis kecil itu meminta band pengiring memainkan musik. 

Gloomy Sunday terdengar begitu naif saat dinyanyikannya - tapi, jika boleh ikut mengapresiasi, gadis itu berhasil  melampaui Billie Holiday, pendahulunya. Angelina, nama gadis itu - mungkin saja tak pernah membayangkan akan seterkenal sekarang karena sanggup mencuri perhatian juri.

gadis kecil Norwegia itu selayaknya kanak-kanak yang polos. mungkin seperti juga Kinar, putriku, yang gemar merajuk dan pernah marah karena mainannya direbut paksa. ya, karena kepolosan kanak-kanak adalah barisan wajah-wajah yang sanggup membuat kita menaruh haru. membelai nurani kita untuk mengasihi. tapi kadang memang tak selalu begitu.

ada mereka di luar sana, menyebut dirinya sebagai manusia tapi sifat ke-manusia-annya mengalami krisis akut. ada mereka yang dekat memberi hangat tapi tajam mengintai. merenggut paksa kepolosan itu. bahwa yang polos cenderung lemah lalu lebih mudah dibinasakan.

kali ini pusat itu tertuju pada  Angeline. miris, yang kita dapat di negeri sendiri. kepergian Angeline yang terlalu cepat amat disayangkan. ia dielukan, dikasihani justru karena jasadnya telah ditemukan.
bukan kesengajaan, Angelina dan Angelina punya nama yang hampir mirip, usia yang sebaya dan sosok yang sekilas mirip. meski nasib dan takdir tak membawa mereka pada jalan yang sama.

Angeline

Angelina dilimpahi hidup yang begitu mudah terbalik menyenangkan. tapi tidak pada Angeline.
dilahirkan dalam kondisi ayah ibu yang papa, Angeline menjalani takdirnya. begitu ironis, rasa percaya dan harapan yang ditanamnya, dimatikan begitu saja oleh orang-orang terdekat - keluarga yang pernah mengangkatnya dari jurang kemiskinan.

Angelina dan Angeline ibarat dua sisi mata uang. keduanya tak pernah ingin memilih akan jadi seperti apa.  Angeline pergi karena hidupnya suram, dan Angelina menyanyikan kepahitan itu untuknya.

Angelina selayaknya kanak yang dihujani dukungan orang tua, dilimpahi kasih sayang berwujud hati lembut yang dirajut bersama doa di setiap langkahnya. sayang, semua itu hanya sebatas harapan yang terkubur bersama mimpi abadi Angeline.

Angeline telah tiada. dan simpati menderas dari segala arah. masyarakat berduka tapi ujungnya lalu sibuk menyalahkan pihak lain adalah menggelikan. ya pantas, karena memang selalu mudah memberi cap buruk pada orang lain.

tapi, sebenarnya sudahkah kita belajar dari kisah pilu Angeline. jujur, mungkin saja kita pernah tidak sengaja melontarkan intimidasi verbal dan mental pada buah hati sendiri. tapi terlambat kita sadari, kita sudah menciptakan generasi rapuh dan gloomy.

lantas, masihkah akan ada Angeline lain di luar sana yang terancam di lingkungan terdekatnya sendiri? semoga jangan.


Tuesday, March 17, 2015

DJ Perempuan, Sekadar Sensual di Belakang Turntable?

DJ Delizious Devina
Kota metropolitan di malam hari makin semarak ketika night club mendongkrak semangat para pecinta pesta untuk tetap melek sampai pagi. DJ menjadi bintangnya. Dan kita cukup tahu, dulu DJ Riri, DJ Winky atau DJ Bone menjadi raja di belakang turntable mereka.

Mempekerjakan mereka tidak murah karena mereka telah mengumpulkan penggemar setia yang mengikuti ke manapun mereka berputar. Untuk sementara waktu, DJ laki-laki mendominasi pemandangan. Tapi sekarang tidak lagi. Perempuan mulai mengambil alih turntable.

Ya, Disc Jockey (DJ) bukanlah suatu pekerjaan formal jika mau dibilang begitu, karena memang tidak mengenal jenjang karir. Dulu, kita hanya tahu turntable (alat pemutar electro music) hanya dimainkan pria.

Namun, tak dipungkiri gemerlap dunia malam kota metropolitan adalah milik mereka yang mencintai kebebasan, semangat dan gairah hidup. Tak hanya pria, perempuan juga berada di sana.

Mereka datang menyemangati para pecinta party yang have fun go mad on the dance floor. Bergaya seksi, melecut gairah, DJ perempuan memutar musik dari turntable yang mereka mainkan. Dan, dunia malam menemukan atmosfer barunya. Segar dan penuh gairah.

Kata pria

Pemain perempuan di belakang turntable jelas lebih menarik, karena sensualitas yang dimilikinya. Wayang, produser musik mengatakan, "perempuan terjun di dunia DJ hanya memanfaatkan peluang, karena dunia malam butuh sosok pengantar fantasi."

