Sunday, December 09, 2018

Kenali Dulu Baik Buruk "Game"

Saat bermain game bagi anak-anak adalah aktivitas yang menyenangkan. Apalagi kini, banyak game tersedia dalam berbagai variasi, mulai dari game komputer dan game online, dari perangkat nintendo, sega, hingga yang paling canggih, playstation, ps2 dan xbox. Tampilan game yang seru dan menarik, bahkan sanggup membuat anak-anak terpukau dan kecanduan.

"Dalam keadaan berkonsentrasi hingga terpukau, misal saat bermain game, gelombang alfa pada otak dalam keadaan aktif. Ini tentu saja memudahkan informasi yang tertangkap menjadi lebih cepat terserap," ungkap bunda Wening, konsultan anak dari As-Syifa Institute.

Selain game memiliki efek positif, yaitu melatih kombinasi gerak mata, tangan dan otak, hingga melatih kemampuan anak untuk fokus dan berkonsentrasi, ternyata game juga menyumbang efek negatif bagi perkembangan anak. "Apalagi game online ya, banyak sekali menampilkan kekerasan, pertarungan berdarah-darah hingga pakaian yang kelewat seronok," imbuh bunda Wening, yang merasa prihatin dengan efek negatif yang ditularkan game pada anak-anak.

Kecanduan anak terhadap game membuat anak cenderung apatis (cuek) terhadap lingkungan, dan terbiasa menjadi pengendali (controller). "Apalagi saat ketauan kalah bermain, si anak bisa dengan mudahnya mengatur kapanpun dia bisa menang," jelasnya lagi. "Hal ini membuat anak cenderung tak mau kalah, tidak boleh kecewa bahkan gagal. Yang artinya, anak harus mendapat apapun yang diinginkannya," tambahnya. 

Kadang tak disadari anak-anak, game sebenarnya telah mengendalikan mereka sedemikian rupa, "ya seakan-akan game telah berubah menjadi tuan mereka," jelas bunda Wening. Namun, ditambahkannya lagi, hal ini tak terlepas dari peran orang tua juga sehingga anak-anak menjadi kecanduan bermain game. 

Disaat orang tua sibuk dan meminta waktu untuk diri mereka sendiri, dengan mudahnya mereka menyuruh anak-anak untuk bermain game saja. Misalnya, bunda Wening memberi contoh, "Mama lagi sibuk nih, sudah sana main game saja." Sayang, keinginan anak membeli PS atau bermain game ini tak diikuti pula kesediaan orang tua untuk bertanya terlebih dulu tentang apa manfaat dan kerugian anak-anaknya bermain game," jelas bunda Wening, gamblang.

Apalagi seharusnya ada kesepakatan antara anak dan orang tua saat membeli perangkat video game (misal, PlayStation). Hal ini agar orang tua tahu jelas manfaat dan segi efektivitas dari game tersebut. "Jangan sampai anak-anak kehilangan waktu untuk makan, beristirahat, juga tidak bisa mengatur waktu belajar mereka," ungkap bunda Wening. 

Bunda Wening menyarankan agar penggunaan komputer atau internet di rumah, sebisa mungkin diberi "pengaman", sekuritas password, sehingga anak-anak lebih terkendali dalam menggunakan komputer di rumah. Selain itu, orang tua juga perlu mengendalikan uang saku putra-putri mereka, "ini berlaku jika anak menyukai bermain PS di rental PS," mengingat ada beberapa kasus, anak-anak yang tak takut mencuri uang orang tuanya demi bisa bermain PS.

Jika sudah terlihat kecanduan nge-game, orang tua bisa mengalihkan si anak dengan menawarkan kegiatan lain yang lebih menarik, misalnya les musik. Dijelaskan bunda Wening, hal ini untuk memberikan pandangan pada anak bahwa tak hanya game yang terlihat menarik dan seru, tetapi kegiatan lain juga sama serunya.