Namun, Wayang khawatir banyak dari DJ perempuan sebenarnya tidak terampil memainkan turntable, "DJ perempuan kebanyakan hanya memanfaatkan turntable sebagai ilustrasi. Apalagi bagi penyuka musik pasti tahu betul beda musik olahan DJ dengan yang hanya sekedar mencari sensualitas."

Sementara menurut Ryan, pengunjung klub sebenarnya tak terlalu ambil peduli soal kualitas DJ perempuan, "Apakah kita benar-benar peduli tentang jenis musik yang mereka mainkan saat kita mabuk?"

Dia menambahkan salah satu alasan mengapa DJ perempuan yang mendapatkan tempat untuk beratraksi saat ini adalah karena daya tarik seksual mereka.

Lain pula apa yang dikatakan Pradhika Ahardi. Pria yang sudah menggeluti dunia DJ lebih dari lima tahun itu mengaku tidak merasa terancam dengan semakin menjamurnya DJ perempuan di berbagai klub. Ia percaya pada akhirnya DJ yang sukses akan dinilai berdasarkan pengalaman dan kualitas pekerjaan mereka.

"Beberapa DJ perempuan hanya beruntung memiliki sesuatu yang tidak dimiliki DJ laki-laki, yaitu aset fisik. Tapi yang terpenting, mereka juga harus terus belajar teknik memainkan turntable."

Mia Moretti, salah seorang DJ perempuan yang sudah terkenal di negaranya mengatakan untuk menjadi sukses dalam dunia DJ yang digelutinya saat ini, ia terus menantang dirinya untuk menjadi yang lebih baik dan tidak membandingkan diri dengan orang lain.

Dalam pengakuannya, seperti dilansir dari marieclaire.com, dirinya sadar ada beberapa orang yang meragukan kemampuannya sebagai DJ. "Mereka (para pria, red) hanya melihat karena saya seorang perempuan, tidak lebih dari itu. Sayang sekali," ungkap Mia.

Mia membagi nasehatnya untuk perempuan-perempuan yang bercita-cita menjadi seorang DJ, "Banyak berlatih. Kamu harus menjadi master dari turntable yang kamu mainkan. Jelajahi genre musik baru, temukan band-band baru, dengarkan DJ lain. Lakukan sesuatu setiap hari untuk menjadi lebih baik."

Stigma negatif

Saat ini, sebagian besar klub-klub mulai banyak meng-hire DJ perempuan karena tahu bahwa mereka adalah aset terbaik untuk menyedot lebih banyak pengunjung klub. Itu karena DJ perempuan pintar berdandan, dan tak pernah tampil membosankan.

DJ perempuan dianggap lebih baik dalam sinkronisasi diri dengan musik yang diputarnya. Mereka, (DJ perempuan, red) juga tidak malu menari dengan para clubbers.

Sementara Anita, yang dikenal dengan nama panggung DJ Anita Liang mengatakan, karena pengunjung klub lebih banyak didominasi laki-laki, "dan mereka semua ingin melihat wanita cantik," kata DJ asal Semarang itu.

Kalau sudah begini, DJ perempuan lantas hanya dianggap sebagai pusat perhatian yang mengumbar sensualitas. Anita berpendapat, "Saya pikir wajar jika saya berdandan, karena saya perlu untuk terlihat bagus, karena saya menjadi pusat perhatian."

Tak ayal, wanita dan dunia malam memang sudah terikat erat dengan stigma buruk. Narkoba, merokok, seks bebas. Anggapan miring itu tentu saja juga pernah menghampiri Devina, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung DJ Delizious Devina.

Dia pun menepis stigma dunia malam identik dengan hal negatif, seperti akrab dengan narkotika dan obat-obatan berbahaya. Ia cukup membuktikan diri bahwa anggapan buruk orang terhadap dirinya adalah salah besar.

Terbukti, ia mampu menorehkan prestasi di dunia DJ dengan menyabet gelar Best Local DJ Performance Beat Magazine 2006 dan Best Female DJ Redma Awards 2009, serta sederet prestasi lainnya. Devina juga telah menghasilkan beberapa karya lagu dari hasilnya 'nge-DJ', yang bisa dinikmati di laman pribadinya, djdeliziousdevina.com.

Hal ini menjadi pembuktian buah dari konsistensi Devina dalam mengejar mimpinya di dunia DJ. Wajar saja, jika sekali manggung bayaran Devina mencapai jutaan rupiah. Bahkan untuk special event bisa sampai puluhan juta rupiah.

Sementara, rekan Devina yang juga pentolan Duo Ratu, Maia Estianty lebih memilih menjadikan dunia DJ sebagai hobi saja. "DJ itu  hanya hobi dan kalau ada yang menanggapi aku terima job-nya, aku juga berangkat bukan untuk mencari uang," ujarnya.

* pernah diunggah di sini