Saat anak-anak merajuk minta dibelikan video game, ajak mereka berdiskusi lebih dulu. Bunda Wening mencontohkannya dengan konsep AMBAK, yang artinya "Apa Manfaatnya Bagi Aku?". Beri anak kesempatan mencari sendiri jawaban atas pertanyaan yang harus mereka jawab. Misalnya saja, mintalah mereka menyebutkan lima manfaat dan kerugian bermain game. 

Hal ini dipercaya membantu si anak melatih kemampuan mereka berpikir dan menganalisa tentang baik dan buruknya segala hal yang sedang mereka sukai. Bahkan menjadi tugas dan kewajiban orang tua dan guru untuk menerapkan konsep belajar yang menarik. "Kembangkan dalam pola pikir mereka, bahwa belajar pun sama menariknya dengan bermain video," ungkap bunda Wening. 

Jadi, jangan sampai akibat keinginan orang tua menyenangkan hati si anak, berakibat pada perkembangannya, yang memunculkan lebih banyak efek negatif daripada efek positifnya. "Karena kemarahan yang kita luapkan pada anak sesungguhnya berawal dari ketidakmampuan kita (orang tua, red) dalam mencari solusi," pungkas bunda Wening, bijak.

*artikel suplemen anak "Junior"

Monday, December 03, 2018

Gadget, Perlu untuk Anak-anak

Gadget bisa menjadi barang yang kontra produktif bagi anak-anak jika dipergunakan dengan tidak benar. Alih-alih memperkenalkan teknologi, gadget malah bisa memberikan efek negatif.

Salah satu hal yang membuat gadget menjadi benda yang perlu diwaspadai oleh orang tua adalah suguhan koneksi internetnya yang semakin mudah. Ya, bisa diketahui, jaringan internet mampu menghubungkan siapun ke dunia informasi tanpa batas. Dan sangat tidak bijak jika pada kenyataannya, penggunaannya untuk anak-anak tidak dibarengi dengan pengawasan orang tua.

Bunda Wening, konseling anak dari As-Syifa Institute, mengungkapkan, "Gadget memiliki beberapa fungsi. Lihat dulu fitur dan konten yang disuguhkan. Apakah ada fasilitas untuk browsing internet, dan apakah menerima atau membalas sms di jam belajar malah mengganggu konsentrasi belajar?," ungkap bunda Wening bijak.

Pada sebuah seminar bertajuk "Pendidikan di Era Digital", bunda, demikian bunda Wening biasa disapa, mendapati survei yang mencengangkan. Diketahui pada beberapa provider tidak melakukan blocking pada situs-situs porno yang kemungkinan besar bisa diakses anak-anak tanpa sepengetahuan orang tua mereka.

Bunda mencontohkan, seorang anak laki-laki berumur 8 tahun yang ditemuinya, dengan polosnya mengaku pernah mengakses situs porno hanya dengan mengetik kata kunci pada laman pencarian. "Kata kunci itu sengaja disamarkan dari unsur seksual," jelasnya. Miris, "bahkan anak tersebut mampu mempersepsikan secara jelas visual sebuah kegiatan seksual," ungkapnya menggebu.

Sebuah riset yang pernah dilakukan, dijelaskan, menonton pornografi, ternyata lebih berbahaya dibandingkan efek mengonsumsi narkoba. Di mana kecanduan menonton pornografi mampu merusak lima bagian penting pada otak.

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan orang tua? Apakah bijaksana jika orang tua lalu membatasi atau bahkan melarang penggunaan gadget bagi anak-anaknya?, dan sudah benarkah, jika orang tua membebaskan anak untuk mengeksplorasi gadget tanpa pengawasan? 

Jamak, orang tua yang justru merasa biasa-biasa saja dan sama sekali tidak berminat untuk bergabung mendampingi anak-anak mereka yang mulai jauh memasuki dunia internet. "Ah, biar saja orang tuanya kuno, yang penting anaknya gaul," demikian pernyataan kebanyakan dari orang tua yang melihat anak-anaknya makin mencandu internet.

"Ini justru sebuah kesalahan terbesar dari orang tua yang mendidik anak di era digital, yang memilih tetap berpikiran kuno, ketinggalan jaman," ungkap bunda. Dan jawaban paling bijaknya adalah tidak menjauhkan gadget itu dari anak-anak, namun bersedia mendampingi mereka saat bersentuhan dengan gadget.

"Orang tua yang menyadari anak-anaknya mulai melek teknologi harus turut pula mengikuti arus perkembangan teknologi," imbuhnya. Bahkan, orang tua perlu terlibat saat memilihkan gadget untuk anak-anak mereka.

"Masukan dari orang tua untuk anak-anak saat memilih gadget adalah penting. Apa efeknya untuk mereka. Jika perlu saat memilihkan CD game, pilihkan tema yang edukatif, dan jika perlu ikutlah bermain bersama anak-anak," jelas bunda.

Perlu juga digarisbawahi adalah pentingnya dibuat kesepakatan antara orangtua dan anak atas penggunan gadget. "Ada MoU setelah gadget dibeli, dan rekomitmen bersama setelah gadget dipergunakan," ungkap bunda bijak. Bunda menganalogikan seperti pertanyaan 5W+ 1H. Apa yang disepakati bersama, kapan kesepakatan itu dimulai, dimana saja gadget akan digunakan, siapa saja yang menggunakan, dan bagaimana jika kesepakatan itu dilanggar.

Jangan ragu memberikan reward (hadiah) jika anak-anak bersedia mengikuti aturan main. Namun jika ternyata terbukti melanggar, "berikan punishment {hukuman} yang sifatnya membatasi kesenangannya," jelas bunda. "Hentikan segera akses menggunakan gagdet jika ternyata prestasi di sekolahnya merosot," imbuhnya memberi contoh.


Kembali menemukan harta karun yang berjejal ditumpukan email pribadi. artikel untuk keperluan suplemen anak-anak "Junior", dulu sekali. semoga masih bermanfaat :)

Thursday, November 29, 2018

Mengenal Cacar Air

Cuaca akhir-akhir ini yang tidak menentu, rentan munculnya berbagai macam penyakit. Salah satunya adalah penyakit cacar air, yang secara medis disebut varisela.  Umumnya cacar air diderita oleh anak-anak yang berusia di bawah 10 tahun dan lebih jarang menyerang orang dewasa. Hampir semua orang dewasa yang pernah mengidap cacar air tidak akan tertular lagi.

Cacar air yang disebabkan oleh virus varisela zoster ini dapat menular dengan sangat mudah dan cepat. Infeksi virus varisela Zooster, menyebar dari udara melalui saluran pernapasan dan adanya kontak dengan penderita cacar air.

Dr Edwina Winiarti, SpA, dari RS Columbia Asia Semarang, mengatakan, gejala cacar air terbagi menjadi tiga fase. Pertama, fase keluarnya ruam pada tubuh. Pada fase ini biasanya disertai demam, lesu, nyeri kepala, pilek, batuk sakit tenggorokan selama kurun waktu 2-3 hari.

Fase kedua yaitu fase erupsi, yaitu munculnya bintik merah berisi cairan (fesikel) biasanya dimulai dari daerah atas (wajah), kepala menyebar ke seluruh tubuh. Lalu, fase terakhir  yaitu tahap akhir cacar air. Pada tahap ini bintik merah berisi cairan akan pecah dan mengering (koreng)

Apabila anak timbul cacar air, perlukah vaksinasi cacar air untuk mencegah bertambah banyaknya bintik merah di tubuhnya? Dr Edwina menjelaskan bahwa vaksin varisela bekerja untuk mencegah tertular atau terkena cacar air. Apabila sudah terjadi cacar air, maka vaksinasi varisela tidak diperlukan. 

Lalu, bila anak pernah terkena cacar air, apakah perlu divaksinasi cacar air? Diungkapkan Dr Edwina, pemberian vaksin tidak perlu, karena setelah terkena cacar air maka tubuh akan dengan sendirinya membentuk kekebalan tubuh (antibodi) terhadap virus cacar air. Secara teori, anak yang sudah terkena virus varisela, tubuhnya sudah membentuk antibodi, sehingga tidak akan tertular lagi.

Sementara itu, apakah perlu adanya upaya pencegahan penularan virus apabila di dalam rumah atau sekolah ada penderita cacar air? Dr Edwina menjawab, selain menghindarkan anak dari kontak dengan penderita cacar air, upaya pemberian vaksin varisela juga bisa diberikan pada masa 96 jam setelah terkena kontak penderita cacar air. 

Perlu diwaspadai, penularan virus cacar air ini tak terkecuali bisa juga terjadi pada bayi di atas usia satu tahun. "Bayi bisa juga terkena cacar air yang tertular dari ibunya. Untuk itu, sangat dianjurkan pemberian vaksin varisela pada anak umur setahun sampai dengan umur delapan belas tahun. Vaksin diberikan satu kali seumur hidup," jawab Dr Edwina.

Cacar air juga rentan menyerang orang dewasa. Melalui informasi yang berkembang di masyarakat, cacar air pada orang dewasa lebih membahayakan. Itulah kenapa lalu banyak orang tua risau jika selama masa kanak-kanak, buah hati mereka belum terkena cacar air. "Tidak ada masalah apabila selama masa anak-anak belum terkena cacar air, karena kemungkinan tidak ada yang menulari, dan daya tahan tubuh anak bagus," jawab Dr Edwina.

Meski tidak ada penanganan khusus untuk mengobati cacar air, namun perlu diwaspadai jika cacar air timbul disertai komplikasi. Dr Edwina menjelaskan, biasanya pneumonia (sesak napas) dan daya tahan tubuh tidak bagus, maka akan memengaruhi proses penyembuhan cacar air. Apalagi bila ada penyakit sebelumnya misalnya anak dengan penyakit leukimia. Obat-obatan yang diberikan biasanya akan menurunkan daya tahan tubuh sehingga membuat tubuh rentan terhadap virus. 

Lalu, bagaimana upaya penyembuhan setelah terkena cacar air? Dr Edwina menerangkan, secara umum cacar air akan sembuh dengan sendirinya, tanpa perlu penanganan medis. Penyembuhan cacar air tidak memerlukan pemberian antibiotik, kecuali perlu ada pemberian obat untuk infeksi sekunder pada tubuh. Namun, semua tergantung dari daya tahan tubuh masing-masing anak.

Ia menandaskan, yang terpenting adalah bagaimana memperbaiki daya tahan tubuh penderita cacar air. Melalui konsumsi makanan yang bergizi, dan istirahat cukup. Obat-obatan juga bisa diberikan untuk keluhan (simptomatik) yang menyertai, misal batuk, pilek, atau demam. Selain itu juga vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Hindari anak menggaruk bintil cacar air karena dapat meningkatkan risiko infeksi dan menyisakan bekas luka yang dalam (bopeng). Membungkus tangan dengan sarung tangan atau kaus kaki saat tidur juga dapat mencegah garukan, terutama pada anak-anak. Losion, bedak kalamin, atau mengonsumsi chlorphenamine (cocok diminum anak-anak berusia satu tahun atau lebih) juga meringankan gatal-gatal di tubuh. 

Dr Edwina menandaskan bahwa anggapan masyarakat selama ini bahwa penderita cacar air tidak diperbolehkan mandi, adalah salah. Penderita cacar air justru diperbolehkan mandi untuk menghindari gatal yang berlebihan. Karena keringat yang mengandung kuman penyakit justru mencetus munculnya bintik-bintik baru, dan gatal.